Putu Satria : Menggeluti Teater seperti Orang “Joging”

Satria1

Putu Satria Kusuma (paling kanan) bersama pendukung pementasan “Sukreni Gadis Bali”

BAGI Putu Satria Kusuma, ada daya tarik dan ikatan tersendiri yang membuatnya hingga kini tetap setia di dunia seni khususnya teater. Sejak medio 80-an, ia sudah menggilai dunia teater, dan sampai sekarang terus “menularkan kegilaan” itu kepada siapa saja yang punya minat dan perhatian ke sana. Lalu apa yang didapat dari menggeluti dunia teater?

Kepada penonton yang menyaksikan garapannya “Sukreni Gadis Bali” (yang diangkat dari novel karya Panji Tisna) di Antida Soundgarden, akhir pekan silam, Putu Satria terus terang mengatakan secara materi memang tidak mendapat apa-apa. Jangankan honor untuk pemain, biaya transport saja belum tentu tertutupi. Namun karena sudah menjadikan teater sebagai bentuk “pengabdian”, ia bersama tim di Kampung Seni Banyuning juga tak pernah pusing memikirkan masalah materi tersebut. Bagusnya pula, sampai saat ini semuanya sudah paham betul bagaimana kondisinya kalau menggeluti teater.

Kalau kemudian ada yang bertanya, apa yang dicari Putu Satria, selama puluhan tahun menggeluti teater? Pria asal Singaraja ini lalu memberikan perumpamaan, apa yang didapat orang yang dengan senang hati tiap pagi melakukan jogging? Apa yang didapat oleh mereka yang dengan riang sambil mengajak anjing piarannya berjalan-jalan bolak-balik? Mengapa mereka mau melakukan itu, dan senang? Sebagai santapan rohani, kepuasan batin? “Seperti itulah menggeluti teater,” ujarnya memberi perumpamaan.

Bagi Putu Satria, berkarya di teater seperti melakukan seni mural, mengalir, jalan begitu saja. “Saya juga selalu sampaikan kepada teman-teman, kalau mau berkarya, berkarya lah. Dikatakan, ketika “pengabdian” kepada teater bisa dilakukan dengan tulus dan tuntas, terlebih masih ada yang mendukung dengan menaruh apresiasi positif, bagi Putu Satria sudah luar biasa. Ia pun mengatakan sendiri tidak menyangka, akan cukup banyak yang menaruh perhatian dan dengan kerelaan datang menyaksikan pementasan Sukreni Gadis Bali garapannya.

Akan halnya ketertarikan untuk mengangkat “Sukreni Gadis Bali” dengan interpretasi sesuai konteks kekinian (mengaitkannya dengan beragam isu di Bali terkini termasuk masalah reklamasi), Putu Satria yang beberapa kali menggarapan pementasan fenomenal seperti “Cupak Tanah”, mengatakan terperangah sekaligus kagum. Ternyata apa yang tertuang dalam karya Panji Tisna tersebut mewakili dan menunjukkan bagaimana kondisi Bali saat ini. Bali ibaratnya Sukreni, seorang gadis cantik dijual oleh ibu kandungnya sendiri, dan diperkosa oleh seorang Mantri Hutan sebagai sosok yang punya uang dan kuasa. *adn

Satria2

Pentas teater “Sukreni Gadis Bali” oleh Kampung Seni Banyuning, dengan sutradara Putu Satria Kusuma, Sabtu (30/11) lalu di Antida Sound Garden