Made Taro: Jangan Sepelekan “Gending Rare”

taro2

Made Taro bersama personel grup Emoni

MUNCULNYA kreativitas untuk membawakan kembali gending rare atau lagu anak-anak tradisional Bali dengan kemasan musik baru yang lebih atraktif, dipuji budayawan Drs. I Made Taro. Tak terkecuali saat grup Emoni meluncurkan album gending rare “Ning Ning Cening” belum lama ini, Pak Taro – begitu pria ini biasa dipanggil – melontarkan pujian dan kesannya. “Saya bangga, karena anak-anak muda bisa merevitalisasi gending rare,” ujarnya.

Sosok yang dikenal dengan ketekunannya menggeluti dongeng dan permainan tradisional ini juga menuturkan, seorang ahli musik dari Jepang beberapa waktu lalu sempat mengatakan, di Indonesia kini kian banyak muncul musik etnik, termasuk di Bali. Ahli tersebut memuji kreativitas seniman yang dapat mengkolaborasikan instrumen musik tradisional dengan teknologi modern.

“Saya sendiri tak lupa menekankan, masuknya teknologi modern dari barat perlu disambut untuk dijadikan semacam kerjasama atau kolaborasi. Tapi hati-hati jangan sampai teknologi musik barat lebih mendominasi. Kita harus tetap bertahan dan menjaga musik Bali yang sudah metaksu. Nah, yang metaksu jangan sampai dikalahkan budaya lain,” harapnya.

Di sisi lain pencipta lagu “Goak Maling” ini juga bangga, selaku narasumber gending rare ia sering diwawancarai oleh mahasiswa yang mencari bahan penelitian atau penulisan tugas kampus. Bukan hanya dari Bali, tak sedikit juga yang dari luar daerah menjadikannya sumber untuk membahas gending rare. Misalnya saja dari Universitas Indonesia, ISI Jogjakarta dan Universitas Padjajaran, Bandung sudah ada yang mengangkat gending rare sebagai bahan penelitian untuk skripsi. Yang paling banyak tentu saja dari Bali, baik dari ISI Denpasar, Unud, dan Undiksha. Malah saat ini seorang dosen sedang survei mengenai gending rare untuk menyelesaikan disertasi guna meraih gelar doktor.

“Itu membuktikan gending rare jangan diespelekan. Walau kuno, kelestariannya harus tetap terjaga,” tandas Made Taro. *231