Anak-anak itu Wujudkan Pesona “PeterPan”

Peter3
Satu adegan pertunjukan musikal “PeterPan” garapan Staccato Bali

MENYAKSIKAN pertunjukan drama musikal, bagi saya  sesungguhnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Pun, bukan sesuatu yang baru. Pertunjukan drama, teater, di mana sebagian besar dialognya dilagukan atau berupa nyanyian, sudah beberapa kali saya saksikan sejak masih duduk di bangku SMA, saat saya turut bergabung dengan sanggar di sekolah. Begitu pula model drama musikal tradisional Bali seperti “arja” hingga teater yang dibuat anak sekolah atau kampus — yang sedikit banyak terinspirasi film musikal semacam “High School Music” – beberapa kali menarik perhatian saya untuk menyaksikannya.

Mungkin karena itu, ketika berkesempatan menyaksikan pertunjukan Soundwave in Paradise 2016 yang mengangkat drama musikal “PeterPan” di Gedung Bhumiku, Denpasar, 1 Oktober lalu, ekspektasi saya tidak banyak. Ya… paling segitu-segitu saja, terlebih pemerannya adalah anak-anak sekolah musik, tidak berasal dari kalangan teater atau sanggar drama. Baiklah, saya lebih fokus ingin melihat bagaimana kemampuan anak didik Staccato Bali dalam berolah vokal, sebagai sesuatu yang dari dulu menyenangkan buat saya : melihat orang menyanyi dengan suara yang bagus dan teknik yang benar.

Saat pertunjukan baru dimulai, saya menduga ekspektasi saya mendekati kenyataan. Pada bagian awal akting yang masih agak kaku, dengan dialog dalam bahasa Inggris, membuat saya tak begitu “tergoda”. Terlebih pertunjukan digelar dalam gedung yang memang bukan untuk pertunjukan, dengan deretan kursi ala seminar, sedikit menyulitkan penonton di bagian belakang untuk melihat dengan jelas seluruh adegan di atas panggung. Ah, sepertinya pertunjukan saya perkirakan berlangsung sekitar 1,5 sampai 2 jam akan berlalu datar-datar saja.

Nanti dulu. Begitu masuk sekitar menit ke-15, saat muncul sosok Peterpan yang menyelinap masuk ke kamar anak-anak keluarga Darling melalui jendela, suasana pertunjukan pelan-pelan menjadi lebih cair. Peterpan (yang saya belum tahu siapa pemerannya meski seharusnya saya sudah tahu karena saya memegang buku program lengkap dengan susunan pemeran), menarik perhatian saya. Bukan hanya karena aktingnya yang terkesan natural, gerak tubuhnya yang lentur dan sadar blocking panggung, yang utama olah vokalnya. Ya! Si Peterpan begitu memukau saat menyanyi.

Berangsur-angsur, pentas makin menggoda untuk diikuti. Terlebih lagi saat Peterpan mengajak anak-anak Wendy dan dua adiknya, John serta Michael terbang ke Neverland. Berkawan dengan anak-anak “badung tapi cerdik” dari “geng” Lost Boys, bertemu kawanan Indian  dengan tokohnya Tiger Lily, hingga berhadapan dengan Kapten Hook bersama anak buahnya dari kawanan Joli Jogger. Bukan hanya karena saya mengenal cerita Peterpan sejak kecil, pun membandingkannya dengan film animasi layar lebar “PeterPan” atau “Hook”, namun dengan segala kepolosannya, anak-anak sekolah musik Staccato Bali cukup berhasil menghidupkan kisah rekaan J.M. Barrie tersebut.

Terlepas dari masalah teknis sound system yang kadang terganggu saat clip on yang dipakai pemain, video mapping untuk latar belakang yang pada beberapa bagian masih  terpatah-patah, pertunjukan mengalir mulus dan menghibur. Ya, menghibur ketika akhirnya para pemain berhasil menyingkirkan demam panggung, menemukan chemistry dengan lawan main, hingga beberapa lagu yang dinyanyikan dengan sempurna membuat penonton tak kuasa menahan untuk bertepuk tangan. Alhasil, pertunjukan yang berlangsung dua jam lebih, diselingi jeda 20 menit, membuat saya bertahan untuk mengikuti sampai tuntas.

Peter2
Akting Larasati Janawati-Suarma sebagai PeterPan

Pertunjukan drama musikal memang termasuk seni pertunjukan yang jarang, bahkan termasuk sulit ditemukan di Bali. Bukan tanpa alasan, selain sulit mencari pemain drama/teater yang bisa menyanyi dengan baik atau sebaliknya mencari penyanyi yang bisa berakting dengan baik, menggelar pertunjukan semacam ini juga membutuhkan proses yang panjang dan biaya yang tak sedikit. Memadukan cerita dengan musik dan lagu, melatih pemainnya, menggarap olah vokal dan musiknya, hingga memikirkan teknis panggung, benar-benar membutuhkan perhitungan yang matang. Sangat wajar kemudian jika pertunjukan drama musikal semacam “PeterPan” memasang harga yang cukup tinggi untuk tiket masuk, namun sebanding dengan suguhan yang didapat.

Bagaimanapun, bagi saya tidak bisa tidak, apresiasi yang setinggi-tingginya untuk Staccato Bali yang telah bersusah payah menghadirkan satu pertunjukan “langka” yang tak hanya menghibur, mendidik, tetapi juga banyak memotivasi anak-anak. Akting Larasati Janawati-Suarma sebagai Peterpan, Diah Permata Sutanegara ebagai Wendy, Gregorius Tagur yang merangkap sebagai Kapten Hook dan George Darling, Aya Janawati-Suarma sebagai Tiger Lily, hingga pemunculan model senior Bali, Lisa Mantjika sebagai Nyonya Darling, layak diacungi jempol. Ketulusan seluruh pemeran untuk memberikan persembahan yang maksimal, kerja keras tim produksi yang dipimpin Ketut Suarma dan sutradara Heny Janawati, menjadikan “PeterPan the Musical” sebagai satu pertunjukan yang luar biasa. Jauh melampaui ekspektasi saya sebelumnya. Sungguh, bagi saya, anak-anak itu berhasil mewujudkan pesona kisah “PeterPan”.

*Made Adnyana

peter4
Beberapa adegan memikat dari pertunjukan musikal “PeterPan” garapan Staccato Bali

Petter1

About the author