Lewat Musik, “Briag Briug Ngalih Lega”

Sudya Band

BERAWAL dari iseng-iseng saja, atau karena berbagai faktor kebetulan, jadilah satu grup musik. Tak disangka pula, keisengan itu berubah menjadi serius. Begitulah Sudya Band, yang di tengah kondisi penuh keterbatasan dan serba tak terduga, malah bisa merilis satu album yang diberi judul “Briag Briug Ngalih Lega”.

Ada 8 lagu berbahasa Bali, Indonesia, dan Inggris di album ini, seperti Why Worry, Celebingkah Batan Biu, Far Away From Home, Nggak Mungkin, Begitulah, Going Home, I Wanna Be Loved, Briag-Briug Ngalih Lega dan bonus track, Nggak Mungkin versi akustik.

Grup musik dari Buleleng ini didukung formasi Komang Suaka (vokal, gitar ritem), Putu Agus Antara (gitar melodi), Putu Juni Adi Sudana Putra (bass, dan Nyoman Ari Widana (drum). Komang Suaka, sang vokalis menceritakan, awalnya ia iseng-iseng berkunjung ke studio rekaman Pissproject milik Wayan Sam, di desa Pangkungparuk dan rekaman satu lagu. Namun ia merasa kurang sreg dan tidak mau rekaman sendiri. “Kurang asyik,” katanya.

Untuk menuntaskan rekaman satu lagu itu, mulailah proses mencari pemain gitar dan jembe. Kebetulan, Putu Agus Antara alias Jambrud yang biasa main gitar bersedia menamani rekaman. Berikutnya masuk I Nyoman Ari Widiana alias Mang Arik yang mengisi permainan jembe.

Dari rekaman “iseng” itu jadilah lagu berjudul “Nggak Mungkin” yang setelah direkam hari itu juga, keesokan harinya ditayangkan di kanal Youtube untuk melihat respons publk. Siapa sangka lagu ini banyak yang suka, hingga akhirnya Komang Suaka dan Jamrud sepakat bertemu secara intens untuk merencaknakan rekaman ulang “Nggak Mungkin”. Sekaligus menjajaki kemungkinan membentuk satu grup band.

Di rekaman ulang “Nggak Mungkin”, Mang Arik tidak lagi main jembe tetapi menggebuk drum. Dilengkapi isian bass dari Dek Dwi, personel band Kalimasada. Karena Dek Dwi tak mungkin bergabung jadi personel tetap, Digaetlah Putu Juni Adi Sudana Putra yang “dibujuk” beralih dari pemain drum menjadi pemain bass.

Maka, 20 Februari 2020, Sudya Band resmi dibentuk dengan target lebih banyak lagi menghasilkan karya. Tanpa banyak perhitungan dan berpikir rumit, dalam waktu singkat terciptalah sejumlah lagu yang direkam secara live dan menjadi materi album pertama yang diberi judul “Briag Briug Ngalih Lega”.

Meskipun tak lama setelah rekaman, pandemic Covid-19 kian meluas, namun tak mengurangi semangat personel Sudya Band untuk terus berkarya. “Semua personel mempunyai slogan yang sama, no music no live,” jelas Suaka.

Dalam berkarya, Sudya membuat lagu dengan tiga bahasa, Bali, Indonesia, dan Inggris. Alasannya, Bali sudah dikenal di seluruh dunia. Di Bali tak hanya tinggal orang Bali, namun juga warga dari luar Bali, bahkan juga dari negara lain. Lagu berbahasa Bali untuk menunjukkan bahasa daerah, lagu Indonesia untuk menunjukkan bahasa nasional dan lagu berbahasa Inggris untuk mewakili bahasa internasional. Masing-masing bahasa membawa kesan tersendiri dan membangun karakter lagu yang berbeda.

Soal nama Sudya, menurut Komang Suaka, diambil dari kata sudi dan ya yang maknanya berkenan ya. “Kami percaya yang namanya jodoh. Jadi kami pikir inilah jodoh kami di musik, dan dan sampai sekarang kami berjalan baik dan makin hari makin baik. Itu karena kami punya tujuan yang sama. Inilah yang membuat kami dalam waktu singkat bisa merampungkan album pertama Briag Briug Ngalih Lega,” jelasnya.

Saat ini, Sudya Band sedang merencanakan album kedua yang sudah digadang-gadang akan keluar dengan judul “Skip The trouble”. Akan ada 12 lagu di album ini, dan sudah separuh jalan penggarapan. Walaupun dalam masa krisis seperti sekarang, semangat takkan pernah padam, sesuai prinsip no music no live.

“Mudah-mudahan pandemi cepat berakhir jadi kami bisa manggung kembali. Fokus kami sekarang mempromosikan lagu melalui kanal Youtube juga radio-radio di Bali dan luar Bali. Jika tak ada aral, Juni tahun depan kami diundang menjadi band pembuka Lake Festival di Jerman. Selebihnya kami serahkan kepada alam semesta,” demikian Komang Suaka. (231)

About the author