“Sengkok”, Dek Arya Angkat Tema Sosial Lagi

Arya2

Dek Arya

DALAM bahasa Bali, sengkok diartikan sebagai kondisi fisik seseorang yang mengalami cacat pada posisi tulang tangannya. Namun dalam lagu terbaru yang dinyanyikan Dek Arya, sengkok bisa bermakna lain juga. Sengkok di sini bisa jadi singkatan dari selingkuh kepergok. “Kalau biasanya tangan kan juga digunakan untuk menunjuk. Namun bila tangan cacat atau tidak baik, bisa jadi menunjuk ke jalan yang salah. Misalnya saja tingkah laku seperti selingkuh,” ujar Dek Arya.

Lagu yang aransemen musiknya digarap Sila dari Sila Home Production itu secara garis besar mengisahkan seorang suami yang melihat istrinya mulai berubah, baik dari sikap maupun penampilan. Bagai memberi pertanda atau kan sinyal yang tidak baik. Rasa penasaran yang kuat, tanda tanya yang selalu mengganggu, mendorong si suami berusaha mencari tahu dengan cara mengikuti gerak-gerik istrinya. Segala kekhawatiran terjawab ketika memang benar, si istri dijemput mobil oleh pria lain untuk menuju ke satu tempat.

“Tapi untuk visualnya di video klip, hanya sampai adegan pasangan selingkuh itu turun dari mobil dan masuk ke hotel. Akan bersambung, nanti ada episode ke-2, apakah sang suami akan memaafkan istrinya atau kebersamaan mereka akan berakhir,” jelas Dek Arya.

Penyanyi asal Bangli ini tak memungkiri, sebagian besar lagunya belakangan banyak memuat sindiran dari kehidupan umum di masyarakat, walau kadang ada nuansa kocaknya. Ide untuk menggarap lagu semacam ini, menurutnya banyak muncul dari pergaulan sehari-hari dan media sosial. Saat fokus menulis lagu, ia pun berusaha untuk masuk ke dalam khayalan cerita lagu, sehingga tak jarang apa yang ia ungkapkan dalam lagu bagai gambaran kisah atau pengalamannya sendiri.

“Gak begitu juga. Yang membuat saya percaya diri dan semangat dalam menulis lirik lagu, salah satunya respon penggemar terhadap lagu Bin Cepok Gen . Dari anak muda sampai orangtua banyak yang sampai nangis-nangis, curhat ke rumah. Padahal itu cerita yang saya tulis spontan setelagh membaca salah satu status orang di media sosial,” tutur Dek Arya.

Karena dirasa sudah mulai menjadi ciri khas lagu-lagunya, penyanyi yang sudah belasan tahun aktif di kancah lagu berbahasa Bali ini mengaku akan bertahan di tema-tema sosial. Bagaimanapun ia takkan memungkiri kalau pernah berada pada masa-masa sulit, terpuruk baik dalam berumah tangga, ekonomi, juga pergaulan.

“Dari sana saya ingin berbagi kepada semeton Bali yang masih setia dengan perkembangan lagu Bali. Sedikit tidaknya bisa menghibur atau malah mengobati perasaan di saat mendapatkan masalah seperti apa yang saya tuangkan ke dalam lagu,” demikian penyanyi yang masih banyak diingat dengan lagunya “Uwek Gigis” ini.

Pria kelahiran 9 Agustus 1980 ini mulai berkecimpung di rekaman lagu pop Bali dengan merilis album “Dueg Ngengkebang” (2006). Potensinya menarik perhatian Januadi Record yang kemudian menangani album kedua “Cowok Matre”(2007). Setelah dua album duet tersebut, Dek Arya kemudian lebih banyak berkarya sendiri, dan aktif mengeluarkan karya baru seperti “Duda Kesepian”, “Sekretaris Pribadi”, “Nyembah-nyembah”, “Duda Ketemu Janda”, “Sing Juari”, “Ngelut Mawa Madui”, “Uwek Gigis”, dan terakhir dua tahun silam merilis mini album “Bermain Cantik” bersama Romi Lembong dan Tut King Laguna. Di album ini, Dek Arya juga menyanyikan lagu “Bin Cepok Gen”, “Kas Bon”, dan “Bes Tepuk”. (231)

arya1