Lagu untuk Tanah Kelahiran dari Marapu

MARAPU, grup musik reggae yang berbasis di Bali memperkenalkan karya baru mereka. Satu rekaman yang diberi judul “Welcome to Sumba” dirilis Rabu (18/11). Peluncuran lagu ini sekaligus disertai dengan penayangan video musik melalui sejumlah kanal termasuk Youtube.

”Kami dari Marapu sebagai putra daerah Sumba merasa terpanggil untuk memperkenalkan budaya, tradisi, dan alam pulau Sumba di masyarakat nasional dan internasional. Dan itu kami lakukan lewat lagu,” ujar Yanto, sang vokalis.

Di lagu barunya ini, Marapu masih memainkan komposisi musik reggae sebagai trademark mereka, namun kali ini cenderung lebih simpel dengan beat reggae yang lebih modern. Untuk memberi ciri sekaligus sentuhan etnik, mereka juga memasukkan kayaka kakalak, semacam triakan etnik Sumba. Sedangkan lirik lagut menggunakan dua bahasa Inggris dan Indonesia.

“Di single kali ini kami coba menampilkan chorus yang menarik dan mudah di ingat. Yang menarik, untuk video musik, kami melibatkan rekaman dari 15 videographer dari Sumba, Kupang, Malang, Jogja, Bali, Afrika Selatan, Spanyol dan Amerika. Jadi bisa dikatakan ini sebagai karya kolaborasi,” jelas Yanto.

Setelah dirilis pertama kali di kanal resmi Marapu di Youtube, “Wellcome to Sumba” selanjutnya akan dirilis di seluruh platform musik digital. Sebelum ini, Marapu dikenal lewat album “Don’t Be Fooled” yang dirilis awal 2018 dengan single hits “Politicians”.

Marapu adalah band asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dibentuk 1999 dengan “modal nekat” dan memulai kiprahnya di Jogjakarta. Soal nama, personel Marapu merasa sudah terlalu banyak grup menggunakan nama barat. Karena itu mereka memutuskan memakai nama Marapu, yang awalnya dikenal sebagai agama, kepercayaan lokal yang dianut masyarakat pulau Sumba. Hingga saat ini,  Marapu identik dengan adat istiadat, tatanan sosial, filsafat hidup masyarakat Sumba.

Tampil di berbagai acara, mengejar mimpi untuk satu idealisme dalam bermusik, Marapu sempat merilis tiga album rekaman, sebelum akhirnya 2003 memutuskan pindah ke Bali. Kala itu hanya tersisa dua personel yang pindah ke Bali, Yanto (vokal) dan Dondho (bass). Di Bali mereka mulai menjajal berbagai tempat hiburan dan kesempatan pentas lainnya.

Beberapa kali gonta-ganti personel, hingga akhirnya merasa cocok dengan formasi sekarang – Yanto Pekabanda (vokal), Dondho Kapita (bass), Micah Johnston (drum), Ryo Santoso (gitar ritem), Novantara Bjs (gitar melodi), dan Domi Kia Beda (keyboard). Menurut Yanto, sepanjang perjalanannya, Marapu setidaknya 24 kali ganti personel dan 8 kali ditangani manajer berbeda. Terakhir di Bali mereka ditangani Arno Mariani, yang merasa sangat antusias dengan grup ini.

Dalam satu kesempatan kepada wartawan, Arno pernah mengatakan Marapu memainkan musik reggae yang beda. Mereka punya peluang besar untuk maju dan dikenal tak hanya di Bali dan Indonesia, namun juga hingga ke luar negeri. (231)

Marapu

About the author