“Napak Pertiwi”, Jejak Langkah Baru Sineas Muda Bali

Napak2

Adegan film “Napak Pertiwi, a Land to Remember”

DALAM beberapa kurun waktu terakhir, geliat sineas muda Bali kian terasa. Terlebih setelah Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memiliki jurusan sinematografi, makin banyak karya-karya yang muncul. Karya itu tak lagi hanya film pendek, film dokumenter, namun sudah mulai mengarah ke film cerita yang diproyeksikan tayang di bioskop. Salah satunya adalah “Napak Pertiwi” yang akan diputar di bioskop di Denpasar mulai 22 Agustus mendatang.

Munculnya “Napak Pertiwi” garapan IB Harikayana Putra sebagai tugas akhir mahasiswa program studi S2 menambah deretan film lokal yang “uji coba” tayang untuk umum di bioskop, setelah “Janggan”, “Menarung Jiwani”, “Leak”, juga “Nyungsang”. Meskipun untuk bisa menikmati film-film ini di layar lebar bioskop menelan biaya cukup tinggi, hingga akhirnya harga tiket pun dipatok cukup tinggi, 100 ribu rupiah untuk satu orang.

Mempertanyakan kenapa harga tiket bisa semahal itu, secara hitung-hitungan biaya booking gedung bioskop dan biaya-biaya lainnya terasa “masuk akal”. Walau kemudian tak selalu harga tinggi atau “mahal” sebanding dengan kualitas karya yang dinikmati, dalih untuk turut mendukung semangat berkreasi sineas lokal, oke lah, sah-sah saja. Hanya kemudian setelah beberapa kali film lokal Bali ditayangkan dengan harga tiket setinggi itu, kesan yang muncul malah film karya sineas Bali menjadi “eksklusif”, hanya bisa dinikmati sebagian kalangan saja. Sementara masih banyak pula yang mungkin sangat ingin melihat karya sineas lokal dengan cita rasa Bali, harus menahan keinginan karena harga tiket yang tak terjangkau.

Baiklah, kita tidak akan memperpanjang polemik soal mengapa film produksi lokal Bali harus ditebus cukup mahal dan terkesan eksklusif. Kali ini rasanya lebih menarik untuk membicarakan bagaimana “Napak Pertiwi, a Land To Remember” mencoba memberi kesan beda dari dua film lokal beredar sebelumnya, yang sama-sama masih suka bermain di genre horror. Kesan sebagai film drama keluarga yang pada beberapa bagian cukup menyentuh emosi.

Film ini diangkat berdasarkan puisi berjudul sama “Napak Pertiwi” karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta yang dibuat untuk karibnya, I Putu Sudiana ‘Bonuz’, pelukis yang sukses dan kemudian kembali mengabdi untuk tanah leluhurnya di Nusa Penida. Meskipun berdasarkan sebagian riwayat hidup, kisah nyata Putu Bonuz, “Napak Pertiwi” bukanlah film biografi. Lebih tepatnya disebut sebagai  movie based on a true story. Ya, karena cukup banyak pengembangan dan bumbu-bumbu yang dimasukkan untuk menjadikan karya ini menarik dinikmati.

Adalah Putu Karang (diperankan Putu Arya), siswa SMP dari Nusa Penida yang tinggal bersama neneknya, setelah ditinggal transmigrasi oleh kedua orangtuanya. Putu yang suka menggambar dan corat-coret benar-benar menjadi sebatang kara sepeninggal sang nenek yang sakit-sakitan. Sementara sang paman tak sudi menerima kehadirannya, bahkan cenderung mengabaikan Putu. Babak baru kehidupan Putu dimulai saat ia sekolah di SMSR, Batubulan. Putu Karang muda diperankan oleh Komang Mahendra. Hobi melukisnya makin kelihatan. Sembari membantu pekerjaan pemilik warung di depan sekolah, ia pun mencoba menawarkan lukisannya ke mana-mana.

Pertemuan Putu dengan seorang dara bernama Ayu (diperankan Yessy Diana) berbuah kisah asmara. Walau Pak Karta, ayah Ayu yang pemilik galeri lukisan berusaha menjodohkan Ayu dengan pria lain. Nekad, Ayu malah memutuskan kabur dari rumah dan memutuskan membina keluarga dengan Putu. Sementara perjuangan Putu untuk menjadi pelukis kian berbuah manis. Namun meskipun sudah mulai mapan menjadi seorang pelukis, tetap saja jiwanya tertambat di kampung halamannya, Nusa Penida. Untuk tokoh Putu dewasa diperankan langsung oleh Putu Bonus.

Dari alur cerita, “Napak Pertiwi” boleh dibilang mengalir lancar. Walau pada beberapa bagian cerita, konfilk tokohnya bisa dikembangkan dan dikemas lebih menarik lagi. Dialog yang pada beberapa bagian terutama di awal menggunakan bahasa asli Nusa, menjadi daya tarik tersendiri. Pun para pemerannya yang berusaha berakting sewajar mungkin. Lain dari itu, lagu tema film ini yang digarap khusus oleh Phaii (eks. Band RPSG yang kini menggerakan grup Kroncong Djantjoek) menjadi daya tarik, nilai tambah tersendiri.

Apakah “Napak Pertiwi” kemudian selain sebagai satu tontonan yang menghibur juga sepenuhnya berhasil secara teknis? Kalau soal ini, mau tak mau harus diakui, “Napak Pertiwi” masih menyisakan sejumlah “catatan”. Opening dan bagian awal yang baik dengan kualitas gambar yang okelah, makin belakang makin lemah. Gambar yang tidak konsisten hingga tone warna yang berubah-ubah cukup mengganggu kenikmatan menonton. Pun transisi adegan demi adegan yang terkesan buru-buru.

Namun demikian sekali lagi, keberanian dan upaya untuk menampilkan satu karya ke hadapan publik patut diacungi jempol. Setidaknya karya seperti “Napak Pertiwi” membuka mata masyarakat luas, Bali memiliki bakat-bakat sineas yang potensial. Memberi ruang untuk karya seperti ini tentunya dapat menumbuhkan harapan ke depannya muncul sineas Bali dengan karya yang lebih baik dan lebih baik lagi ke depannya. Munculnya “Napak Pertiwi” menjadi semacam jejak langkah baru sineas muda Bali. *adnyana231

napak1

“Napak Pertiwi”, Jejak Langkah Baru Sineas Muda Bali

Napak3