Mate Brek, “Post Hardcore” di Kancah Musik Pop Bali

matete
Mate Brek, bawakan post hardcore dengan lirik lagu berbahasa Bali

BERMULA dari sekaa demen, perkumpulan pemuda di Banjar Saraseda, Tampaksiring, lalu membentuk grup futsal. Karena kesamaan hobi pula, akhirnya grup yang digagas sejak 2001 ini bermetamorfosis menjadi grup musik. Begitulah Mate Brek yang membawakan musik alternatif dengan lagu berbahasa Bali, “ngamen” dari banjar ke banjar. Sempat pula menjajal ajang “Baduda Idol” yang digagas Nanoe Biroe untuk satu album rekaman khusus di tahun 2007, walau saat itu mereka belum beruntung.

“Kami membentuk grup musik awalnya cuma untuk menjalankan hobi saja, tapi lama-kelamaan jadinya serius. Mengapa kami memilih lagu berbahasa Bali, karena bahasa sehari-hari kami ya bahasa Bali. Sebagai bahasa Ibu, kami ingin turut menjaga bahasa Bali tetap ajeg,” jelas De Gading, drummer grup ini kepada mybalimusic.com, Jumat (18/4).

Sempat vakum beberapa saat, sejak dua tahun silam grup yang mengaku banyak terinspirasi dari grup kenamaan sepertoi Lolot, As I Lay Dying, dan Killswitch Engage ini mencoba bangkit kembali dengan personel baru, juga komitmen baru. Saat ini Mate Brek didukung Goro (vokal), Wid (gitar), Dex Boki (gitar), Gede (bass) dan De Gading (drum). Seluruh personel yang mendukung grup ini sebelumnya juga sudah pernah memiliki grup masing-masing, dari yang berlatar belakarng rock sampai metal. Saat ini dengan formasi baru, nuansa rock yang lebih kental dengan scream dan growl, Mate Brek masih konsisten membawakan lagu dengan lirik berbahasa Bali.

Soal nama Mate Brek (mata rusak), bukan sekadar nama komunitas, namun ada filosofinya sendiri, yang mendorong personelnya untuk selalu berpikir luas. “Bayangkan jika mate brek, mata rusak, artinya salah satu indra vital kita tidak berfungsi, dianggap tidak bisa melihat keindahan dunia. Namun demikian masih bisa melakukan sesuatu yang berguna. Kami mengartikan itu ke latar blakang kami. Bahwa di balik kekurangan atau keburukan seseorang, namun masih dapat berbuat yang baik dan berguna,” papar Gading.

Mengusung genre post hardcore, Mate Brek dapat kiranya membanggakan diri karena inilah yang membedakan dengan grup musik berbahasa Bali lainnya. Karena hingga grup ini terbentuk dan merekam karya mereka, belum ada grup yang memainkan post hardcore dengan lirik lagu berbahasa Bali. Hasil dari berbulan-bulan di studio rekaman, akhir 2012 silam Mate Brek sudah merilis mini album berjudul “The4ti Ngawi” (de pati ngawi atau kurang lebih bermakna jangan banyak tingkah), yang memuat lima lagu, ”Ulian Iluh”, “Nyesel”, “Lara Hati”, ”Pasewitran”, dan “De Pati Ngawi”.

“Target kami untuk saat ini membuat album penuh, tentunya dengan harapan karya kami bisa dinikmati oleh masyarakat Bali secara luas. Keinginan kami dapat meramainkan scene musik Bali,” pungkas Gading. *adn

About the author