Joni Agung Double T ‘Gas Pol’ di Album “Semara Ratih”

Joni Agung Double T bersama Bagus Mantra (paling kiri) dari Pregina Showbiz

SETELAH merilis tiga single sebelumnya, Joni Agung Doublet T (JATT) akhirnya merampungkan satu album penuh. Selain rilis melalui sejumlah digital platform digital, album yang diberi judul “Semara Ratih” ini juga dirilis dalam bentuk CD audio. Menariknya, JATT seperti gas poll di album terbaru ini, dengan memasukkan 17 lagu baru dan bonus track 3 lagu yang sudah dirilis single sebelumnya.

“Kenapa harus 20 lagu sekaligus? Mungkin terlalu maksa kesannya, tapi ya begitulah, ada banyak karya baru yang bisa dibagikan, kenapa tidak sekalian saja?” ujar Bagus Mantra dari Pregina Showbiz yang menangani JATT sedari awal pemunculannya di awal 2000-an.

Pemilihan judul album juga lagu pertama “Semara Ratih”  pun diikuti dengan penggunaan gambar wayang untuk sampul album. Banyak yang keliru memaknai “Semara Ratih” karya JATT ini seperti makna umumnya, tentang sepasang kekasih.

“Makna Semara Ratih di sini bisa sebagai refleksi perjalanan kami di band yang sudah 17 tahun berkarya dengan lagu-lagi orisinil. Ibarat orang, 17 tahun adalah usia beranjak dari remaja ke dewasa, jadi bagaimana kami mendewasakan diri dalam berpikir, berucap dan bertingkah laku, yang mana itu kami tuangkan dalam bentuk karya lagu,” jelas Gung Joni, pentolan JATT saat temu wartawan di Denpasar, Selasa (5/2).

Ada banyak keistimewaan lain dari JATT di album ke-7 nya ini, selain seabrek lagu yang tetap dominan bernuansa reggae. Dominan? Iya, karena di album ini, JATT mencoba mengeksplorasi lebih banyak lagi genre musik mulai dari reggae techno, rock steady, pun irama latin hingga world music. “Ibarat kata, Joni Agung Double T kali ini seperti warung,  makin banyak ‘menu’ yang ditawarkan,” ujar Gung Joni.

Lain dari itu, JATT juga melibatkan sederet musisi lain untuk berkolaborasi, seperti Gus Teja yang turut mengisi “Peteng di Kintamani”, Gung Jack dari band reggae Soullast yang iikut menyanyi di lagu “Bukan Aku”, Dewa Ayu Trias yang duet di lagu “Selalu Begitu”, hingga Suradipa yang memainkan akustik gitar di lagu “Semara Ratih”. Dari 20 lagu yang dinyanyikan JATT, kali ini lebih banyak menampilkan lirik lagu berbahasa Indonesia daripada lagu berbahasa Bali.

Awalnya grup yang biasa “ngamen”, tampil regular di tempat hiburan di seputaran Sanur dan Legian ini mulai terjun ke rekaman lagu berbahasa Bali sejak 2004. Terbilang cukup sukses, mereka sudah merekam album “Pocol” (2005), “Pul Si No Ge” (2006), “Melalung” (2007) dan “Perbedaan Itu Indah” (2014). Namun demikian titik balik bagi Joni Agung & Double T justru baru terlihat dalam dua tahun terakhir, khususnya setelah booming album “Persaudaraan Tanpa Batas” yang dirilis awal 2017 lalu. Album inilah yang seperti membangkitkan, melambungkan grup reggae berbahasa Bali ini sebagai bintang panggung yang laris manis tiada henti. Saat ini, mereka masih eksis dengan formasi Joni Agung (lead vocal), Mayun (keyboard, vokal latar), D’ Alit (gitar, vokal latar), Tilem (bass), Rodi (drum), dan Sandi (biola,terumpet). Sebelumnya, JATT merilis album “Cinta dan Kasih Sayang” di tahun 2018. (231)

About the author