Sama-sama Hobi Menyanyi, Akhirnya Rilis Album “Keroyokan”

RILIS album keroyokan, atau kompilasi sejumlah penyanyi, pernah menjadi trend di kancah musik pop Bali. Jika belakangan banyak penyanyi yang jalan sendiri dan merilis rekaman masing-masing, Ananta Pro justru masih menyimpan semangat untuk berkarya bersama-sama. Hasilnya satu album produksi Ananta Pro yang merangkum rekaman 9 penyanyi pop Bali, baik yang menyanyi solo atau duet.

Seluruh lagu yang terdapat di album kompilasi ini juga sudah dilengkapi dengan musik video sehingga semakin kuat dan pesan yang disampaikan pun mudah dicerna oleh penikmat musik Bali. Tu Ananta selaku pemilik Ananta Pro yang menaungi album kompilasi itu mengatakan, pihaknya memberi

memberikan kebebasan kepada masing-masing penyanyi untuk mempublikasikan karya masing-masing. “Kami telah sepakat untuk itu. Karena kami memang tidak terikat dan kami bernyanyi untuk menyalurkan hobi saja,” ujarnya.

Penyanyi yang terlibat di album kompilasi ini di antaranya I Made Budiarta Wiryawan (Made Doremi) yang membawakan lagu “Pelih Pejalan” ciptaan Remonatha dan “Jiwa Tersiksa Hati Merana” cipt De Yasa dan Somantara. Selain itu juga ada I Wayan Kurniarta yang menyanyikan “Karmapala” ciptaan Yan Artha & Tu Ananta dan  “Depang Beli Pedidi” ciptaan  Tu Ananta. Ada pula Agus Gede Wedantara yang membawakan lagu “Playboy” ciptaan sendiri dan “Rindu Setengah Mati”.

Niart untuk menggarap album kompilasi, menurut Tu Antara karena dorongan untuk turut melestarikan budaya dan seni bali khususnya bahasa Bali ke dalam bentuk karya lagu. Rata-rata mereka yang terlibat di album kompilasi ini adalah penyanyi pendatang baru yang mempunyai jiwa penghibur dan rasa kekeluargaan luar biasa.

“Prosesnya lumayan, sekitar dua tahunan saya mencari dan menyeleksi penyanyi yang akan diajak bergabung. Tiap penyanyi ambil mempunyai warna vokal berbeda dan warna musik berbeda pula. Album kompilasi kami tidak diproduksi dalam bentuk fisik. Kami memanfaatkan teknologi sistem informasi atau media sosial  yang sudah sangat luar biasa untuk mempublikasikan karya kami,” jelas Tu Ananta. (231)

About the author