“Gegendong Ubuh” Mau Nyanyi Karena Dijanjikan Hadiah

Evan Ary

PENGGEMAR musik pop Bali disuguhi satu video musik baru berjudul “Gegendong Ubuh” tentang bocah pengemis yang yatim piatu. Lagu yang dibawakan dengan baik oleh penyanyi anak-anak Evan Ary ini tampaknya cukup banyak diminati. Dalam waktu kurang dari seminggu, videonya di kanal Youtube sudah mencapai hampir 25 ribu ditonton. Ternyata ada cerita menarik di balik rekaman lagu anak-anak ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, siapa bocah pendatang baru di jajaran penyanyi pop Bali anak-anak ini. Kalau ada pribahasa menyebutkan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, itulah Evan Ary yang bernama lengkap I Gede Evan Ari Pramana. Bakat dan kemampuan bocah kelahiran 28 Oktober 2010 ini dalam menyanyi tak jauh-jauh dari kedua orangtuanya, pasangan penyanyi Ary Kencana dan Nely Ambarwati.

Munculnya lagu sekaligus video musik “Gegendong Ubuh” ini berawal dari rasa penasaran sekaligus gregetan Ary Kencana sebagai sang ayah. Ketika ia sempat membuka tempat kursus vokal dan musik, putranya itu tidak mau ikut belajar.

“Tapi kalau disuruh menyanyi dia bisa, baik nada, irama, tempo dikuasai dengan baik. Dia juga cepat hafal dengan lagu. Cuma kesehariannya suka terkesan cuek sama lagu. Padahal kalau dia dengar dua kali saja sudah bisa hafal,” jelas Ary Kencana.

Lagu “Gegendong Ubuh” sendiri sesungguhnya tidak khusus diciptakan untuk Evan yang masih duduk di kelas IV SD Mahardika, Kertalangu, Denpasar. Awalnya Ary hanya membuat saja, dan sempat diminati oleh peynayi anak lain. Namun karena akhirnya tak ada kepastian, dia tarik kembali lagu itu dan berpikir mendingan diberikan ke Evan.

“Karena Evan punya kemampuan menyanyi dengan baik dan benar, makanya saya berani memberikan lagu ini. Sekalian maksa juga menyuruh dia menyanyi. Kalau akhirnya Evan mau, itu juga karena dijanjikan hadiah sepeda dan HP baru,” cerita Ary Kencana sembari tertawa.

Kalau Ary begitu semangat membuatkan rekaman dan video klip untuk putranya, salah satunya karena belakangan ia merasa sedang berada di belakang layar. Ia pun merasa senang kalau bisa membuat orang lain  angkat nama dari karyanya. “Sambil tes penjiwaan Evan juga, sekaligus uji mentalnya juga,” tandasnya. (231)

About the author