Dan, Kisah Beribu Cinta itu Berlanjut ….

BMo2

Dialog Dini Hari (foto: Gus Wib)

ENAM tahun silam, ketika satu grup baru muncul di kancah musik indie Bali, banyak yang beranggapan grup ini hanya sekadar “eksperimen”, hanya sekadar wadah lain bagi personelnya untuk menumpahkan kreativitas beda dari grup masing-masing. Namun anggapan itu salah total. Enam tahun berlalu grup itu tak hanya masih kencang terdengar namanya, tak hanya masih solid formasinya, mereka malah terbilang konsisten untuk terus menghasilkan karya baru.

Ya, grup itu adalah Dialog Dini Hari (DDH). Grup yang bagi sejarah musik indie di Bali, menawarkan satu warna beda yang tidak (atau mungkin ketika itu belum) dijamah oleh grup lain, folk music. Di tengah kesibukan personelnya dengan project masing-masing, di tengah-tengah jadwal penampilan DDH yang terbilang “lancar”, grup ini dapat menyelesaikan rekaman penuh untuk album ketiga yang diberi judul “Tentang Rumahku”. Album yang diluncurkan secara resmi di salah satu kafe di Jakarta akhir Mei lalu ini, menyusul karya DDH sebelumnya, “Beranda Taman Hati” (2008), “Dialog Dini Hari” (2010), dan mini album “Lengkung Langit” (2012).

Bagi Dadang (vokal, gitar), Zio (bass), dan Denny (drum), album “Tentang Rumahku” menjadi satu percobaan baru untuk membagi cerita ke publik yang lebih luas tentang perasaan hangat dan tetap menjadi merdeka. Album ini juga merupakan kerja sama kedua DDH dengan Rain Dogs Records, sebuah perusahaan rekaman pendatang baru yang berbasis di Jakarta.

“Kami bertiga selalu ingin menjaga jarak dengan album sebelumnya. Kami selalu ingin menantang diri sendiri untuk membuat sesuatu yang sedikit berbeda, tapi tidak lari dari benang merah yang sudah dimiliki oleh band ini,” ujar Dadang.

Masalah “jarak” itu, Dadang menjelaskan jika album “Beranda Taman Hati”, “Dialog Dini Hari” dan “Lengkung Langit” menyuguhkan lagu-lagu bernada “manis” yang relatif mudah untuk disenandungkan bersama, maka “Tentang Rumahku” punya sedikit pendekatan yang berbeda.

“Sepanjang perjalanan, kita banyak bertemu orang, berinteraksi dan kemudian itu membentuk sekaligus menggugah keinginan untuk tetap mempertahankan jarak tadi dan menajamkan benang merah karya kami,” tambahnya.

Dadang tidak menafikan jika mungkin akan muncul banyak pertanyaan atas 11 materi lagu di album terbaru DDH ini. Terlepas dari itu, DDH ingin memberikan satu baru yang menjadi semacam refreshing kepada mereka yang mendengarkan album ini. Selain lagu “Tentang Rumahku” yang kental dengan karakter DDH selama ini, lagu easy listening yang bisa dinyanyikan bersama-sama ketika dimainkan di atas panggung, materi lainnya yang digarap dengan pilihan musik yang makin kaya ide seolah mengajak pendengarnya untuk turut serta berkendara menuju masa depan. Lirik yang digarap Dadang juga masih berkarakter sama dengan lagu-lagu DDH terdahulu, bisa kontemplatif, sesekali juga bisa adiktif, seperti yang tercermin dalam “360 Batu”, “Temui Diri”, “Dariku Tentang Cinta”, “Aku & Burung”, “Lagu Cinta”, “Di Balik Pintu”, ”Gurat Asa”, “Jalan Dalam Diam”, “Hiduplah Hari Ini”, dan “The Road”.

Di album ini pula, DDH mengajak sejumlah nama lain untuk memperkaya warna lagunya, seperti turut berperannya Kartika Jahja (Tika and the Dissidents) yang ikut menyanyikan “Lagu Cinta”, atau Ricky Surya Virgana (White Shoes and the Couples Company) yang mengisi cello untuk sejumlah lagu. Tak terkecuali tiupan suling dari Sa’at, musisi senior yang bermain untuk banyak musisi, termasuk bersama Dewa Budjana dan Nyanyian Dharma.

“Album ini seperti wujud perkumpulan energi yang dahsyat, yang sudah kami rasakan embrionya sejak kita bertiga menulis lagu bersama di album kedua. Momentumnya di sana. Saya sudah merasa kalau orang-orang ini adalah mereka yang akan diajak bermain untuk band ini. Sinerginya terus berkembang dan kami saling menantang satu sama lain ketika berproses kreatif,” jelas Dadang lagi.

Bagi Dadang, “Tentang Rumahku” adalah karya terbaik DDH selama ini dari segi eksplorasi. Di sini mereka benar-benar puas melakukan banyak hal yang diinginkan oleh tiga kepala ini, benar-benar merdeka. Dan, “salam kisah beribu cinta” yang menjadi trademark DDH pun terus berlanjut. *adn