Truedy, Mencari Jati Diri di Musik

Truedy1

Truedy

NAMANYA singkat saja, Truedy. Ia seorang musisi muda dari Bali yang mulai angkat nama dalam kurun waktu setahun terakhir. Bukan semata karena baru saja lagunya berjudul “Senja” digunakan sebagai salah satu soundtrack film layar lebar berjudul “Martabak Bangka”. Lebih dari itu, ia menjadi satu dari sedikit sekali musisi wanita yang memilih instrumen grand piano sebagai “mainan” sekaligus menyanyi pula. Meskipun dengan merendah, Truedy mengaku masih berproses mencari jati diri di musik.

Sebelumnya, Truedy sempat mencuri perhatian penikmat dan pengamat musik lewat satu karyanya yang berjudul “One Thing”. Karya yang menurut Truedy “paket hemat” — karena direkam secara live sekaligus pembuatan video klip di salah satu gedung di Yogyakarta – tersebut mendapat respons bagus. Setidaknya menjadi satu langkah awal, perkenalan yang menarik dari seorang Truedy.

Kiprah wanita kelahiran 25 Mei 1991 ini di dunia musik tak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, yang juga banyak berkecimpung di musik. Memiliki orangtua yang keduanya musisi, memang tidak serta merta menjadikan Truedy yang dilahirkan di Malang menjadi musisi juga. Bahkan meskipun sedari kanak-kanak ‘”godaan” bermusik sudah muncul, toh kedua orangtuanya tak pernah menginginkan sang anak menjadi musisi pula. “Mereka mendukung talenta saya di musik, cuma kalau bisa saya punya background yang lain. Jadi musik itu hanya hobi,” ujarnya.

Truedy yang awalnya hanya menyanyi, mulai bersentuhan langsung dengan alat musik khususnya piano pada umur 18 tahun setelah tinggal di Bali. Bermula ketika selepas SMA, ia memutuskan untuk merantau ke luar daerah dengan melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali, mengambil konsentrasi event management. Di pulau dewata, peluang Truedy untuk menyalurkan dorongan bermusik kian terbuka. Maka sembari kuliah, ia mulai bermusik dan menyanyi sekaligus mencari uang saku.

Hingga ada kesempatan salah satu hotel bintang lima di daerah Jimbaran mencari musisi untuk bermain regular, Truedy nekat ikut. Nekat? Iya. Karena yang dicari adalah musisi yang bisa memainkan grand piano. Saat itu Truedy baru bisa memainkan hanya empat lagu saja. Atas dorongan dari sang Ibu yang mulai mendukungnya di musik, Truedy memutuskan ikut audisi.

“Sebetulnya saat itu saya tidak berpikir akan diterima atau tidak. Bayangan saya hanya satu, bermain dengan grand piano. Setidaknya ini akan menjadi pengalaman sangat berharga bagi saya. Eh, ternyata saya terpilih, dan saya punya waktu satu bulan untuk memainkan lebih banyak lagi lagu-lagu lainnya,” cerita musisi yang masih terhitung keponakan dari penyanyi rock lawas Silvia Saartje.

Jadilah, sejak saat itu sembari kuliah Truedy bisa menyalurkan keinginan dan hobinya bermusik, sekaligus mendapatkan penghasilan tentunya. Tak hanya bermain di hotel, ia juga mulai mencoba tampil di beberapa acara, yang makin memperkenalkan keberadaannya sebagai pianis sekaligus vokalis.

Di tengah aktivitas main di berbagai kesempatan itulah, pelan-pelan mulai muncul keinginan untuk menghasilkan karya cipta sendiri. Bukan sesuatu yang baru sama sekali sesungguhnya, karena sejak 2011 Truedy sudah mulai mencoba membuat sejumlah komposisi lagu, yang menjadi semacam catatan buku hariannya. Hanya saja karya-karyanya tersebut lebih untuk konsumsi sendiri, tidak direkam dan disebarluaskan. Namun dorongan kuat baginya bahwa kebanggaan seorang musisi adalah punya karya sendiri sebagai satu pencapaian, satu pembuktian, Truedy mulai mencoba merekam lagu pertama “One Thing” di tahun 2018.

“Kenapa judulnya one thing, di sana tertuang alasan mengapa saya menulis lagu. Karena itu semacam pencarian jati diri saya. Nah, saya berpikir bagaimana dengan dana yang sangat terbatas saya bisa rekaman ini. Karenanya saya memutuskan untuk melakukan live record sekaligus untuk video klip. Untuk lokasi suting, saya memakai salah satu gedung di Yogyakarta yang selain pas untuk lokasi juga karena di sana ada grand piano,” paparnya.

Gegara video perdananya itu pula, mulai banyak yang tahu sosok musisi bernama lengkap Geertruedy Sabatini ini. Meskipun rekaman awal menurutnya masih ala kadarnya, dikerjakan spontan, belum tahu betul bagaiman melakukan promosi yang layak, intinya belum begitu memahami bisnis di bidang ini. Namun dukungan dari keluarga, teman-teman, kian mendorongnya untuk terus berkarya. Setelah sekian lama tidak pernah berkomunikasi intens dengan kerabatnya, ia pun mencoba menghubungi saudara sepupunya di Jakarta dan memberitahukan akan karya-karyanya. Bak gayung bersambut, sepupunya yang ternyata tengah menggarap film layar lebar itu tertarik dengan salah satu lagu berbahasa Indonesia karyanya. Jadilah lagu berjudul “Senja” karya Truedy diangkat sebagai salah satu penghias film “Martabak Bangka” yang akan beredar secara nasional akhir bulan ini.

Truedy2

Truedy

Kini di tengah kesibukan “ngamen”, tampil di berbagai tempat hiburan, Truedy kian intens menyiapkan lagu-lagu ciptaannya untuk satu album yang diharapkan bisa rampung dan dirilis tahun ini. Sebagian lagunya berbahasa Inggris, sebagian lagi berbahasa Indonesia. Temanya pun terbilang beragam, yang tercipta dari pengalaman pribadi Truedy sendiri sedari remaja hingga dewasa.

“Meskipun sekarang eranya digital, saya punya keinginan nantinya akan merilis album ini secara fisik dalam bentuk CD audio misalnya. Selain menjadi satu pencapaian, saya berpikiran dengan cara inilah saya bisa mengumpulkan lagi biaya yang dikeluarkan, untuk penggarapan album selanjutnya,” kilah wanita berdarah Indonesia Timur-Jawa dan masih ada keturunan Belanda ini.

Menariknya, di sela-sela aktivitasnya itu, Truedy yang kini sudah bisa memiliki grand piano sendiri punya niat kuat untuk berbagi kemampuan sekaligus memberikan peluang munculnya bibit-bibit pemain piano baru. Tiap akhir pekan ia pun membuka kesempatan kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya di Nusa Dua untuk belajar bermain piano secara cuma-cuma.

Ia paham, banyak anak-anak yang berminat dan berbakat di musik, namun tak punya kesempatan untuk belajar karena berbagai kendala. Untuk itulah ia merasa senang bisa berbagi meskipun masih dalam skala terbatas. “Ada sekitar lima anak yang secara rutin datang datang ke rumah, saya ajari mengenal dan bermain piano,” demikian Truedy. (231)

Truedy3

Truedy