“Samastabhumi”, Keinginan Lama yang Baru Terwujud

Gus Teja

SEJAK pertama kali rekaman dan merilis album instrumental 12 tahun lalu, Gus Teja menjadi salah satu musisi yang karyanya banyak diputar di berbagai tempat, termasuk untuk yoga maupun meditasi. Melihat ini, sudah sejak lama pula musisi asal Junjungan, Ubud ini ingin membuat album musik khusus untuk meditasi. Keinginan lama itu baru terwujud tahun ini, dengan merilis album Samastabhumi.

“Iya, ini album edisi khusus, bisa dikatakan eksklusif untuk pecinta meditasi, pecinta kedamaian. Sejak dulu saya ingin bikin album khusus untuk meditasi, karena pingin banget mengedepankan suling yang merupakan kesukaan saya. Jadi saya ingin sekali apa yang saya rasakan melalui alunan suling juga bisa dirasakan banyak orang,” jelas Gus Teja kepada mybalimusic.com di Denpasar, Selasa (13/4).

Dikatakan, judul Samastabhumi diambil dari bahasa Jawa kuno yang artinya alam semesta. Judul ini dirasakan sangat tepat mewakili tujuan musik untuk kedamaian, meditasi, di mana kita mendekatkan diri dengan alam semesta. Album instrumental ini segera beredar dalam waktu dekat terutama secara online melalui Spotify, iTunes, dan cdbaby.

Gus Teja mulai banyak dikenal saat merilis album “Rhytm of Paradise” tahun 2009, yang memunculkan hits “Morning Happiness”. Berikutnya ia melepas album “Flute for Love” (2011), “Ulah Egar” (2015), dan “Sundara” (2017). Selain itu Gus Teja juga merilis beberapa single seperti “Permata dari Langit”, “On Fire”, “Irreplaceable Love”, dan terakhir “Songs of Nature” yang dirilis secara khusus melalui konser online, pertengahan 2020 lalu. Karya-karya tak hanya dinikmati masyarakat di Indonesia namun juga banyak dikenal hingga ke mancanegara.

Musisi jebolan program magister (S2) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini tak hanya menghasilkan karya musik yang idealis, namun juga belakangan membuat karya yang lebih kekinian untuk memperluas jangkauan penggemar musiknya. Ini tak lepas dari keinginannya agar karya-karyanya bisa dinikmati oleh semua orang tanpa mengenal sekat budaya, adat dan lain-lain. “Pertimbangan mengikuti pasar itu bukan prioritas, tapi bagi saya sebagai bonus,” katanya. (231)

About the author