Lagu “Song Brerong” Berbahasa Jawa, Gung Sidan tak Berpikir Sejauh Itu

raka1

AA Raka Sidan, pencipta dan penyanyi lagu “Song Brerong”

MESKIPUN sudah dirilis lebih dari setahun lalu, lagu “Song Brerong” yang dinyanyikan AA Raka Sidan masih tetap populer sampai saat ini. Tak hanya si penyanyinya laris manggung di berbagai acara, lagunya juga banyak dibuat cover version oleh penggemarnya, dan beberapa diunggah ke youtube. Menariknya, tak hanya sekadar menirukan lagu sang idola dengan gaya sendiri, malah ada pula yang menggubahnya ke dalam lagu berbahasa Jawa, dan mengganti judulnya dengan “Jeng Garong”.

Kepada mybalimusic.com, penyanyi yang juga akrab dipanggil Gung Sidan ini mengaku belum tahu kalau ada lagu “Song Brerong” versi Jawa yang walaupun videonya masih amatir, namun dinyanyikan dan direkam dengan rapi. “Secara pribadi tiang sendiri sebenarnya tidak masalah, karena memang cukup banyak juga penggemar yang menyanyikan Song Brerong dengan versi ini itu, lalu dimasukkan ke youtube. Ya … itu kan untuk happy-happy saja, bukan untuk kepentingan komersial,” komentarnya.

Dikatakan, memang ada beberapa yang memberitahukan, minta “ijin” kalau mereka menyanyikan “Song Brerong” dengan gaya sendiri. Hanya kalau kemudian lagunya sendiri digubah sedemikian rupa dan kemudian menjadi konsumsi publik, ada rasa kurang sreg juga karena menyangkut hak cipta dan hak pakai. Menanggapi respon sejumlah warga masyarakat yang sudah melihat video klip “Jeng Garong” yang cukup baik, Gung Sidan malah mengaku tak pernah terpikir untuk serius memikirkannya. Walau ada peluang untuk benar-benar mengorbitkan lagu “Song Brerong” versi Jawa dan melebarkan pemasarannya ke luar daerah, ia mengatakan  tak berpikir sejauh itu.

“Nggak, saya nggak pernah berpikiran sejauh itu. Pak Oka selaku produser juga tidak pernah membahasa kemungkinan seperti, atau menawarkan ke arah sana. Kalau pun misalnya nanti serius akan dibuat versi Jawa, ya biarlah orang lain yang menyanyikan, sepanjang saya megetahui dan saya mendapatkan hak saya sebagai pencipta. Kalau saya yang menyanyikan dalam bahasa Jawa, nggak deh, vokal saya tidak pas untuk itu,” kilahnya.

Penyanyi yang juga pencipta lagu ini juga mengatakan tak pernah membayangkan atau berpikiran kalau “Song Brerong” bisa booming dan banyak digemari di mana-mana. Bahwa lagu ini akan sukses, tentu saja ia sudah punya feeling, sejalan dengan masukan dari rekan sesama musisi, juga produser yang langsung menjadikan judul itu sebagai judul album. Hanya kalau akan menjadi salah satu lagu pop Bali fenomenal, penyanyi yang sebelumnya sukses dengan “Suud Memotoh” ini mengaku tidak menduga.

“Mungkin sama seperti ketika lagu Somahe Bebotoh dan Suud Memotoh bisa digemari karena memang situasinya saat itu, trend saat itu, di masyarakat sedang banyak persoalan serupa. Kalau sekarang Song Brerong mengena di masyarakat, bisa jadi karena sekarang begitulah fenomena sosial kemasyarakatan kita,” tambah penyanyi yang cara menyanyi dan corak vokalnya pernah dibanding-bandingkan dengan gaya Ebiet G. Ade ini.

Meskipun “Song Brerong” bisa diterima dan sukses, Gung Sidan tidak langsung terburu-buru berambisi menggarap album baru. Baginyanya, menggarap lagu tidak bisa dipaksakan hanya karena mengejar target pasar. Terlebih saat sekarang masih cukup padat dengan jadwal tampil, agak susah baginya konsentrasi menggarap lagu baru. Biasanya setelah menginjak tahun kedua, saat popularitas lagu andalannya sudah mulai mereda, itulah kesempatan baginya untuk mulai memikirkan karya baru. Itu pun dibiarkannya mengalir apa adanya, dengan satu ciri khas yang tak lepas darinya, mengangkat tema sosial kemasyarakatan sebagai daya tarik lagu.

“Masalah apakah nanti lagu akan diterima atau tidak, itu kita tidak bisa menentukan. Yang penting tetap berkarya dengan melakukan yang terbaik yang kuta bisa. Setelah itu, biarkan saja mengalir apa adanya,” tandasnya. *231