Sound Garden Memulai Pergelaran Pertama

DDH

Dialog Dini Hari akan mengawali gelaran di Sound Garden, Sabtu (28/9)

MERESPONS kehidupan bermusik yang terus berkembang di Bali, selayaknya banyak pula terdapat tempat-tempat pertunjukan yang menjadi wahana untuk menunjukkan kreativitas para musisi juga seniman lainnya. Namun pada kenyataannya, tak banyak tempat yang memberi ruang apresiasi luas kepada musisi juga seniman lainnya.

Menyadari kondisi itu, Anom Darsana, salah satu pegiat musik di Bali yang tak hanya menjadi sound engineer namun juga mengelola studio musik, sempat memperkenalkan tempat yang diberi nama Serambi Art. Namun dalam perjalanannya, tempat ini tak bertahan lama karena susahnya menjalin kerjasama dengan pemilik tempat. Setahun lebih vakum, Anom terus berpikir apa yang dapat dilakukannya untuk seniman music dan seniman lainnya dalam menyalurkan kreativitas mereka. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk “menyulap” sebagian kecil halaman studionya di Jl. Waribang, Denpasar, menjadi tempat pertunjukan mini yang diberi nama Sound Garden.

Mengawali gerakannya, Sound Garden menggelar satu pertunjukan khusus Sabtu (21/9) malam dengan menampilkan sejumlah seniman Bali. Mereka yang dijadwalkan mengisi gelaran pertama Sound Garden, seperti grup music Dialog Dini Hari, Ganjil, juga teater Bajra Sandhi dan satrawan Cok Sawitri. Apa yang kuat mendorong Gung Anom – begitu Anom Darsana akrab dipanggil – dengan memunculkan Sound Garden?

“Saya ingin di Denpasar ada ruang untuk para musisi dan seniman, di mana kalau diihat disekitar kita ruang itu sangat sediki. Setelah Serambi ditutup, saya terus berusaha mencari peluang untuk membuatnya untuk melanjutkan kegiatan seni sosial dan lainnya. Akhirnya saya memutuskan sound garden di depan halaman rumah Antida,” jelasnya kepada mybalimusic.com beberapa waktu lalu.

Gung Anom menyatakan akan berusaha semaksimal mungkin memfasilitasi seni dengan kemampuan sendiri sekarang ini. “Tujuannya seperti apa yang saya cita citakan, suatu hari saya ingin mempunyai balai kesenian yang benar-benar bagus, seperti pengalaman saya di Switzerland, di mana semua seniman dan musisi bisa berkarya sebebas mungkin tanpa hambatan. Untuk sementara kanggeang dumun apa yang saya punya dikaryakan semaksimalnya,” tambahnya.

Sebagaimana pandangan seniman lainnya, Sound Garden sebagai kelanjutan adalah Serambi Art Antida memberi inspirasi pada sikap membuat pilihan; menciptakan ruang yang relatif membebaskan proses ekspresi ke ruang-ruang yang lebih terasa “rumahan”, milik bersama dan tanpa tekanan pada proses kontak kehadiran orang-orang ke suatu halaman yang secara sengaja didorong membangun selera baru dalam hal musik, sikap dan image. *123