Dua Tahun KJ, Berbagi dan Menghibur

APA yang dilakukan satu grup untuk mendai hari jadi atau momen terbentuk mereka? Banyak yang merancang satu acara khusus, bertemu dengan penggemar, atau melakukan kegiatan sosial. Seperti grup musik Keroncong Jancuk (KJ) yang memilih untuk menyambangi panti asuhan, menandai dua tahun grup ini.

“Kami sengaja berkunjung ke panti asuhan, ya sekadar berbagi dan menghibur adik-adik di panti. Intinya kami ingin berbagi kepada temen-teman, yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang serta layak dibantu. Kalau bikin party khusus untuk anniversary, tahun lalu kami sudah lakukan,” jelas Phaii, vokalis KJ kepada mybalimusic.com di Denpasar, Senin (16/12).

Ditambahkan, ke depannya KJ akan mengobca mengagendakan sebulan sekali bisa melakukan aksi sosial, mulai awal 2020.Memasuki tahun ketiga saat ini, Phaii mengaku KJ sangat bersyukur bisa makin diterima penggemar musik. Tak ingin dianggap besar kepala dengan apa yang sudah dicapai, ke depannya KJ akan tetap menjaga rasa dan jalinan kekeluargaan dengan penggemar maupun penyelenggara acara yang mengundang mereka tampil.

“Kami tidak terlalu kaku atau saklek soal harga main tiap event, karena misi kami memang untuk menghibur,” kata Phaii.

Didukung banyak personel, Phaii mengakui memang tak mudah untuk menjaga dan meneruskan KJ. Salah satunya mungkin karena banyaknya personel dan banyak otak yang menjadi pemikir, jadi untuk menyatukan ide sering kali harus debat terlebih dahulu. Diakui pula, jadi satu pekerjaan tak mudah untuk membesarkan KJ, karena mungkin masih banyak pendengar musik yang “awam” dengan musik seperti yang mereka mainkan.

Hingga saat ini, KJ masih didukung Phaii (gitar, vokal), Diah (vokal), Tomcat (ukulele cak), Panjul (ukulele cuk), Mang Pur (bass), Godel (kendang Sunda), Bajra (aerophone), dan Eka John (ddrum). Jika dalam tiap penampilannya KJ selalum menggandeng sejumlah penari jogged, menurut Phaii bukanlah hal yang rumit. “Kami hanya ingin tradisi yang sepertinya sudah mulai dilupakan dan banyakdianggap negatif ini, citranya kembali baik. Yang membuat joged bumbung itu dipandang negatif bukan dari tariannya, melainkan karena ulah oknum penarinya. Jadi kami coba mendemokan stop joged jaruh,” demikian Phaii. (231)

About the author