Pameran Gitar Lukis dan Buku “Dawai-dawai Dewa Budjana”

Mimpi Jadi Nyata karena Hubungan Seni

budjana0

Dewa Budjana

MUSISI menggunakan gitar yang dihiasi dengan lukisan, mungkin sudah biasa. Lalu bagaimana kalau gitaris memiliki koleksi 30 lebih gitar berhiaskan lukisan dari berbagai generasi pelukis di Tanah Air? Bagaimana pula kalau koleksi gitar berlukis itu kemudian dibuatkan buku, dan dipamerkan?

Mungkin ini yang pertama kali di Indonesia bahkan bisa jadi juga di dunia. Hal ini pula yang dirasakan Dewa Budjana, gitaris yang akan meluncurkan buku “Dawai-dawai Dewa Budjana” sekaligus pameran gitar lukis di Jakarta, bertepatan dengan ulang tahun emasnya, 30 Agustus mendatang. “Sepertinya ini yang pertama di Indonesia … saya nggak tau kalau di dunia,” ujarnya kepada mybalimusic, Kamis (22/8).

Bagi gitaris berdarah Bali ini, peluncuran buku dan pameran gitar lukis yang akan berlangsung hingga 1 September tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting juga istimewa. Tak ubahnya mimpi yang menjadi nyata. Jika biasanya hanya peluncuran album rekaman – baik bersama GIGI, solo gitar maupun Nyanyian Dharma — namun kali ini berbeda karena yang diluncurkan adalah buku tentang koleksi gitarnya yang dilukis perupa ternama di negeri ini.

“Dikatakan penting, karena ini merupakan peristiwa budaya nasional di mana melibatkan dunia seni rupa dalam guitar, juga dunia fotografi,” tambah Budjana.

Cover Buku "Dawai Dawai Gitar Dewa Budjana"

Cover Buku “Dawai Dawai Gitar Dewa Budjana”

Buku yang ditulis wartawan senior Bre Redana dengan prakata oleh Gunawan Mohamad itu melibatkan sejumlah fotografer kenamaan. Sedangkan perupa yang turut menorehkan kreativitas mereka ke atas gitar Budjana dari berbagai generasi, dari yang tertua Joko Pekik (Jogja) hingga Syagini Ratna Wulan atau Cagi (Bandung). Selain itu tercatat nama-nama tak asing lagi seperto Gunarsa, Made Wianta, dan Djeihan. Sementara perupa paling senior Arie Smith tidak bersedia melukis karena kondisinya sudah agak susah. Namun Arie Smith berkenan membubuhkan tanda tangannya pada salah satu gitar Budjana.

“Semua ini lebih ke hubungan saya di luar musik saja. Yang mungkin bagian paling bermakna dan tersulit adalah, ini karena hubungan seni. Saya sama sekali tidak mengeluarkan biaya untuk semua lukisan tersebut. Ini yang susah didapat, mungkin saja ada orang yang banyak uang akan bisa bayar berapa saja ke perupa itu, tapi si perupa belum tentu mau juga. Inilah seni,” jelas gitaris kelahiran Waikabubak, 30 Agustus 1963 ini.

Dewa Budjana pertama kali menggunakan gitar lukis awal 2000. Walau sesungguhnya sekitar 1983 ia pernah mencoba, namun “tidak sukses” sehingga tidak digunakan untuk main. Sementara ide untuk membukukan koleksinya itu muncul tahun 2009. Sebetulnya koleksi yang gitar lukisnya hampir mencapai 40 buah, namun yang akan dipamerkan nanti hanya 34 saja.

Ke depan, ayah dua putra ini menyatakan masih punya impian untuk dapat membuat museum gitar. Alasannya sederhana saja, anak dan cucu kelak belum tentu main gitar, sehingga koleksinya sekarang akan menjadi sesuatu yang tak berguna. Karenanya museum menjadi pilihan untuk menyimpannya. *231