Sineztesia Lanjutkan Bali Rock Alternatif

Sinestezia

Sineztesia usung musik Bali rock alternatif

SEJAK Lolot n’ Band mengangkat musik Bali rock alternative awal 2000-an, hingga saat ini tak pernah putus bermunculan band baru dengan warna serupa. Mereka pun tak ragu lagi, terang-terangan menyatakan diri sebagai pengusung musik rock alternative. Sebut salah satunya Sineztesia, “pendatang baru” yang mencoba turut meramaikan blantika lagu berbahasa Bali.

Jika sebagian band lain terbentuk dari personel yang sudah pernah berpengalaman dengan grup lain sebelumnya, tidak demikian dengan band yang terbentuk 1 September 2013 ini. Mengaku belum pernah membentuk band sebelumnya, Micky sebagai vokalis mengajak empat rekannya bergabung, Fendy (lead guitar), Eka (rhytm guitar), Wick (bass), Donny (drum). “Dasarnya sederhana saja, kamu ingin turut meramaikan dan melanjutkan musik pop Bali khususnya aliran rock alternative,” ujar Micky kepada mybalimusic.com.

Pilihan kepada lagu berbahasa Bali, menurut Micky juga tak terlepas karena personelnya kebetulan asli putra daerah dan ingin lebih mengangkat musik Bali kalau bisa sampai k eluar daerah. Lalu apa yang ditawarkan grup ini, yang membuatnya layak untuk dilirik?

“Sineztesia mencoba menampilkan karakter musik beda dari band Bali lainnya. Musik kami boleh dibilang perpaduan musik Bali dan nasional, dan yang jelas masih enak didengar untuk penggemar musik di Bali,” papar Micky.

Tak perlu menunggu lama, Sineztesia langsung menunjukkan kiprah mereka dengan merilis mini album “Sakit Hati” belum lama ini. Micky tidak memungkiri, ia dan rekan-rekannya “terpaksa” berpuas diri merilis mini album dulu akibat keterbatasan dana dan sponsor, karena rekaman pertama ini dilakukan secara swadaya. Ada enam lagu yang ditawarkan, “Demi Adi”, “ASm”, “Sakit Hati”, “Boye Pemulung Tresna”, “Kalain Tunangan”, dan “Iluh”.

“Semua lagu memiliki ciri khas masing-masing, dan karakter musiknya berbeda satu lagu dengan lainnya. Keinginan kami sederhana saja, ingin turut melestarikan musik pop Bali, siapa tahu juga terbuka peluang untuk membawa musik pop Bali ke tingkat nasional,” tambah Micky.

Uniknya, Sineztesia sengaja menentukan lebih dari satu basecamp, sesuai asal masing-masing personelnya. Sehingga Sinezetesia punya dua basis, di Banjar Semana, desa Mambal, dan Banjar Sigaran, desa Mekar Bhuana, Badung. *adn