20 Tahun Bermusik, SID Enggan Disebut Legenda Hidup

SID2

Superman Is Dead: Jerink, Eka, Bobby

LEGENDA hidup, kata itu sempat dimunculkan sejumlah pihak ketika menyebut nama Superman Is Dead (SID). Genap 20 tahun berkiprah di dunia musik, Ada banyak hal yang melatarbelakangi munculnya sebutan itu. Namun SID sendiri “tidak bangga” bahkan enggan, cenderung menolak jika disebut sebagai legenda hidup.

Bagi personelnya, Bobby (vokal, gitar), Eka (bass) dan Jerink (drum), sebutan itu terlalu “berat”. Seorang atau satu grup disebut legendaris kalau melakukan sesuatu yang hebat, dikenang banyak orang. “Taruhlah kalau bisa menghentikan atau membatalkan reklamasi Teluk Benoa, barulah layak disebut legenda,” ujar Jerink dalam kesempatan ngobrol santai mengupas buku biografi SID yang diberi judul “Rasis, Pengkhianat, Miskin Moral” di Rumah Sanur – Creative, Kamis (20/8).

Ketika ditanya lebih lanjut, apakah jika reklamasi Teluk Benoa dibatalkan baru mau disebut legenda, Jerink langsung mengklarifikasi. “Misalnya, contohnya seperti itu. Dari sudut pandang tersendiri bisa jadi begitu,” katanya sembari menegaskan kembali, menyandang gelar legenda itu berat, tanggung jawab nya besar.

Di hadapan puluhan teman musisi, seniman, kerabat, penggemar, pun wartawan serta pengamat seni dan budaya yang hadir malam itu, personel SID dan Rudolf Dethu (eks manajer yang kemudian menyusun buku SID) ngobrol santai, mengenang kembali banyak pengalaman menarik sepanjang kiprah SID sembari tertawa lepas. Meskipun disebut sebagai biografi, Dethu tak memungkiri ada sedikit bagian dari riwayat SID yang “disensor” karena tak mungkin diekspos secara umum. “Tapi apa yang terangkum dalam buku, sudah sangat representatif untuk menggambarkan bagaimana SID dan kariernya dalam bermusik,” tegasnya.

SID memang tak hanya fenomenal di scene musik indie di Bali. Band indie Bali yang pertama dikontrak penuh untuk rekaman nasional oleh label ternama ini juga menjadi fenomena tersendiri di kancah nasional. Setidaknya ada tiga hal yang kemudian berkembang menjadi kontroversi, yang disadari atau tidak akhirnya malah membesarkan dan makin menguatkan band ini. SID pernah diisukan rasis dengan tuduhan menggemarkan ucapan “fuck Java”, hingga berujung kericuhan dalam beberapa penampilan mereka di sejumlah daerah di Jawa. SID juga dicap sebagai “pengkhianat”, setidaknya dari komunitas musik indie (baca punk) karena memutuskan untuk “bermesraan” dengan major label yang kemudian mengantarkan band ini besar secara nasional. Tak kalah jadi gunjingan, gaya dandanan dan tingkah laku personel SID yang kemudian tak sedikit diikuti penggemarnya.

Ketiga “kontroversi” yang dianggap sempat melemahkan bahkan nyaris memastikan karier bermusik SID itulah yang dipaparkan dalam buku biografi SID yang diluncurkan dalam tiga acara berbeda. Setelah menggelar acara peluncuran diikuti bincang-bincang sembari menikmati sunset di atas kapal boat, 18 Agustus lalu, dua hari kemudian diikuti Kobiku (kongkow bincang-bincang buku) di Rumah Sanur – Creative. Puncaknya, SID akan tampil di Hard Rock Cage Bali, Kuta, Jumat (28/8) mendatang dalam gelaran “Hometown Riot”. Akan tampil pula The Dissland, Begundal Lowok Waru, turut didukung Melanie Subono, Dankie “Navicula”, Prima “Geeksmile” dan Joni Agung. *231