Lebih Serius Garap “Republik Jancuk”

KJa

Kroncong Jancuk

GRUP musik Kroncong Jancuk (KJ) “bikin ulah” lagi. Setelah beberapa lagu dengan tema keseharian bergaya humor, mereka merilis satu karya baru yang diberi judul “Republik Jancuk”. Berbeda dari tema sebelumnya, kali ini KJ mencoba menyuarakan kritik sosial secara santai. “Bisa dibilang di sini Kroncong Jancuk lebih serius dalam menggarap lagu, mulai dari penulisan lirik,  pun nanti video klipnya,” jelas Phaii, vokalis grup ini.

Yang menarik pula, “Republik Jancuk” digarap dengan lirik berbahasa Indonesia dan bahasa Kawi. Untuk keperluan itu pula, KJ menggandeng seorang sinden bernama Tina Puspadewi. Luh mata humili sangke guyuning pretiwi, osik kelaran awor ring prihawakasura, tan kerenge muah kidungariris maring kalbu, lahumantuka buanangkwa (air mata menetes dari senyum ibu pertiwi,  meronta kesakitan terjebak dalam ambisi sang rakus,  tak terdengar lagi suara nyanyian kecil dalam raga,  kembalilah semestaku). Begitulah kutipan nyanyian sang sinden.

Pilihan judul “Republik Jancuk”, dikatakan bermakna republik yang mengagumkan. Namun sayangnya dalam republik yang agung banyak oknum mencoba mencabik pertiwi, hingga republik yang diagungkan dalam kondisi seperti sekarang ini. Meskipun sarat dengan nuansa kritik sosial, Phaii menegaskan KJ tidak bermaksud mengkritik pemerintahan, tapi mengkritik orang perorangan atau oknum yang semena-mena merusak alam hanya karena ada kepentingan untuk golongannya sendiri. Laut diuruk, tanah di keruk,  petani dipasung, hingga kebebasan untuk berbicara pun berusaha untuk dibungkam.

Sesuai namanya, sejak dicetuskan, KJ identik dengan musik keroncong. Musik yang mungkin terkesan klasik atau kuno, untuk konsumsi orang tua ini, digubah menjadi lebih asyik untuk generasi muda. Phaii mengakui, kroncong adalah genre yang benar benar susah untuk dimainkan karena sudah memiliki pakem musik yang kuat. Bahkan aawalnya ia takut menyebut genre yang dimainkan adalah keroncong. Itu sebabnya mereka cenderung mengatakan kalau bandnya adalah orkes keroncong.

Didukung banyak personel, Phaii mengakui tak mudah untuk menjaga dan meneruskan KJ. Salah satunya mungkin karena banyaknya personel dan banyak otak yang menjadi pemikir, jadi untuk menyatukan ide sering kali harus debat terlebih dahulu. Diakui pula, jadi satu pekerjaan tak mudah untuk membesarkan KJ, karena mungkin masih banyak pendengar musik yang “awam” dengan musik seperti yang mereka mainkan.

Hingga saat ini, KJ masih didukung Phaii (gitar, vokal), Diah (vokal), Tomcat (ukulele cak), Panjul (ukulele cuk), Mang Pur (bass), Godel (kendang Sunda), Bajra (aerophone), dan Eka John (ddrum). Jika dalam tiap penampilannya KJ selalum menggandeng sejumlah penari jogged, menurut Phaii bukanlah hal yang rumit. “Kami hanya ingin tradisi yang sepertinya sudah mulai dilupakan dan banyakdianggap negatif ini, citranya kembali baik. Yang membuat joged bumbung itu dipandang negatif bukan dari tariannya, melainkan karena ulah oknum penarinya. Jadi kami coba mendemokan stop joged jaruh,” demikian Phaii.  (231)