AA Raka Sidan Makin Dekat dengan Penggemar

Sidan

AA Raka Sidan

BAGI seorang seniman termasuk penyanyi, menjaga dan memperlakukan penggemar dengan baik sangat perlu diperhatikan. Ini pula yang dirasakan AA Raka Sidan, sejak awal dikenal sebagai penyanyi dengan lagu “Suud Memotoh” lebih dari 10 tahun silam. Bahkan ia pun lebih suka menyebut istilah teman-teman daripada menggunakan kata fans atau penggemar. Dengan alasan ingin lebih dekat dan kenal secara langsung, ia pun membuka diri terhadap siapapun penggemar lagu pop Bali yang ingin berkunjung ke studio sekaligus kediamannya yang disebut dengan istilah “markas brerong”.

“Itu pula yang menjadi alasan, meskipun banyak yang berminat dengan merchandise seperti T-shirt yang saya buat seperti Brerong atau Buaya Caplok Alu, saya tidak mau membuka distro. Jadi kalau ada penggemar yang kepingin, bisa datang langsung ke rumah. Dengan begitu kami bisa saling kenal langsung, dan saya merasa lebih dekat dengan mereka yang sudah mendukung saya selama ini,” cerita penyanyi asal Sidan, Gianyar ini.

Bagi AA Raka Sidan, mendekatkan diri dengan penggemar menjadi salah satu cara mempertahankan eksistensinya hingga saat ini. Ia pun tak ingin karena dipandang sebagai seorang “artis” lalu merasa diri tinggi dan membatasi diri dengan teman-teman penggemar. Diumpamakannya, artis itu tak ubahnya “jabatan”, di mana saat ini ia sedang “mendapat tugas” menghibur masyarakat. Hingga satu saat tidak lagi “menjabat”, tentulah akan kembali menjadi seperti masyarakat biasa. Karena itulah dari saat ini ia tak ingin berjarak atau menjauhkan diri dengan masyarakat.

Meskipun harus menyediakan waktu untuk meladeni penggemar yang datang ke rumah apakah sekadar ngobrol, mencari T-shirt, atau foto bersama dan minta tanda tangan, pria kelahiran 27 Juni 1979 ini tidak merasa keberatan. Bahkan dari sana pula ia bisa merangkul, mengajak penggemar dari berbagai daerah di Bali untuk mendukung aktivitasnya. Salah satunya dengan bermunculannya “koordinator wilayah” brerong (sebutan untuk penggemar) di berbagai daerah di Bali.

“Saya tidak secara khusus membentuk, banyak juga yang muncul secara spontan. Dengan cara ini saya juga ingin memberdayakan mereka, bukan sekadar urusan pesan T-shirt saja misalnya. Lebih dari itu ada hubungan timbal balik, misalnya satu ketika ada kesempatan, saya yang datang mengunjungi mereka. Ini yang saya lakukan sebagai wujud nyata pertemanan,” jelasnya.

Dalam pandangan pria yang juga sering disapan Gung Sidan ini, ibarat satu pohon yang sudah tumbuh dengan baik, sekarang yang penting bagaimana merawat atau menjaganya, seperti itulah ia berusaha menjaga eksistensinya di blantika musik pop Bali. Untuk itu ia pun tak terlalu banyak pertimbangan jika ada masyarakat yang mengundangnya menyanyi bahkan untuk acara kecil seperti otonan atau acara telu bulanan. Baginya, inilah salah satu cara lebih mendekatkan diri dengan penggemar, tak berjarak seperti ketika tampil di panggung besar.

FILSAFAT DALAM LAGU. AA Raka Sidan awalnya dikenal sebagai pencipta lagu, terutama setelah karyanya “Somahe Bebotoh” yang dibawakan Dek Ulik booming. Hingga kemudian ia pun digaet Aneka Record untuk membawakan sendiri ciptaannya. Muncullah album “Suud Memotoh” (2005), “Pada-pada Ngalih Makan” (2007), “Pak Boss (2009), “Song Brerong” (2012) dan “Kenceng” (2015). Lalu sekarang apa lagi yang akan dipersiapkannya untuk lagu baru berikutnya?

“Wah, saya belum terpikir, sudah setahun ini belum terbayang mau bikin lagu apa. Karena biasanya ide untuk muncul secara spontan, tidak bisa sengaja atau direncanakan. Seperti lagu Buaya Caplok Alu, itu malah lagu yang paling cepat saya ciptakan, idenya muncul seketika saat ngobrol-ngobrol di studio Martinus,” ceritanya.

Menariknya, meskipun lagu-lagu ciptaannya muncul secara spontan, namun peria bernama asli AA Gede Raka Partana ini tak pernah lupa menyelipkan pesan-pesan moral. Pesan moral, filsafat kehidupan yang kemudian diterjemahkan ke dalam lirik-lirik lagu yang sederhana, menurutnya tak lepas dari latar belakang pendidikan yang ditempuhnya selama bangku kuliah di UNHI. “Kalau tidak mendapat kuliah, mungkin saya sendiri tidak bisa memasukkan unsur filsafat yang tertuang dalam lagu Song Brerong misalnya,” ujarnya sembari tersenyum.

Namun demikian Gung Sidan tak mau jika ciptaannya dibanding-bandingkan dengan karya pencipta lain kebanyakan saat ini, sebagai perbandingan antara karya yang berbobot dan tidak berbobot. “Lagu pop Bali yang manapun, bagi saya sama baik. Kalau diibaratkan ya seperti karya seni, patung, ada yang dibuat khusus untuk art shop, untuk apresiasi seni, ada patung yang dibuat untuk pasar seni atau toko oleh-oleh. Jadi kalau patung yang dibuat untuk dipajang di artshop memang lama lakunya, tetapi kualitasnya beda dan umurnya panjang. Kalau patung yang dijual di pasar seni, cepat laku dan cepat diminati, tapi tak bertahan lama. Nah, lagu pop Bali kira-kira juga seperti itu. Semuanya baik, punya pangsa pasar masing-masing,” paparnya.

Selain menyanyikan sendiri ciptaannya, hingga saat ini Gung Sidan juga masih cukup banyak “diburu” penyanyi lain untuk dibuatkan lagu. Meskipun ada yang berani membayar tinggi, namun ia pun tak sembarangan memberikan lagunya, namun akan mencoba mencarikan lagu yang pas sesuai karakter vokal dan kemampuan penyanyinya. “Saya menciptakan lagu untuk penyanyi lain, kalau kebetulan aktivitas saya berkurang. Jadi kalau misalnya intensitas manggung cukup padat, saya akan utamakan sebagai penyanyi dulu. Kalau sudah agak reda, baru saya banyak kesempatan untuk menggarap lagu untuk penyanyi lain,” tandasnya. (231)