Dialog Dini Hari Pemanasan dengan “Pralaya”

DDH2DIALOG Dini Hari (DDH), trio folk dari Bali digadang-gadang tampil beda dengan sesuatu yang baru di album ke-3 “Parahidup” yang akan dirilis 17 Juli mendatang. Namun sebelum itu, Dadang, Zio, dan Denny melakukan pemanasan dengan merilis salah satu single baru mereka, “Pralaya”.

Rentang waktu yang cukup lama dari album sebelumnya, “Tentang Rumahku” yang dirilis 2014 kiranya wajar membuat penggemar mereka bertanya-tanya apa lagi yang akan dibuat oleh DDH. Segala tanya itu akan segera terjawab. Single pertama “Pralaya” setidaknya memberi gambaran kreativitas terkini mereka.

Menurut Dadang alias Pohon Tua yang menulis lirik lagu ini, Pralaya bercerita tentang hari ini, tentang sesuatu yang sudah pernah terjadi ribuan tahun yang lalu. “Bahwa manusia memerangi, menghakimi manusia lain. Pada saat semuanya sirna nanti, kita mungkin menyadari bahwa kekuatan lain yang menghancurkan peperangan sesama manusia,” paparnya.

Dikatakan, segala macam nafsu manusia akan tunduk pada satu kekuatan besar alam jagat raya ini. Dengan memahami kedudukan manusia secara politik dan sosial individu itu sendiri, ternyata bisa mengubah watak manusianya. Ide menggarap “Pralaya” tak lepas dari berbagai referensi mulai dari

kisah dewa, kerajaan di masa lampau serta sejumlah artikel modern yang ditulis ulang oleh para sejarawan. Lagu ini sudah mulai bisa didengarkan di berbagai kanal musik digital sejak 26 Juni lalu. Sedangkan video klipnya baru akan tayang mulai 1 Juli nanti.

Sedikit bocoran album “Parahidup”, Dadang menyebutnya sebagai satu pencapaian baru dari segi artistik untuk masing-masing personel DDH. Di album yang melibatkan seniman asal Jakarta, Ruth Marbun utuk penggarapan artwork visual ini, DDH mencobakan menawarkan sebuah ajakan untuk mendengarkan batas-batas bermusik yang kami jelajahi secara individu.

“Di album ini kami mendobrak sekat-sekat mental “harus begini, harus begitu’ ketika berkarya. Kami sudah tidak peduli lagi, biar saja lepas. Bila perlu hingga tak terkendali,” kilah Dadang. (231)

DDH1