Motifora: Ketika “Ngalahin Gumi” Berbahasa Indonesia

Moti

Motifora sata tampil penuh keakraban dengan penonton dalam satu acara

MOTIFORA merilis satu lagu berbahasa Indonesia dengan judul “Tinggalkan Dunia”. Lagu ini sudah mulai diperkenalkan di media berbagi seperti Youtube. Sehari sejak diunggah, lagu ini sudah meraih kunjungan lebih dari 1.600. Apakah ini lagu baru di album terakhir Motifora? Sebentar, menyimak judulnya, terasa familiar …

Ya, “Tinggalkan Dunia” yang diunggah sejak 3 Agustus ini memang bukan lagu baru 100 persen. Dilihat dari judulnya, jelas ini adalah versi bahasa Indonesia dari super hit Motifora, “Ngalahin Gumi” yang pertama kali diperkenalkan ke publik awal 2015. Apakah versi bahasa Indonesianya ini memang sudah disiapkan sejak lama?

“Versi bahasa Indonesia sebenarnya baru saja dibuat. Itu pun karena banyaknya permintaan dari penikmat lagu Bali khususnya penggemar lagu Ngalahin Gumi dari luar pulau. Mereka bilang bahasanya tidak mengerti, hanya bisa menikmati nadanya saja. Karena itu kami coba buat versi bahasa Indonesia agar semua kalangan bisa paham dengan lirik lagu ini,” jelas Tunik, vokalis Motifora, ketika dihubungi mybalimusic.com, Jumat (5/8).

Untuk penggarapan “Tinggalkan Dunia”, Motifora bekerjasama dengan Harta Pro pimpinan Dek Arta, yang sekaligus menangani aransemennya. Tunik membantah ada target khusus dari rilis lagu berbahasa Indonesia ini, entah menyasar pangsa pasar nasional yang lebih luas atau lainnya.

“Tidak ada target, project ini hanya mempermudah para motifasi Motifora yang tidak bisa dan tidak mengerti dengan bahasa Bali supaya faham arti lagu ini. Tentunya memang agar lebih memudahkan kalau kami tampil di luar Bali,” tambah Tunik.

Berjalan dan tenang lah / Terbang tuju nirwana
Rasakan lah cahaya / Hiasi langkahmu…
Lihat lah dan rasakan / Bintang telah menantimu
Merebahkan mu di awan dalam keheningan

Begitulah hasilnya ketika “Ngalahin Gumi” dialihbahasakan, masih dengan ciri khas Motifora. Ketika ditanya apakah tidak ada kekhawatiran dengan lagu “Tinggalkan Dunia” akan makin kuat kesan di masyarakat yang menyebutkan karakter vokal Tunik mirip Ariel “Peterpan/Noah”, pun warna musiknya, Tunik hanya tertawa. “Ya kami syukuri saja, karena saya sendiri sebenarnya memang nge-fans dengan Noah maupun Ariel, dan sangat senang jika dibilang mirip suaranya. Namun demikian saya lebih berharap pendengar bisa merasakan karakter suara saya tanpa harus dibilang mirip dengan vokalis band ternama manapun,” pungkasnya.

Berasal dari desa Munduk, kecamatan Banjar, Buleleng, grup Motifora awalnya terbentuk dengan nama Motiforline di tahun 2009. Saat ini didukung formasi Tunick (vokal, gitar), Rheno (gitar melodi), Eri (bass), dan Anna (drum) Meskipun datang dengan latar belakang dan dasar bermusik yang berbeda-beda, namun keempat anak muda ini mencoba melebur dalam satu visi dan misi dalam bermusik, bagaimana menghibur dan menyenangkan masyarakat.

Grup yang memilih bermain di jalur pop rock alternative ini pernah penjadi finalis dalam ajang festival bergengsi yang digelar salah satu produk rokok, dengan masuk 12 besar seleksi area Bali-Nusra. Selain itu juga pernah menjadi 10 besar di Festival Gong 2010 yang digelar JTV Surabaya. Di kalangan penggemar lagu pop Bali, nama Motifora dikenal luas berkat sukses lagu “Ngalahin Gumi”. Awal 2016 lalu, sembari merampungkan album ke-2, mereka sempat merilis video klip “LDR” yang juga mendapat sambutan hangat. Hingga pertengahan tahun ini mereka merampungkan album kedua “Sang Dewi”. (231)