Balawan Rilis BGO dan Album untuk Istri

Bal3ADAKAH pasangan musisi atau penyanyi yang merilis album rekaman dan menggelar acara peluncuran secara bersamaan? Kiranya baru terjadi kali ini, ketika gitaris sekaligus penyanyi Wayan Balawan memperkenalkan dua rekaman dalam format CD audio sekaligus. Yang satu adalah album instrumental dengan nama Bali Gamelan Orchestra (BGO), dan satunya lagi adalah album keroncong jazz yang menampilkan Mustikara, belahan hati Balawan.

Menandai beredarnya kedua album tersebut, Balawan dan Mustikara menggelar syukuran sekaligus showcase memperkenalkan beberapa lagu dari rekaman itu di Colony Hub, Plaza Renon, Minggu (29/7). Kalangan media, penikmat musik, serta anak didik Balawan di Balawan Music Training Centre beserta keluarga turut hadir sebagai wujud apresiasi.

Balawan menjelaskan, album “Mustikara Batuan Ethnic Fusion”, yang diedarkan oleh Gema Nada Pratiwi (GNP) sudah mulai beredar di Jepang beberapa hari sebelumnya dan mendapatkan respons yang cukup bagus. Di album ini, ia bersama “pasukan” Batuhan Ethnic Fusion mencoba menampilkan ramuan musik keroncong dengan kemasan berbeda. Bahkan untuk itu sebelumnya ia tak mau mendengarkan musik keroncong yang sudah ada sebelumnya, semata-mata hanya untuk menghasilkan satu garapan yang fresh tanpa terpengaruh oleh karya yang sudah ada.

Jadilah satu album yang memuat beragam lagu mulai dari lagu daerah Bali seperti “Don Dapdape”, “Juru Pencar”, lagu keroncong monumental seperti “Keroncong Kemayoran”, “Bengawan Solo” (Gesang), “Selendang Sutra” dan “Rayuan Pulau Kelapa” (Ismail Marzuki, termasuk dua lagu  “Manyi Padi” dan “You Make Me Happy” ciptaan Balawan.

Soal munculnya sang istri, Mustikara, Balawan mengatakan tak mudah untuk mewujudkan ini. Bahkan butuh waktu cukup panjang, hampir 6 tahun untuk membujuk dan meyakinkan agar sang nyonya mau rekaman. Jika Balawan berkeyakinan kuat dan ingin sang istri yang menyanyi, bukanlah bentuk kolusi dan tentu ada pertimbangan kuat.

“Dia sebetulnya sudah lama juga menyanyi, bahkan dulu ia sudah sering menyanyi keroncong di TVRI. Kalau kemudian cukup susah membujuknya untuk mau rekaman, ya karena dia paham betul bagaimana agar tak muncul anggapan mentang-mentang istrinya Balawan mudah rekaman,” jelas Balawan.

Lain dari itu, munculnya album Bali Gamelan Orchestra, menurut Balawan adalah project baru yang berbeda konsep dan orientasi dengan Batuan Ethnic Fusion (BTE). Jika di BTE lebih dominan instrument musik modern, sebaliknya di BGO justru lebih banyak menggunakan musik tradisional. Unsur musik modern hanya diwakili oleh gitar bass dan gitar melodi yang juga difungsikan sebagai gangsa.

“Kalau Bali Gamelan Orchestra mengusung gong kebyar, pemainnya mencapai 20 orang. Di sini memakai konsep gamelan Semar Pagulingan saih pitu, sehingga kalau misalnya tampil, dimainkan selama satu jam atau lebih mungkin terkesan monoton,” jelasnya.

Namun demikian diakui, ada satu alasan kuat untuk mewujudkan rekaman BGO. Salah satunya agar anak-anak dan generasi muda sekarang tetap mengenal dan bisa suka, memainkan gamelan Bali. Salah satunya dengan memberi pemahaman, edukasi kalau gamelan juga bisa dieksplorasi lebih luas dan ditampilkan secara  berbeda.

Menariknya, sebelum rekaman, rata-rata komposisi di album “Bali Gamelan Orchestra 1st Edition” sudah sering dimainkan dalam penampilan Balawan dan teman-teman. “Jadi kami bisa tahu bagaimana respons penonton, ini bagus nggak, pas nggak dimainkan,” kilah Balawan.

Alhasil, jadilah BGO menampilkan 10 komposisi menarik dan unik dengan judul antara lain “Forest”, “Baang Tiang Ngigel” “Mie Goreng”, “Ri ri Memeri”, “Katak Dongkang”, “Take and Give”, hingga “Klee Nyakcak Nok”. (231)

Bal1

Balawan dan Mustikara, memperkenalkan album keroncong jazz