“Megibung”, Masekepung Kukuhkan Akustik Genjek Modern

Kepung

Masekepung, dari kiri ke kanan : Dekwiss, Ryos, dan Lenjong

GRUP Masekepung tetap pada komitmennya untuk menghibur sekaligus mengangkat tradisi Bali ke dalam lagu-lagunya. Hal ini terlihat dari album ke-2 mereka, “Megibung” yang siap menyapa penggemar lagu berbahasa Bali. Lewat album ini, Masekepung juga kian mengukuhkan diri sebagai pengusung genre musik yang disebut Akustik Genjek Modern.

Peluncuran album “Megibung” yang ditandai dengan pentas di jaba pura desa Sukawati, Jumat (9/11) malam juga sekaligus sebagai syukuran 5 tahun grup yang berbasis di Sukawati, Gianyar ini. Tiga personel Masekepung, Kadek Ryos (vokal, gitar) Dek Wiss (bass) dan Lenjong (jembe) mengatakan secara keseluruhan tak banyak yang berbeda dari “Megibung” dibandingkan rekaman perdana self titled album “Masekepung” yang dirilis setahun silam.

“Untuk lagu, kami tetap mengambil tema keseharian, mengangkat adat budaya Bali, lagu cinta juga ada,“ ujar Kadek Ryos, vokalis sekaligus gitaris Masekepung di basecamp Masekepung di Br. Dlodtangluk, Sukawati, Jumat siang.

Satu hal yang pasti, mereka mengaku saat ini makin serius dan lebih rapi menggarap rekaman. Ini sebagai bentuk tanggungjawab, juga belajar dari pengalaman yang diraih setelah mencapai popularitas karena lagu “Tuak Adalah Nyawa”(TAN).

“Kalau dulu awalnya kami sekadar menghibur, minum tuak lalu keluar inspirasi menggarap lagu. Setelah TAN, kami makin serius. Apalagi grup juga sudah lama terbentuk, kami terus berbendah, konsep lagu dan musik makin dimatangkan agar makin mudah diterima,” tambah Ryos.

Album “Megibung” yang dirilis dalam format CD audio memuat 8 lagu, diawali dengan lagu “Swastiastu;, “Crit”, “Bajang Jegeg Abiansentul II”, “Megibung”, satu lagu berbahasa Indonesia “Banyak Raga Satu Jiwa”, “Menceng”, “Kene Carane”, dan diakhiri dengan “Mulih”. Lagu “Masekepung” yang dijadikan andalan sekaligus judul album, sudah pula dibuatkan video klip yang ditangani sutrafara Raffly James. Lagu ini juga tak hanya mengangkat salah satu tradisi di Bali, namun juga mencoba menyuarakan kebersamaan, kerukunan, berbagi satu dengan yang lainnya.

Masekepung dicetuskan sejak 9 November 2013. Berawal dari ngumpul sembari genjrang-genjreng dengan teman-teman, hingga akhirnya 2017 mereka mencoba menggarap lagu sendiri dan merekamnya menjadi satu album. Di luar dugaan, “Tuak Adalah Nyawa” sebagai bonus track  malah booming di mana-mana. Sejak saat itu Masekepung mulai banyak tawaran manggung dari acara kecil sampai mengisi panggung besar bersama band-band ternama Bali maupun nasional.

Satu ciri khas Masekepung adalah sekaa cak sebanyak 20 orang yang mengisi genjek dan menjadi pengiring juga latar band. Diakui, inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus kekuatan Masekepung. Tak berlebihan kalau kemudian Masekepung menyatakan musik yang mereka mainkan dengan sebutan Akustik Genjek Modern. (231)