Jerinx SID : Menginspirasi Generasi Muda Lebih Kritis

jerinx

NAMA Gede Ary Astina atau lebih dikenal sebagai Jerinx, belakangan tak hanya lekat dengan aktivitasnya sebagai drummer grup Superman Is Dead (SID). Sebagai salah satu musisi yang peduli lingkungan, saat ini ia pun tengah terlibat gerakan sosial di komunitas ForBali, yang gencar menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Bukan sekadar mendukung, Jerinx juga ikut turun langsung dalam sejumlah aksi damai yang dilakukan. Tak perlu disebut sebagai pahlawan pergerakan ini, Jerinx hanya berharap gerakan yang penuh risiko ini dapat menginspirasi generasi muda di mana saja untuk lebih kritis. Bagaimana pandangan Jerinx terhadap “perjuangan” ini, apa yang mendorongnya mau bersusah payah untuk terlibat, hingga tantangan lain yang harus dihadapi, berikut penuturannya dalam bincang-bincang dengan mybalimusic.com, Rabu (10/9) sore.

Belakangan Anda intens di gerakan sosial peduli lingkungan, salah satunya yang sedang berjalan, gerakan Tolak Reklamasi. Mengapa seorang Jerinx mau susah-susah ikut gerakan semacam ini?

Problemnya begini, mungkin karena pengaruh sedari kecil saya tinggal di Kuta, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Bali Selatan yang dulu cantik alami, orangnya ramah dan sopan, pelan-pelan berubah, digerus industri, arahnya menjadi peradaban yang “palsu”. Jadi daerah Bali Selatan sudah seperti “plastik”, sisi-sisi kemanusiaan kian terkikis.

Kalau saya amati salah satu penyebabnya orang Bali yang koh ngomong, apa lah yang dikatakan orang lain, apa lah yang dikatakan penguasa, tetap oke, walau sesungguhnya dalam hati tidak terima. Paling kemudian di belakang baru ngomong, dengan teman atau keluarga. Sementara kalau untuk berbuat sesuatu yang kongkrit, yang nyata untuk meng-counter masalah tersebut, tidak ada.

Anda merasakan bagaimana susahnya meyakinkan masyarakat, orang Bali, akan gerakan yang dilakukan ForBali?

Sikap koh ngomong mulai bisa kami sedikit lunturkan, walau makan waktu1,5 tahun lebih. ForBali sudah dimulai sejak akhir 2012, dari masalah Jalan Tol di atas Perairan (JDP), masalah hutan bakau. Dari awalnya demo 25, 30 orang,  diketawain orang, sekarang pelan-pelan, mungkin karena masyarakat terus kami beri informasi, tentunya informasi yang bukan bohongan, tetapi fakta, akhirnya sikap koh ngomong mulai berubah. Kami pahami untuk melakukan brainwash, mengubah mindset masyarakat nggak bisa instan, harus pelan-pelan.

Apa yang Anda rasakan, atau apa yang Anda dapatkan dari keterlibatan di gerakan sosial semacam ini?

Apa yang saya dapat dari repot-repot turun ke jalan, ikut gerakan sosial, ambil risiko, Tidak Ada!!! Yang akan didapat nanti, jika gerakan ini berhasil, dampaknya luar biasa. Karena boleh dikatakan saya tak tahan melihat Bali Selatan dijadikan “kerjaan” oleh penguasa, nggak pusat nggak daerah, siapa yang punya uang, punya power, bebas mau melakukan apa saja, silakan, nggak peduli alam akan hancur, masyarakat terpinggirkan. Jadi kalau ditanya saya dapat apa dari perlawanan ini? Saya nggak dapat apa-apa, paling saya dapat musuh, banyak dibicarakan orang, atau malah ditertawakan.

Termasuk oleh orang-orang dekat Anda?

Kalau orang-orang dekat tidak, meskipun dengan bapak sendiri, saya berseberangan. Kalau ibu saya setuju dengan apa yang saya kerjakan. Bapak saya memang tidak setuju, tapi mengerti, dan respek dengan apa yang saya kerjakan.

Sering berdebat kala beda pandangan dengan ayah Anda?

Sering, sama bapak, beliau yang beda pandangan dengan saya, terutama pandangan politik. Yang saya harapkan dari apa yang saya lakukan di gerakan ForBali, jika, mudah-mudahan Tuhan merestui, perlawanan rakyat ini berhasil melawan kekuatan uang, maka dapat menginspirasi generasi selanjutnya, bukan hanya Bali, tetapi seluruh Indonesia. Jadi akan menginspirasi generasi muda untuk lebih kritis.

Kabarnya gara-gara terlalu vokal dan terlibat di gerakan Tolak Reklamasi, Anda sering dicari dan dibuntuti intel?

Yang namanya intel, aparat, ada saja orang aneh-aneh yang datang.

Anda sadar, tahu kalau dipantau?

Saya dapat informasi dari sataf saya, ada orang berperawakan seperti aparat datang, nanya alamat rumah saya di mana, nongkrong di tempat kerja saya.

Pernah menghadapi tekanan atau ancaman secara langsung?

Kalau yang langsung ke saya nggak ada. Cuma ada beberapa kejadian yang kalau diikuti seperti kejadian di Malang, mengarah ke sana. Waktu insiden penyiraman air keras yang menimpa personel Saint Loco di Malang beberapa waktu lalu banyak saksi mengatakan, di hotel, sebelum kejadian ada beberapa orang masuk dan bertanta di mana hotel tempat SID nginap? Apakah itu bisa dikatakan salah sasaran, mungkin begitu. Karena mereka nanya hotel tempat SID menginap, lalu kenapa yang diserang bukan SID? Mungkin itu semacam peringatan, entah sengaja menyiram orang yang salah agar saya mendapat pesan yang ingin mereka sampaikan, agar saya takut.

jerinx2Sekarang dua personel Superman Is Dead lainnya, Bobby dan Eka juga turut mendukung gerakan Tolak Reklamasi. Apakah secara tak langsung Anda mempengaruhi mereka?

