Tema Agak “Nyeleneh”, Video Klip Tetap Bernuansa Kuno

KJ

Grup musik Kroncong Jancuk

MAKSUD hati mengajak pasangan bercinta, apa daya si wanita sedang status palang merah. Cerita tentang seorang pria yang “kurang beruntung” ini menjadi jualan grup Kroncong Jancuk (KJ) untuk lagu terbarunya yang diberi judul “Genjek Boncos”.  “Mungkin tema ini sedikit nyeleneh,  tapi di sini kami ingin menyelipkan pesan,  harga diri wanita tak semurah makanan atau barang yang disuka pasangannya,” jelas Phaii, vokalis KJ.

Yang menarik dari karya terbaru KJ di awal 2019 ini bukan hanya lagu, tapi video klip yang digarap dengan konsep seperti satu film. Untuk mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan, Phaii turun tangan menyutradarai sekaligus menyunting video klip ini. Sebagaimana karya-karya sebelumnya, KJ masih belum beranjak dari tema oldiest.

Jika KJ semangat berkarya untuk menghasilkan beberapa lagu dalam setahun, meurut Phaii tak lain karena masyarakat khususnya penikmat musik sudah bisa menerima bahkan makin antusias dengan genre musik yang mereka mainkan. Tentu selain itu berkat dukungan dari teman-teman sesame musisi juga.

Agar KJ makin banyak dikenal Phaii juga mengatakan ada beberapa strategi yang mereka coba. Salah satunya berkreasi di video klip dengan memainkan nuansa kuno namun tak lepas dari sentuhan modern. “Di era teknologi media dan kamera yg semakin maju, saya ingin merekonstruksi kembali nuansa jaman dulu. Intinya bagaimana membuat sesuatu yang berbeda di tempat yang sama atau seragam,” jelasnya.

Setelah merekam 5 lagu berbahasa Indonesia, berikutnya KJ punya rencana akan merekam

lagu berbahasa Indonesia,  dengan tema kritik sosial politik. Begitu pula video klip selanjutnya akan dibuat kolosal lagi. “Kami akan garap lagi dua video klip lagi,” demikian Phaii.

Sesuai namanya, sejak dicetuskan, KJ identik dengan music keroncong. Musik yang mungkin terkesan klasik atau kuno, untuk konsumsi orang tua ini, digubah menjadi lebih asyik untuk generasi muda. Phaii mengakui, kroncong adalah genre yang benar benar susah untuk dimainkan karena sudah memiliki pakem musik yang kuat. Bahkan aawalnya ia takut menyebut genre yang dimainkan adalah keroncong. Itu sebabnya mereka cenderung mengatakan kalau bandnya adalah orkes keroncong.

Didukung banyak personel, Phaii mengakui tak mudah untuk menjaga dan meneruskan KJ. Salah satunya mungkin karena banyaknya personel dan banyak otak yang menjadi pemikir, jadi untuk menyatukan ide sering kali harus debat terlebih dahulu. Diakui pula, jadi satu pekerjaan tak mudah untuk membesarkan KJ, karena mungkin masih banyak pendengar music yang “awam” dengan musik seperti yang mereka mainkan.

Setelah ditinggal pemain bass, saat ini KJ didukung Phaii (gitar, vocal), Diah (vocal), Tomcat (ukulele cak), Panjul (ukulele cuk), Godel (kendang Sunda), Bajra (aerophone), dan Eka John (drum). Dalam tiap penampilannya KJ selalu menggandeng sejumlah penari joged. Salah satu alasanm untuk melestarikan tradisi yang sepertinya sudah mulai dilupakan dan banyak dianggap negatif ini. (231)