Tampil Beda di “On Fire”, Gus Teja Kaget Sendiri

Gus Teja

MUSISI Bali yang dikenal dengan tiupan serulingnya, Gus Teja, baru saja meluncurkan karya terbarunya yang diberi judul “On Fire”. Menariknya, di lagu ini Gus Teja tak hanya tampil beda dari video klip, namun juga konsep musik yang upbeat. Hasilnya, Gus Teja mengaku kaget sendiri. Kok bisa?

Saat dihubungi mybalimusic.com, Senin (30/12), musisi asal Junjungan, Ubud ini mengaku sejak awal memang sengaja ingin membuat sebuah karya dengan kesan yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Misalnya saja untuk musik, ia memilih musik yang upbeat, mengangkat musik masa kini  dan memadukannya dengan gamelan

“Saya pun dibuat terkejut dengan hasilnya. Telinga saya yang terbiasa mendengar musik ala saya, kini dihentak, dikejutkan dengan satu komposisi musik yang bagi saya baru dan terdengar sedikit nyeleneh. Tapi ini menyenangkan, dan saya tak menduga hasilnya akan sebagus ini, hehehe …. Saya kira penikmat musik kami juga dibuat terkejut setelah mendengarkan,” komentar Gus Teja.

Ia pun menjelaskan, untuk menciptakan lagu “On Fire” ia hanya memakai aplikasi garage band, satu aplikasi gratisan dari MacBook. Setelah tercipta, barulah kemudian proses berikutnya diselesaikan di studio rekaman, dan tak terlalu lama memakan waktu. “Yang lama malah menunggu ilhamnya,” celetuk Gus Teja.

Musisi jebolan program magister (S2) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini tak memungkiri, keputusannya untuk membuat satu karya yang lebih kekinian untuk memperluas jangkauan penggemar musiknya. “Sejak dulu saya selalu berfikir agar karya saya bisa dinikmati oleh semua orang tanpa mengenal sekat budaya, adat dan lain-lain. Pertimbangan mengikuti pasar itu bukan prioritas, tapi bagi saya sebagai bonus,” katanya.

Selama 10 tahun lebih, Gus Teja berusaha membuat rekaman sendiri dan memperkenalkannya ke masyarakat luas. Musik instrumental yang dimainkannya, dikemas ke dalam bentuk rekaman CD audio dan mampu mencatat angka penjualan fantastis. Diawali dari “Rhytm of Paradise” (2009), “Flute for Love” (2011), “Ulah Egar” (2015), dan “Sundara” (2017). Sejauh ini, Gus Teja melihat masyarakat mengapresiasi dengan baik sekali karya-karyanya. Tak hanya masyarakat Indonesia saja, tetapi juga mancanegara. Angka penjualan yang cukup lumayan, baginya merupakan hasil yang lebih dari cukup untuk sebuah manajemen sederhana yang dilakukannya. Tentu selain itu ia juga menikmati hasil cukup bagus untuk penjualan karya secara online di platform digital seperti iTunes tiap tahun makin meningkat juga,” tambahnya. (231)

Gus Teja World Music

About the author