Kalau rekan-rekan saya cenderung jarang terlibat di dunia pergerakan mungkin karena mereka sudah berkeluarga dan sebagainya. Sebelumnya mereka sudah mendukung, hanya tidak intens, mungkin karena waktu itu berpikir, gerakan ini tidak terlalu penting, karena mereka tidak hidup di Bali Selatan, jauh dari keruwetan, industri yang ngawur, hingga secara emosional mereka tidak kena. Tapi lama-kelamaan begitu banyak STT (Sekaa Teruna-teruni) di Bali mendukung, sekarang rekan-rekan SID full mendukung.

Soal dukungan dari banyak STT di Bali dengan gerakan pemasangan baliho, bagaimana perasaan Anda?

Sampai saat ini sudah mencapai 130 STT yang ikut mendukung kami, dan itu menyebar melalui peran sosial media. Ya… saya cuma bisa berterima kasih ke sosial media dan media-media yang mendukung gerakan ini. Tanpa sosial media, dukungan semacam ini rasanya susah terjadi. Anak muda sekarang kan akrab dengan sosial media, nah, kami manfaatkan itu, karena kekuatan kami di sana, people power. Sementara kekuatan kaum yang pro reklamasi adalah uang, mereka mampu bayar selebriti, bayar bintang sepak bola Ronaldo.

Bagaimana dengan tudingan kalau Jerinx dan rekan-rekan SID mendukung serta terlibat dalam gerakan Tolak Reklamasi, sekaligus untuk mendongkrak popularitas?

Menurut saya, secara teori, jika dihadapkan kondisi industri musik Indonesia saat ini, kalau SID ingin lebih populer, gampang, sangat gampang. Kami tak perlu terlibat isu, pergerakan sosial yang berisiko bisa kehilangan nyawa, banyak musuh. Kami tinggal pindah ke Jakarta, lalu bikin lagu mellow, lagu cinta-cintaan, pacari seleb yang sedang terkenal, gampang dah ngetop. Nggak sombong, wajah kami bertiga nggak jelek-jelek juga kok. Itu sih kalau menurut saya secara teori, lalu kenapa harus mengatrol popularitas dengan cara taruhan nyawa seperti ini? Kami tinggal saja di Jakarta dua bulan, langsung masuk TV.

Atau jangan-jangan malah sebaliknya, gara-gara terlibat di gerakan seperti ini, malah ada penggemar yang jadi tidak suka lagi dengan SID, atau Anda jadi kehilangan teman, popularitas malah terancam?

Kalau yang seperti itu, ada. Terutama dari mereka yang tidak mengerti kasusnya. Terutama mereka yang tak paham kasus reklamasi. Kalau orang yang tidak terlibat di perjuangan, tidak mengikuti kasusnya, mereka tak berpikir jauh kalau grup band seperti SID angkat isu seperti ini akan punya risiko. Dari diincar peman, diincar aparat, mungkin juga pembatasan tampil, apalagi yang terlibat di dalamnya orang top, punya akses kekuasaan, dana besar. Jadi mereka yang tidak mengikuti kasusnya bilang, “baru tidak bisa masuk TV, ini yang dibuat biar ada saja”. Ngga apa-apa kami kehilangan orang seperti itu. Lebih baik kehilangan penggemar dari kehilangan tanah Bali, perbandingannya jauh ya? Hehehe ….

Sekarang orang luar Bali pun banyak yang simpati dan mendukung ya?

Itulah, kembali ke keuletan. Kami konstan dalam menyebarkan informasi, kami konstan memberikan pemahaman, bahwa ini tidak main-main, ini masalah serius. Tidak hanya Bali, di daerah lain juga banyak alam dikuasai.

Dalam penampilan di Jogjakarta beberapa waktu lalu, SID mendukung gerakan Jogja Ora Didol. Apakah itu dilakukan untuk memberi pemahaman bahwa SID tidak hanya berpikir kedaerahan, hanya memikirkan Bali saja?

Kami tak bisa hanya peduli Bali, karena penggemar kami banyak dan di mana-mana. Banyak yang komplain sebelumnya, kenapa kami cuma bicara Bali, sementara di daerah lain banyak kasus serupa. Yang bisa kami sampaikan adalah bahwa apa yang kami lakukan di Bali, jangan dipikirkan di mana kami berjuang. Pikirkan apa yang kami lawan, karena ini ada di seluruh Indonesia. Semoga apa yang kami lakukan di Bali menginspirasi penggemar kami teman-teman di luar Bali untuk melakukan hal yang sama terhadap musuh yang sama. Musuh kan tak harus orang yang sama, tetapi musuh kita adalah sifat, kerakusan penguasa, itu yang dilawan.

Jadi begitu cara kami menjawab, hingga akhirnya anak-anak di Jogja yang dulunya masih agak gamang, lalu semangat bikin gerakan Jogja Ora Didol. Baguslah, bayangkan di seluruh Indonesia, apakah di Lombok, Kalimantan, anak muda berani turun ke jalan dan bilang “tidak”. Kami sendiri tak perlu dibilang pahlawan. Karena kita di negara yang berkembang, harus ada yang memulai, mengawali. Nggak perlu kami disebut pahlawan segala macam. Ketika nggak ada yang memulai, yang nggak akan ada apa-apa. *Adnyana