32 Suku Nusantara dan Luar Negeri Hadiri “Indigenous Celebration 2018”

indi1

Penggagas acara Indigenous Celebration, Emanuella Shinta (tengah) bersama David Metcalgf (nomor dua dari kanan) bersama Anom Darsana dari Antida (paling kanan) serta perwakilan pengisi acara saat jumpa pers Senin (7/5)

SATU lagi acara budaya yang keren digelar di Bali. Bertempat di Agung Rai Museum (Arma) Ubud, 11-13 Mei mendatang bakal dilangsungkan helatan Indigenous Celebration 2018. Bukan sekadar acara budaya, yang istimewa karena ini menjadi ajang pertama yang mempertemukan suku-suku asli yang mengakar di Indonesia juga sejumlah Negara dari luar negeri. Selama tiga hari mereka akan melebur dalam acara seminar, workshop yang membahas mengenai kearifan lokal, juga pentas seni tari dan musik.

Menurut David Metcalf sebagai salah satu penggagas acara, Bali sebagai sebuah pulau sakral juga jantung budaya di Indonesia, menjadi tempat yang sangat ideal untuk perayaan yang melibatkan lebih dari 20 kelompok masyarakat adat yang beragam dari Indonesia. Tak hanya itu, suku-suku lain dari berbagai belahan negara seperti Suku Aborigin dari Australia, Suku Maori dari Selandia Baru dan Nagaland dari India juga turut memberi warna untuk acara istimewa ini.

Total penampil yang akan berpartisipasi adalah 32 kelompok suku yang berbeda dari 7 negara. Penari adat, musisi tradisional, penutur kisah budaya, sesepuh adat, dan pemimpin pemuda adat akan berbagi cerita dan pengalaman serta kearifan lokal dari budayanya masing-masing. Gelaran ini digagas Yayasan Ranu Welum, sebuah organisasi yang berbasis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang berdiri untuk budaya, kemanusiaan, lingkungan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Menurut Emmanuela Shinta, seorang perempuan Dayak yang merupakan pendiri yayasan juga salah satu penggagas acara, mengatakan, Indigenous Celebratuon menjadi satu kesempatan untuk menghormati budaya yang kita warisi dari nenek moyang, sekaligus untuk merayakan identitas sebagai orang asli dari tanah Nusantara dengan  semua karunia yang dimiliki.

“Ada tujuh kelompok seni budaya Dayak yang akan hadir di acara ini. Saya sangat bangga bahwa orang Dayak, yang dulunya sering disebut sebagai ‘orang hutan’ atau ‘pemburu kepala yang mengerikan’, sekarang memimpin kegerakan pemuda adat agar bisa diakui oleh negara ini dan khayalak Internasional. Inilah saatnya untuk memberi ruang bagi masyarakat adat agar bisa diterima bukan hanya dengan keindahan budaya kami namun juga segala permasalahan dan perjuangan kami,” ujarnya Shinta saat  temu wartawan di Kubu Kopi, Denpasar, Senin (7/5).

Sementara itu David Metcalf menambahkan, melalui acara ini ia berharap bisa menggabungkan pemuda dengan yang “mereka yang bijak”,  para leluhur, generasi tua yang memiliki begitu banyak hikmat dan pengetahuan namun seringkali terkubur jauh dan mungkin akan hilang selamanya. “Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Saya hanyalah seorang warga asing yang ingin melihat lebih banyak pemimpin pemuda adat bangkit dengan kekuatan penuh untuk membangun komunitas mereka dan melestarikan budaya mereka. Acara ini adalah milik mereka,”  katanya.

Selama tiga hari acara, lebih dari 200 seniman dan penampil budaya akan hadir dan berbagi panggung. Beberapa be rasal dari sungai, desa dan masyarakat lokal. Sebagian besar bahkan belum pernah datang ke Bali sebelumnya. Menjadi satu kebanggaan juga bagi Antida Music Productions dapat terlibat sebagai pelaksana acara. “Antida Music Productions ada di sini untuk membuat acara ini sukses karena kami mendukung budaya dan adat Kalimantan dan ingin bersama membangun dan mengembangkan budaya Nusantar,“ ujar Anom Darsana atau yang biasa disapa Gung Anom dari  Antida.

Ditambahkan, seperti juga kegiatan sebelum-sebelumnya, untuk menata panggung dan tempat acara, Antida melibatkan komunitas anak muda di bidang arsitek dan desain. “Kali ini untuk Indigenous Celebration kami menggandeng arsitek muda potensial, Pasek Darmawaysya,” demikian Gung Anom.

Untuk mengikuti acara, panitia menentukan harga tiket untuk penampilan di malam perayaan mulai dari Rp 350.000. Tiket untuk tiga hari sekaligus dapat dibeli mulai dari harga Rp. 900.000, dengan potongan setengah harga bagi siswa dan gratis bagi anak di bawah usia 12 tahun. Sebagai acara ini adalah acara nirlaba, dan uang yang tersisa dari penjualan tiket dan sponsor akan disumbangkan ke Yayasan dan badan amal Indonesia yang berdedikasi untuk melestarikan budaya dan lingkungan komunitas adat.  Salah satunya, dari tiap tiket yang terjual, akan disisihkan untuk menyumbang penanaman satu pohon di Kalimantan. (*/231)

indi2indi3