Chintya dan Dwarsa Ingin Populerkan EDM Berbahasa Bali

Chintya KDev dan Dwarsa Sentosa

DUO musisi berbakat dari Singaraja, Chintya KDev dan Dwarsa Sentosa, merilis satu lagu dengan lirik berbahasa Bali, Indonesia, dan Inggris. Judulnya “Sing Dadi Gelahang #Tresna Terlarang”. Menariknya, komposisi ini mereka bawakan dalam format electronic digital music atau EDM).

“Targetnya sih, karya kami bisa didengar hingga mancanegara. Jadi kami mulai untuk pendengar lokal Bali terlebih dahulu, dengan misi membawa genre EDM berbahasa Bali yang barangkali sudah sering dibawakan oleh musisi lain, tapi kami berusaha menampilkan karya dengan konsep kami yang fresh dan easy listening juga,” jelas Chintya kepada mybalimusic.com.

Dijelaskan, lagu yang mulai diperkenalkan ke publik 26 September lalu ini mengungkapkan isi hati wanita yang sangat cinta dengan seorang laki-laki. Namun apa daya lelaki tersebut sudah dimiliki oleh orang lain. Si wanita sangat benci dengan kenyataan yang dihadapi. Walau dalam hatinya dia sangat mencintai dan tidak akan peduli lagi entah apa yang menghalangi.

Bekerjasama dengan publisher Netrilis, Lagu “Sing Dadi Gelahang” sudah tersedia di berbagai platform musik digital seperti itunes, spotify, apple music, youtube music, dan lainnya. Chintya mengaku sangat berharap karyanya bisa diterima dan dapat menghibur seluruh masyarakat Bali khususnya, hingga mancanegara umumnya. Sehingga ia bisa lebih bersemangat lagi untuk membuat karya positif lainnya.

Kerjasama antara Chintya dengan Dwarsa yang juga seorang produser rekaman, bermula ketika ingin memunculkan satu karya dengan nuansa baru. Alih-alih hanya sekadar merilis satu lagu, akhirnya duo dengan nama Chintya KDev feat. Dwarsa Sentosa ini malah sudah menyelesaikan 5 lagi rekaman lagu dengan genre sama tapi tema berbeda.

“Sekarang sedang dalam proses rekaman, semoga di tahun ini kami dapat menyelesaikan project mini album ini,” katanya..

Chintya yang bernama lengkap Luh Putu Sintya Kristiana Devi mengawali kariernya di dunia hiburan justru mulai dari menjadi penari Bali sejak kanak-kanak. Hingga ketika SD, ketertarikannya terhadap olah vokal makin kuat, hingga mulai menjajal lomba mulai dari antar kelas, hingga tingkat kabupaten. Tak disangka, saat ikut kompetisi menyanyi se- Buleleng pada ketika masih kelas VI SD, ia malah meraih Juara I.

“Dari sanalah saya mulai yakin, bahwa saya berbakat di bidang tarik suara. Berbagai kompetisi saya ikuti, dimulai dari tingkat kabupaten hingga mewakili provinsi Bali dan astungkara selalu ada hasilnya,” cerita Chintya.

Pengalaman paling berkesan baginya tentu saat ambil bagian dalam ajang pencairan bakat Indonesian Idol di tahun 2014. Karena kemampuannya, Chintya sempat memperoleh golden ticket. Walai langkahnya kemudian hanya sampai 41 besar se-Indonesia. (231)

About the author