Tersisihnya Budaya Laut di Negeri Bahari

cine3

Potongan adegan film dokumenter “Orang Laut” yang diputar dalam acara Cine Garden, Sabtu (8/2) lalu

SEBAGAI bangsa, Indonesia sudah teramat banyak mengabaikan potensi dan kekayaan dirinya. Padahal sesungguhnya potensi-potensi tersebut merupakan modal dasar yang sangat hebat untuk menggapai kejayaan. Satu di antara sikap abai itu adalah, sebagai negeri maritim yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer, Indonesia melupakan tradisi bahari dan membengkalaikan begitu saja potensi laut yang dimilikinya. Padahal, di dalam cakupan garis pantai terpanjang keempat di dunia itu terdapat kawasan yang dinamakan “Coral Triangle” yang mengandung lebih dari 75 persen jenis karang dunia, lebih dari 3000 jenis ikan, sebaran hutan bakau terbesar di dunia, dan pemasok terbesar bahan baku industri ikan tuna dunia. Itu belum terhitung kekayaan budaya yang terdapat di dalamnya.

Demikian nukilan diskusi seusai pemutaran film dokumenter “Orang Laut” karya Nur Handoyo pada acara Cine Garden # 2 yang diselenggarakan di Antida Sound Garden, Jl. Waribang, Denpasar. hadir sebagai narasumber dalam disuksi tersebut adalah Kirana Agustina (Pecinta Tradisi Bahari) dan Made Adnyana (Pemerhati Perfilman).

Dalam diskusi bertema “Tersisihnya Budaya Laut di Negeri Bahari” itu Kirana memaparkan bagaimana kekayaan laut Indonesia khususnya di Kawasan Coral Triangle yang juga selain diabaikan juga dirusak oleh upaya-upaya penghancuran untuk tujuan tertentu, penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan, pembangunan tak terencana baik, polusi, dan sebagainya. Menurut Kirana, semua ini disebabkan antara lain karena selama ini pembangunan di Indonesia hampir sepenuhnya berorientasi ke daratan.

Di samping itu, menurut Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, yang sempat didapuk menjadi wakil Indonesia dalam World Student Environment Summit 2011 di Swedia ini sikap abai itu sangat erat terkait dengan sikap kepimpinan Nasional memandang potensi lautnya.

“Dulu, Bung Karno pernah berupaya mengembalikan kejayaan maritim bangsa kita. Tapi hal itu surut di era Pak Harto. Pernah naik lagi di zaman Gus Dur, namun kembali surut di era Pak SBY sekarang ini,” paparnya.

Dari sisi perfilman, Made Adnyana mencatat bahwa secara teknis dan isinya, film “Orang Laut” karya Nur Handoyo menunjukkan kepada publik bahwa film dokumenter pun bisa dinikmati sebagaimana film-film fiksi. Selain memberi hiburan bagi mata, film ini membuka wawasan tentang indah dan kayanya negeri ini. Setelah menyaksikan kehidupan Suku Orang Laut (Bajau) yang paparkan dalam film dan menyimak paparan Kirana soal potensi bahari Indonesia, Adnyana menegaskan bahwa karya-karya dokumenter dapat menjadi media kreatif untuk mengingatkan publik agar menjaga alam dan lingkungannya sesuai kemampuannya masing-masing.

Tentang Orang Laut
Film “Orang Laut” sendiri berkisah keseharian Tadi, 62 tahun, seorang warga Bajo yang tinggal di rumah panggung di Selat Hoga. Tadi adalah seorang penombak ikan yang setiap hari mengarungi lautan bersama anaknya, La Uda, mengendarai sampan kecil. Keduanya sangat cekatan menghadapi segala hal yang terjadi di lautan. Bahkan, La Uda sanggup menyelam dan menombak ikan tanpa alat bantu apa pun.

Sementara istri Tadi adalah seorang sandro atau dukun suku Bajo yang membantu ritual memandikan bayi di laut. Dulu suku Bajo punya tradisi melemparkan bayi yang baru lahir ke laut. Tapi kini tradisi tersebut sudah berubah. Bayi cukup dimandikan dengan air laut.

Cine Garden #2 yang diselenggarakan oleh Kelompok Pembuat dan Pecinta Film (KPPF) Denpasar bekerjasama dengan Antida Sound Garden ini merupakan rangkaian panjang dari penyelenggaraan Denpasar Film Festival (DFF) 2014 yang puncak acaranya akan diselenggarakan pada bulan Agustus nanti. Diskusi di tengah gururan hujan deras itu dipandu oleh Agung Bawantara, inisiator sekaligus direktur Denpasar Film Festival.

Untuk menyemarakkan acara, menjelang pemutaran film tampil Dadang Pranoto, pentolan grup band “Navicula” dan “Dialog Dini Hari”, membawakan lagu-lagu balada karyanya termasuk sebuah lagu khusus yang ia gubah berdasarkan syair sebuah lagu milik Suku Orang Laut sendiri. *** Agung Bawantara

cine2

Diskusi usai pemutaran film “Orang Laut”, dari kiri ke kanan: Agung Bawantara, Kirana Agustina, Made Adnyana. (foto: Anggara Mahendra)

cine1

Dadang menyanyikan lagu yang digarap khusus berdasarkan lagu milik suku orang laut untuk mengiringi pemutaran film “Orang Laut”