Tridatu Sampaikan Pesan “Sing Dadi Menyerah”

Tridatu Band

HINGGA saat ini, dampak pandemi Covid-19 masih terus berlanjut. Sekalipun sudah dimulai periode adaptasi tatanan hidup baru, namun imbas berbulan-bulan sebelumnya masih kuat dirasakan. Kondisi ini sekali lagi mendorong Tridatu Band untuk menggarap lagu bernada dukungan semangat dengan judul “Sing Dadi Menyerah”.

Sejatinya, lagu juga video klip sudah jadi akhir bulan lalu, namun karena satu dan lain hal baru dirilis secara resmi mulai Rabu (15/7). Menurut Gus Wira, gitaris Tridatu, lagu “Sing Dadi Menyerah” terinspirasi dari kenyataan di masyarakat bagaimana susahnya melewati masa pandemi. Banyak tenaga kerja yang dirumahkan, untuk bertahan agar tetap bisa makan saja sudah sangat bersyukur. Mereka yang punya utang akhirnya macet pembayaran, bayar kost minta diskon , karena memang keuangan tidak stabil.

“Lewat lagu berdasar kisah nyata ini kami berharap masyarakat bisa tetap semangat dalam menjalani hidup. Semoga lagu ini bisa menjadi penyemangat, dan yakinlah, hidup ini seperti roda berputar gak selalu di bawah dan gak selalu di atas,” ujarnya .

Dibandingkan dengan karya-karya Tridatu sebelumnya yang rata-rata bertema cinta, menurut Gus Wira, “Sing Dadi Menyerah” memang berbeda karena menyentuh sosial kemasyarakatan. Tak dimungkiri, personel  Tridatu pun merasakan hikmah dari situasi pandemi belakangan ini. Harus lebih sabar menghadapi hidup, kedekatan dengan keluarga makin terasa karena sering di rumah.

Tridatu Band dibentuk dan mulai berkiprah di musik Bali sejak 2012. Namun seperti band kebanyakan, mereka pun harus melewati berbagai kendala hingga baru bisa unjuk gigi, menghasilkan karya sendiri di tahun 2017 dengan merilis “Tresna Pertama”. Hingga saat ini Tridatu didukung tiga personel tetap Adix (vokal), Gus Wira (gitar melodi), Gung Pramana (gitar ritem). Sedangkan untuk penampilan di berbagai acara, mereka menggaet beberapa additional player. Sebelumnya, mereka telah merilis beberapa video klip lagu berbahasa Bali seperti “Tresna Pertama”, “Tresna Sing Gelahang”, dan “Ikhlas”.  (231)

About the author