Jelang 20 Tahun, SID Ingin Bikin Buku

SID

Superman Is Dead (foto: www.facebook.com/SupermanIsDead.Bali)

MENJADI grup band yang tetap bertahan puluhan tahun, tetap eksis dan banyak penggemar, bukanlah hal yang mudah. Jangankan untuk ke tingkat nasional, untuk level lokal Bali saja, tak banyak band yang bisa berumur panjang. Di Bali tiap saat banyak muncul grup band indie, namun banyak pula yang hanya bertahan seumur jagung. Hanya sedikit yang tetap bertahan lama, bahkan dengan personel yang tetap sama.

Dari yang sedikit itu, Superman Is Dead adalah salah satunya. Tak terasa, kini hampir 20 tahun trio Boby (gitar, vokal), Eka (bass, vokal), dan Jerinx (drum, vokal) sudah menunjukkan kreativitas mereka dalam bermusik. Dari band indie yang penggemarnya segelintir, hingga menjadi band nasional yang punya banyak penggemar setia, semua telah dilalui.

Lalu apa rencana SID menjelang 20 tahun perjalanan mereka? “Mau bikin buku, itu yang paling siap untuk akan dilakukan. Yang lainnya ingin tur ke luar negeri lagi, ke Eropa, Cuma belum digodok secara intens, memang sih sudah ada pembicaraan kecil untuk itu,” tutur Jerinx kepada mybalimusic.com di Denpasar belum lama ini.

Apakah ada rencana menyiapkan rekaman album baru, sekaligus sebagai album special 20 tahun SID? “Wah, kalau album baru kayaknya masih lama ya … Apalagi mengingat album terakhir kami Sunset di tanah Anarki masa edarnya masih panjang, running-nya masih lama, paling nggak tiga tahun. Sekarang ini kan baru jalan setahun,” jelas Jerinx.

Mengomentari sedikitnya band di Bali yang berumur panjang, atau sulit untuk tetap eksis dan konsisten berkarya, ditengarai Jerinx karena kebanyakan dari band tersebut kurang “nekad”. Maksudnya, tidak mau habis-habisan dalam memperjuangkan kebersamaan dan berjuang untuk mengangkat keberadaan mereka. “Kalau konsep, saya yakin semua band punya. Mereka hanya kurang habis-habisan, selain itu nggak punya publicist yang andal,” tambahnya.

Mengenai publicist atau orang yang secara khusus menangani urusan publikasi, SID misalnya dulu sangat dibantu oleh Rudolf Dethu. Ketika sekarang setelah tidak lagi dengam Dethu, Jerinx turun tangan sendiri. “Nah, orang seperti Dethu itu yang diperlukan, selain pandai mempropagandakan bandnya, juga tahu mengemas bandnya mau menjadi seperti apa. Jadi yang dibutuhkan nggak cukup kuat bermusik saja. Ya coba lihat, dan kami akui, di SID skill kami pas-pasan, hehehe … tapi karena dari awal sudah benar cara menangani, dan Dethu seorang propagandis yang jago, tahu bagaimana mengemas agar SID terlihat seperti apa di publik, ya jadilah. Ini yang masih kurang di kebanyakan grup band,” urai Jerinx panjang lebar.

Walau hampir 20 tahun menjalani kebersamaan di SID, Jerinx mengaku tak pernah merasa jenuh atau kehabisan ide mau diapakan lagi band ini. Sebaliknya, ia bersama Boby dan Eka berpikir masih ada banyak sekali yang bisa dilakukan. Misalnya saja terkait dukungan terhadap gerakan tolak reklamasi, yang sebelumnya tak pernah terbayang akan dilakukan oleh personel SID. Dalam anggapan Jerinx, sepertinya belum ada band yang pernah melakukan satu movement, pergerakan yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat luas.

“Jadi nggak ada kesan jenuh. Apalagi kalau soal inspirasi bikin musik, bikin lagu, nggak ada habis-habisnya. Kami sudah bersama hampir 20 tahun, rasanya seperti baru 5 tahun saja, sing med-med (nggak bosan-bosan-red.)” tukas Jerinx sembari tertawa.

Dalam benak Jerinx, ada begitu banyak pengalaman, suka duka yang telah dilalui bersama SID selama ini. Namun yang paling berkesan dan paling diingat tentu saja apa yang dicapai dalam setahun ini, ketika di tahun 2014 SID meraih tiga penghargaan berturut-turut, sebagai Group/Band/Duo Of The Year (NET TV, Mei 2014), Readers’ Choice Awards (Rolling Stone Indonesi, Mei 2014), Duo/Grup Rock Terbaik (AMI Awards, Juni 2014). “Jelas ini satu kebanggaan, di tahun ini kami dapat award berturut-turut untuk album Sunset di Tanah Anarki. Padahal album ini harus diakui konten nya berat, kami sempat berpikir susah untuk menjualnya,” kesannya.

Sepanjang kiprahnya, SID yang di awal pemunculannya di tahun 1995 sempat memakai nama Superman Is Silver Gun sudah merekam sejumlah album. Di luar album indie di Bali, SID yang go national setelah digaet Sony Music Entertainment Indonesia, menghasilkan lima album, “Kuta Rock City” (2003), “The Hangover Decade” (2004), “Black Market Love” (2006), “Angels and the Outsiders” (2009), dan “Sunset Di Tanah Anarki” (2013). Selain itu mereka juga merilis album lagu-lagu terbaik SID sepanjang 1997-2009 dalam bentuk vinyl dengan judul “The Early Years, Blood, Sweat and Tears”. Selain itu S.I.D juga ikut mendukung kompilasi lagu anak karya A.T. Mahmud dengan membawakan lagu “Aku Anak Indonesia” (2011). *adn