Hydra Tuntaskan Janji Rilis Rekaman Baru

Hydra, dari kiri ke kanan: Wis, Zio, Taofiq, Denny, Gung Wah

VAKUM atau hiatus belasan tahun, bagi kebanyakan grup band mungkin sulit untuk bangkit kembali dengan personel yang sama membawa semangat berkarya yang sama pula. Namun semangat itu sangat kuat pada Hydra, grup musik dari Denpasar yang baru saja melepas album “Evolution 2”. Rilis ini menuntaskan janji Taofiq dan kawan-kawan yang berjanji akan merilis mini album baru, setelah memutuskan untuk “reuni” lagi dua tahun silam.

“Sekian lama kami sebagai Hydra tidak main musik bersama. Perjalanan waktu membuat perbedaan dalam bermusik. Sangat terasa evolusi atau perubahan yang terjadi selama ini. Bisa dibandingkan album Vol.1 dengan Vol.2 ini sangat berbeda,” jelas Wis, gitaris Hydra.

Dua tahun lalu saat merayakan reuni, Hydra merilis album “Evolution vol. 1” yang menampilkan lagu lama dengan aransemen baru. Karya itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan perjalanan persahabatan para personelnya.

“Nah, kalau EvolutionVol. 2 total penciptaaan karya baru yang didasari oleh pengetahuan, referensi dan pengalaman selama kami berpisah,” tambah Wis.

Album “Evolusion Vol. 2” yang dirilis 22 September lalu memuat lima lagu baru, “Everybody”, “love Me Tonight”, “Had Enough”, “When It’s Over” dan “River Of Peace”. Masing-masing lagu mempunyai pesan tersendiri, terinspirasi dari apa yang personel Hydra rasakan, dengar dan alami.

Diakui, penggarapan Evolution Vol.2 membutuhkan waktu setahun mulai dari pengumpulan materi, aransemen hingga rekaman. Apalagi mengingat sang vokalis yaitu Taofiq kini tengah menetap di Yogyakarta karena pekerjaan.

“Sebagian besar lagu yang kami buat berempat di studio. Lalu kami rekam ulang materinya, untuk lead vocal Taofiq rekamannya di Jogja dan ada yang di Pregina studio. Deny sempat terbang ke Jogja untuk membantu proses rekaman Taofiq,” ungkap Gung Wah.

Dalam proses rekaman, Hydra melibatkan deretan musisi yang pernah ikut andil dalam perjalanan musiknya. Di lagu “River of Peace” mereka mengajak Morris Adama mengisi drum dengan konsep duo drum. Putu Sutha menyumbangkan suaranya duet dengan Taofiq, ditambah isian vokal dari Agung Ocha. Juga ada Jashca dan Vincent. Keduanya adalah vokalis muda di Bali yang membantu backing vokal band SoulFood.

Sebelum hiatus, Hydra sempat didukung Morris menggantikan posisi Deny Surya yang saat itu sibuk bersama Lolot. Putu Sutha juga sempat beberapa kali menjadi lead vokal, karena Taofiq harus ke luar negeri untuk program Pendidikan, dan Ocha juga sering membantu kami sebagai vokal latar.

Dengan rilis dua mini album pascareuni, Hydra kembali kembali semangat berkarya bersama dengan kebaruannya. Dalam waktu dekat, Hydra pun tengah bersiap melepas video musik dari lagu “Love Me Tonight”.

Nama Hydra muncul di kancah band indie Bali sejak tahun 1999 dan kerap unjuk kebolehan melalui berbagai ajang kompetisi. Hydra yang didukung formasi Taofiq (voka), Wis (gitar), Zio (bass), Gung Wah (keyboard), dan Denny (drum) juga turut mengisi rekaman nasional album Indie Ten 2 produksi Sony Music Indonesia di tahun 2001 dengan membawakan lagu “Desir Jiwa”.

Selepas itu, sejak 2003 Hydra mengalami hibernasi. Personelnya mulai berpencar. Denny Surya bergabung dengan Lolot, Wis membentuk The Hydrant, Taofiq sempat membentuk Nol band sebelum kembali ke Jakarta, dan Zio bergabung dengan Dialog Dini Hari. Setelah 17 tahun berpisah, Mei 2020 terbersit ide untuk berkarya lagi. Hasilnya, akhir 2021 Hydra merilis mini album “Evolution vol. 1” yang disusul “Evolution vol. 2” September tahun ini. (231)

Hydra

About the author