Lagu “Bali Tolak Reklamasi” bukan Trik Jualan

TBR2

Jerinx “SID”, Brianna Simorangkir, Sari “Nymphea”, Kupit “Nostress” dan Boby “SID”

“Sebelumnya persoalan tak setuju reklamasi Teluk Benoa dari kalangan musisi terkesan hanya ada dua kubu saja, Navicula dan SID, hingga muncul anggapan itu semacam marketing gimmick (trik jualan-red.) saja. Setelah masyarakat luas melihat videonya, banyak seniman dari berbagai genre tertlibat, orang lain mulai yakin, ini tak sekadar jualan. Ini serius dan harus disikapi bersama-sama.” (Jerinx).

MUSISI Bali menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah sosial, itu sudah biasa.  Sebut misalnya Jerinx “Superman Is Dead” yang menggagas sejumlah gerakan sosial, begitu pula grup band Navicula bahkan penyanyi pop Bali seperti Nanoe Biroe tak ketinggalan. Namun kalau sejumlah musisi dan penyanyi Bali bergabung bersama-sama untuk satu gerakan peduli terhadap masalah sosial kemasyarakatan dan lingkungan, ini baru pertama kali terjadi. Lewat lagu “Bali Tolak Reklamasi”, mereka lebih lantang angkat bicara.

Sebetulnya lagu “Bali Tolak Reklamasi” sudah mulai dipublikasikan dalam format MP3 dan di-upload ke situs Youtube sejak pekan lalu. Namun secara “resmi” lagu kritik sosial ini diluncurkan dan diperkenalkan kepada awak media di Denpasar, Rabu (28/8) kemarin.  Lebih dari 20 musisi Bali terlibat dalam rekaman single “Bali Tolak Reklamasi” (BTR), seperti personel Superman Is Dead  – Jerinx, Bobi, Eka –, Robi “Navicula”, Sari “Nymphea”, Joni Agung, The Dissland, Para Brandals, Saras Dewi, GoldVoice, Thebullhead Bali, Brianna Simorangkir, The Hydrant, dan tentu saja Kupit dari  Nostress yang menciptakan lagu ini.

Menurut Kupit, ide untuk membuat lagu BTR berawal dari keikutsertaannya bersama grup nostress dalam diskusi dengan teman-teman musisi dan LSM yang menolak reklamasi Bali. “Untuk lirik lagunya saya ambil dari posting-an seorang teman di FB, lalu saya ubah sedikit, dan kami buat lagunya yang kemudian dinyanyikan saat demo di DPRD Bali. Ya prosesnya langsung saja terjadi seperti itu,” jelasnya.

Bak gayung bersambut, Jerinx SID kemudian menyampaikan kepada Bobi, bagaimana kalau lagu tersebut direkam saja. Maka dengan tangan terbyka Bobi mempersilakan rekan-rekan musisi memanfaatkan studio Electrohell yang dikelolanya untuk digunakan sebagai tempat rekaman. Saat inilah sejumlah musisi lintas genre kemudian ikut ambil bagian.

“Saya sangat senang kalau studio saya dipakai untuk hal-hal yang sangat positif seperti ini. Kalau ada teman-teman lain yang mau berbuat apa saja untuk kemajuan Bali, membutuhkan tempat untuk merrekam, silakan hubungi saya, free,” tambah Bobi disambut tepuk tangan seluruh yang hadir.

Bagi Jerinx sendiri, single TBR lihat lebih sebagai “validasi” opini. Jika sebelumnya persoalan tak setuju reklamasi Teluk Benoa dari kalangan musisi terkesan hanya ada dua kubu saja, Navicula dan SID, hingga muncul anggapan itu semacam marketing gimmick (trik jualan-red.)saja. “Masih ada opini seperti itu. Nah, setelah masyarakat luas melihat videonya, lalu ada Gendo yang ikut berorasi, banyak seniman dari berbagai genre tertlibat, orang lain mulai yakin, ini tak sekadar jualan. Ini serius dan harus disikapi bersama-sama,” papar Jerinx.

Dijelaskan pula, single TBR ini idenya sangat sederhana, mereka yang begabung dalam Forbali (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) ingin menjadikan gerakan TBR sepopuler mungkin di seluruh kalangan masyarakat. Salah satu cara mempopulerkannya adalah lewat lagu, karena lagu cepat masuk ke kepala orang, dibandingkan dnegan orasi. *231

BTR

Sejumlah musisi Bali menyanyikan lagu “Bali Tolak Reklamasi”