Awalnya Iseng, Galiju Serius Berkarya, Rilis Kaset Pula

Galiju, dari kiri ke kanan: Reza Achman, Rangga, dan Ian Joshua Stevenson

GRUP musik yang satu ini memang beda. Awal terbentuk karena iseng berkarya ketika tiada banyak aktivitas saat pandemic Covid lalu. Didukung tiga personel yang sudah berpengalaman lama di musik. Awalnya iseng, keasyikan, malah jadi serius berkarya. Tak tanggung-tanggung, langsung bikin album rekaman. Malah akhirnya diedarkan dalam format pita kaset pula.

Namanya unik, Galiju. Tiga sekawan yang menjadi punggawanya, Reza Achman (drum), Ian Joshua Stevenson (vokal, gitar), dan Rangga (bass). Sabtu (25/5) malam, mereka menggelar showcase sekaligus peluncuran secara resmi album perdana bertajuk “Resonant”. Kesempatan itu pula dimanfaatkan untuk menawarkan kaset yang diproduksi terbatas, yang ternyata sebagian sudah diorder lebih awal sebagai koleksi.

Menurut Reza, sesungguhnya materi album sudah langsung digarap saat Galiju dicetuskan 2020. Rampung dua tahun kemudian, materi lagu diunggah melalui berbagai platform digital.

“Ya dilepas begitu saja, tidak ada perilisan secara resmi. Kami sendiri merasa perlu ada semacam pengesahan, jadi kami bikin acara perilisan, niatnya menyampaikan secara luas ke publik keberadaan kami. Sekalian rilis album secara fisik dalam bentuk pita kaset,” jelas Reza.

Ada delapan lagu berbahasa Inggris yang disodorkan Galiju, yakni: Fractals, Ride, Reconcile, Let It Bleed, Solitary, Believers, Smithereens, dan Here and Now,

Ketika ditanya apa yang mendorong Reza dan kawan-kawan semangat membuat band baru lagi dan berkarya serius, Reza mengaku bagaimana pun musik sudah menjadi bagian dari jiwa personel Galiju. Karenanya ketika ada kesempatan, aktivitas yang bisa dan paling menarik dilakukan ya bermusik. Ia pun tak menampik kalau semisalnya ada yang mengatakan warna musik Galiju berbeda zaman dengan generasi sekarang.

“Namun jangan salah, kami juga mengikuti perkembangan musik sekarang. Banyak musisi muda yang mengulik musik-musik lama, isi-isian dan gaya bermain. Kami sendiri juga mendengarkan musik sekarang, dan kami akui banyak juga yang bagus. Wah, ini menarik, ini keren. Jadi kami berkarya mengalir saja,” demikian Reza.

Di sisi lain, Ia Joshua tak memungkiri kalau mendengar musik Galiju, ada yang menghubungkan permainan Reza di band Matajiwa, Ian dengan Zat Kimia, atau Rangga dengan warna metalnya saat masih di Bandung dulu. Menurutnya tak perlu diusahakan sedemikian rupa untuk benar-benar atau total berbeda.

“Justru itu kekuatannya. Reza dengan warnanya sendiri, saya dengan warna sendiri, Rangga juga dengan warnanya. Jadi masing-masing dengan karakternya, yang akan menarik ketika dikombinasikan di Galiju,” ujar Ian.

Kalau ditanya apa warna musik atau karakter Galiju, Reza mengaku tidak terlalu pusing dengan genre. Mereka bermain musik apa yang ingin dimainkan, walau mungkin dasarnya rock atau apalah. Yang jelas untuk Galiju ada keinginan memasukkan elemen atau nuansa Indonesia, dan musiknya bisa dijogetin, membuat yang mendengarkan bergoyang.

“Soal elemen Indonesia tentu tak harus memasukkan gamelan misalnya. Bukannya kami memaksakan unsur mana yang mau dimasukkan. Ya berjalan natural saja dari apa yang kami ketahui. Akhirnya musiknya mau ke mana ya elemennya tetap rock,” demikian Reza.

Soal nama Galiju, Ian tertawa. Jangan dicari di kamus bahasa manapun, takkan ketemu maknanya. Nama ini spontan dipakai manakala ngumpul di poskamling di ujung gang lima dan gang tujuh di dekat studio Ian. Persimpangan gang lima dan gang tujuh itu melahirkan akronim Galiju (gang lima dan gang tujuh) yang ditulis di poskambling. Reza pun spontan mengusulkan pakai nama itu saja. Selain unik, yang jelas belum ada yang memakai nama ini. (231)

About the author