Bramasta Bangkit Lagi dengan “Bali Rahayu”

BramastaMASIHKAH merilis satu album rekaman menjadi kebanggaan bagi satu grup musik? Setidaknya itulah yang dirasakan Bramasta Band. Di tengah kegamangan banyak musisi dan penyanyi untuk menggarap rekaman dalam konsep album penuh entah dalam bentuk digital atau fisik, mereka dengan yakin melepas satu album baru berjudul “Bali Rahayu”.

Konsisten membawakan lagu berbahasa Bali, Bramasta menampilkan 10 lagu baru di sini, diawali dengan “Ajeg Bali”, disusul “Tusing Abesik”, “Cinta Palsu”, “Tresna tulus sujati”, “Bulan Bintang”, “Cewek Sexy”, “Komang”, “Cinta Terlarang”, “Ajahin Bli Satya”, dan ditutup “Bali Rahayu”. Kepada mybalimusic.com, Gus Yudik sebagai vokalis menjelaskan album ke-3 ini menandai pemunculan kembali Bramasta setelah sempat vakum sekitar lima tahun.

“Bramasta mencoba untuk bangkit kembali dengan formasi baru dan nuansa musik yang lebih fresh baik dari segi lirik dan aransemen lagu,” ujarnya.

Mengusung musik slow rock, Bramasta mencoba tetap dengan karakter band dari semula. Dibentuk 2008, grup yang didukung personel yang seluruhnya berasal dari Tabanan ini sengaja memakai nama Bramasta sebagai singkatan dari band rock asal Tabanan. Di tahun 2009 mereka merilis album pertama berjudul “Ajeg Bali”, disusul “Generasi Bramasta” tahun 2012. Sayangnya 2014 grup ini tak lagi aktif bahkan bisa dibilang bubar. Hingga pertengahan 2018 lalu Putra Sentanu, gitaris sekaligus pendiri band berniat membangkitkan lagi Bramasta. Ia pun mengajak personel baru, sejumlah musisi muda berbakat seperti Gus Yudik yang mengisi vokal , Yuda mengisi gitar ritem, Gage bermain bass, dan Erlan bermain drum.

Menurut Gus Yudik, dipilihnya “Bali Rahayu” sebagai jduul album seiring dengan berkembangnya jaman, di mana pemikiran orang-orang makin modern dan budaya Bali makin banyak yang ditinggalkan. “Lewat lagu kami ingin mengajak masyarakat untuk saling menjaga Bali agar tetap ajeg dan rahayu, baik dari alam dan kehidupan sosialnya. Harapan kami, semeton di Bali bisa saling asah, asih dan asuh ,” demikian Gus Yudik. (231)