“Suud Ngeling Sambil Manting, Jani Panak Nyebak”

Bayu Cuaca

Bayu Cuaca

BAYU Cuaca tak hanya dikenal sebagai solois pop Bali dengan lagu ringan yang mudah diikuti pendengarnya. Ia juga terbilang kreatif untuk mencari tema lagu sekaligus membuat judul yang unik dan menarik tentunya. Setelah “Ngeling Sambil Manting” (2017), ia baru saja merilis “Panak Nyebak”. Pantaslah kalau seloroh disampaikan kepadanya, suud ngeling sambil manting, jani panak nyebak (habis lagu “Ngeling Sambil Manting”, sekarang lagu “Panak Nyebak”.

“Panak  Nyebak” yang mulai diperkenalkan ke publik akhir perkan lalu, menjadi single kedua Bayu Cuaca di tahun ini, setelah “Batun Kolongan” yang rilis Maret lalu. Lagu ini sendiri, menurut bayu sebetulnya sudah ada atau ia ciptakan setahun lalu. Ide membuat lagu ini bermula dari kisah apa yang dialami Komang, saudara sepupunya, yang sama persis seperti di lagu. Sekitar setahun ia ditinggal merantau oleh istrinya yang bekerja di luar negeri, Komang merindu setiap hari dan harus menjadi bapak sekaligus ibu untuk anaknya.

“Tema lagu ini tentang kerinduan. Itulah yang mendasari saya membuat lagu tersebut,” ujar Bayu Cuaca kepada mybalimusic.com.

Dikatakan, ada sedikit yang berbeda dari lagu ini jika dibandingkan dengan karya Bayu sebelum-sebelumnya. Di lagu ini ia malah mengurangi isian instrumen gitar dan membiarkan suara piano lebih dominan.

Hal lain yang spesial dari “Panak Nyebak”, ini kali pertama Bayu merekam sendiri lagunya di rumah. “Belajar” pelan-pelan merekam, setelah jadi barulah proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Gus Bentet di Tetstupid Pro. Sedangkan penggarapan video klip ditangani I Gede Sumarjaya, dan proses editing ditangani sendiri oleh Bayu Cuaca. “Jadi ya … yang spesial di proses pembuatan karya yang lumayan mandiri dan independen. Aransemen lagu juga agak berbeda dari lagu sebelumnya, ya biar ada satu yang beda, biar ada dinamika,” demikian Bayu.

“Panak  Nyebak” menjadi single lagu berbahasa Bali ke-5 Bayu Cuaca setelah “Tunangan Langka” (2015), “Jerawat” (2016), “Ngeling Sambil Manting” (2017), dan “Batun Kolongan” (maret 2018). Penyanyi dengan ciri khas rambut panjang dan selalu tampil dengan gitar ini mengawali ketertarikannya terhadap musik dan menyanyi sejak kanak-kanak. Ketika kelas I SMP, ia sudah mulai bermain gitar. Meskipun kini lebih banyak dikenal sebagai penyanyi lagu berbahasa Bali, justru penyanyi bernama asli Bayu Juniarta ini mengawali kariernya dengan merilis album pertama berbahasa Indonesia yang berjudul “Prakiraan Cuaca” di tahun 2014.

Karena di awal kiprahnya ia sering membawakan lagu tentang prakiraan cuaca, “Hujan Deras” dan “Angin Kencang”, oleh seorang teman ia pun diberi nama Bayu Cuaca. Jika kemudian melebar ke lagu berbahasa Bali, kebetulan tahun 2015 ia menciptakan lagu “Tunangan Langka” yang mengalir begitu saja. Siapa sangka lagu ini menjadi hits dan sudah disaksikan lebih dari 3 juta viewer di channel Youtube. Lagu-lagu Bayu lainnya juga mendapat sambutan bagus di kalangan penggemar lagu berbahasa Bali. (231)