Melihat Bali dari Sudut Pandang Anak-anak

Michelia Chika Cempaka dan Angling Kenaka

CHIKA, penyanyi lagu pop Bali kanak-kanak merilis rekaman terbarunya. Bukan hanya single, kali ini ia sudah melompat lebih tinggi dengan menghasilkan mini album berjudul “Di Beten Langit Bali”. Lewat lima lagu yang terangkum dalam rekaman ini, pesan kuat yang ingin disampaikan, bagaimana melihat Bali dari sudut pandang anak-anak.

Kepada awak media di Denpasar saat acara peluncuran album, Minggu (20/10) malam, ayah Chika, Made Subrata sebagai produser menjelaskan, lagu-lagu di album “Di Beten Langit Bali” disusun sedemikian rupa sebagai satu rangkaian yang punya benang merah tersendiri.

Rekaman dalam format DVD video klip ini diawali dengan “Di Beten Langit Bali”, berlanjut ke lagu permainan “Ketekak Ketekok”, hingga “Budaya Bali Adiluhung” yang diharapkan dapat membuat anak-anak  makin mengenal budaya warisan leluhur yang perlu dilestarikan. Indahnya Bali, kebahagiaan dan kedamaian serta keceriaan anak-anak dapat dirasakan karena Bali adalah “Jagat Kayangan”. Hingga akhirnya  itu semua memunculkan rasa “Seneng Dados Nak Bali”.

Lagu  “Seneng Dadod Nak Bali” merupakan single pertama Chika yang dirilis tepat setahun silam. “Meskipun ini mini album, tapi kami konsep dan kerjakan sedemikian rupa. Kalau kata mamanya Chika, mini tapi maksi. Karya boleh mini tapi hasil harus maksimal, Karenanya untuk mendapatkan hasil terbaik, kami tidak kejar target saat mengerjakan semuanya,” ujar Made Subrata.

Soal pilihan lagu dari tiga pencipta yang berbeda, dijelaskan semata untuk mendapatkan warna karya yang berbeda agar lebih bervariasi. Jika Komang Raka sudah diakui sebagai komposer yang banyak menghasilkan hits lagu komersil, karya-karya Komang Darmayuda sudah diketahui kesan megahnya sebagai lagu berkelas festival, sedangkan lagu karya Gus Saka kuat dengan kesan ballad.

Tak cukup sampai di sana, muncul satu pemikiran, apa yang akan menjadi tak hanya pemanis namun daya tarik kuat dari “Di Beten Langit Bali” yang membedakannya dengan rekaman lagu anak-anak berbahasa Bali lain. Lagu “Ketekak Ketekok” yang dikonsep sebagai gending rare (yang mana karya sejenis kini makin jarang muncul), kemudian dipilih untuk dinyanyikan duet.

“Usul dari pencipta lagu, duetnya pakai anak laki-laki, biar beda. Kalau duet anak-anak perempuan sudah cukup banyak. Pilihan jatuh pada Angling Kenaka, penyanyi anak-anak yang sudah kerap menjuarai lomba. Gayung bersambut, orangtua Angling setuju, dan tak perlu waktu lama untuk mengeksekusi ide ini,” jelas Made Subrata.

Baik Chika yang punya nama lengkap Michelia Chika Cempaka maupun Angling sama-sama mengaku senang bisa menyanyi duet lagu anak-anak. Tak hanya di rekaman dan video klip, keduanya juga kompak dan menunjukkan chemistry yang kuat saat tampil langsung menyanyikan “Ketekak Ketekok” di hadapan undangan.

“Di Beten Langit Bali” bisa dikatakan project “keluarga”. Menurut Made Subrata, selain memang melibatkan saudara juga keluarga besar Chika, pihak lain yang turut serta seperti pencipta lagu, penata musik Dek Artha, videographer Yasa Sega, dan yang lainnya sudah seperti keluarga, yang kompak untuk menuntaskan keseluruhan proses sejak awal tahun. (231)

About the author