“Sisakan Aku”, Pesan Supersoda Sebelum Rilis Album

SSoda1

Supersoda

KETIKA beberapa kali muncul di sejumlah acara, Windu sang vokalis “meledek” sendiri bandnya dengan mengatakan Supersoda sebagai band yang tak hanya irit dalam karya juga minim kesibukan manggung. Tapi rupanya itu hanya seloroh saja, karena ternyata belakangan Supersoda mulai “sibuk” manggung lagi. Bahkan diam-diam mereka tengah menyiapkan peluncuran album self-titled dalam waktu dekat.

Sebagai pemanasan, semacam “pesan”, Supersoda baru saja melepas satu single yang diberi judul “Sisakan Aku”. Seperti makna judulnya, single yang bercerita tentang bagaimana mengenang semua hal yang berarti di masa lalu ini seakan berpesan kepada penikmat musik, “sisakan” waktu dan kesempatan untuk menyimak album Supersoda nantinya. Satu album yang konon terinspirasi dari indie-pop, rock, dan folk.

“Di lagu Sisakan Aku ini kami menyampaikan bagaimana mengenang kembali simbiosis atau silaturahmi di masa lalu, karena saat ini tentulah sudah banyak hal-hal yang berlalu dari hidup kita. Lagu ini bisa diinterpretasikan secara multidimensional. Bisa berupa kenangan dengan orang-orang yang berarti dalam hidup kita, bisa juga hubungan manusia dengan alam sekitar,” papar Windu.

Menariknya, sebagai bocoran materi album Supersoda nantinya, lagu “Sisakan Aku” yang bernuansa rock, diselingi oleh aroma dream-pop yang sarat dengan bebunyian synth dan piano, minus instrumen gitar. menunjukkan bagaimana lagu ini digarap minus instrumen gitar. Ketiadaan gitar ini kemudian justru memicunya untuk mengeksplorasi elemen-elemen yang berasal dari keyboard, pun instrumen virtual yang berasal dari komputer dan iPad.

Bagi Windu dan kawan-kawan, semangat untuk merampungkan album jelas merupakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan mungkin terlintas dalam pemikiran penikmat musik, untuk band yang sudah “lunglai” bertahun-tahun, menyelesaikan album tentulah terdengar hampir mustahil. Butuh keberanian ekstra untuk membangun kembali motivasi, waktu dan tenaga. “Dan kami ingin menyelesaikan apa yang kami mulai. Kendala tiap hari pasti ada, tapi obatnya ya cuma kemauan,” tegas Gusdek, sang drummer.

Ya, Supersoda memang berjuang keras untuk satu mimpi menghasilkan album rekaman. Tentu dengan dukungan teman-teman yang bersedia membantu, baik teknis maupun support moral, seperti Deny Surya, Ardy Bolank, Ian J. Stevenson, dan lainnya. Menariknya, selesai proses rekaman, sang bassist, David memilih untuk mengejar kariernya sebagai musisi profesional lintas benua. Posisinya segera digantikan Dimas Natsir, yang sebelumnya dikenal sebagai bassist band Caroline, dan juga kerap mendukung Morelia.

Di kancah musik di Bali, Supersoda sebenarnya terbilang sudah cukup lama. Tahun ini Supersoda sudah memasuki masa 11 tahun lebih. Hanya saja memang, aktivitas band ini justru terbilang sangat minim. Bahkan hanya pada kesempatan tertentu saja penikmat musik bisa “beruntung” menyaksikan penampilan mereka. Single pertama mereka “Kenari” yang diunggah ke soundcloud.com awal 2014 silam, memperoleh hampir 300 ribu hits. Dilihat para punggawanya, tak bisa dipandang remeh pula, mereka tiga musisi yang terbilang mumpuni di bidangnya, Windu (vokal, keyboard), David (bass) yang kini digantikan Dimas Natsir, dan Gusdek (drum). Meski sempat “hibernasi” dua tahunan, semangat mereka tetap tinggi untuk menjaga agar Supersoda tetap ada. Kini saatnya pembuktian itu. (231)

SSoda2