D’go : Penyanyi Bali harus Punya Karakter Sendiri

Vaspa

D’go dan Tika Dewi persembahkan lagu “Tresna Kanti Mati”

MAKIN maraknya musik pop Bali beberapa waktu terakhir, tampaknya menggelitik ide kreatif D’go. Cukup lama tidak aktif, pria yang sempat nge-band bersama Reload dan Awatara lebih dari 10 tahun silam ini akhirnya memutuskan untuk terjun lagi ke dunia musik. Kali ini memilih bersolo karier, D’go sudah siap merilis satu single berjudul “Tresna Kanti Mati”. Untuk pertama kali, video klipnya akan diluncurkan Rabu (7/2) besok di café Vaspa, Denpasar.

“Lagu ini sebenarnya sudah ada, sudah saya ciptakan setahun lalu. Sempat dibawakan oleh band RPSG dan lumayan sukses, cuma saya merasa hasilnya tak seperti bayangan saya ketika menggarap lagu ini. Karenanya saya bawakan sendiri dan direkam ulang dengan warna musik berbeda, lebih simpel, lebih catchy, yang mungkin coraknya belum ada pada lagu-lagu Bali sebelumnya,” ujar D’go kepada awak media di Denpasar, Senin (5/2) lalu.

Untuk menghidupkan “Tresna Kanti Mati”, D’go mengajak duet Tika Dewi. Jika di kebanyakan duet penyanyi wanitanya memainkan nada tinggi sedangkan penyanyi pria mengambil overtune, kali ini D’go mencoba mengikuti nada tinggi teman duetnya. Sedikit banyak ada kesan atau nuansa rock dalam balutan musik pop yang disuguhkan dalam lagu tentang kesetiaan cinta ini.

“Saya ingin tampil dengan karakter sendiri. Dalam pandangan saya, penyanyi pop Bali harus memiliki dan kuat dengan karakter sendiri. Leeyonk Sinatra ya biarlah Leeyonk Sinatra saja, Motifora biarlah Motifora, Jun Bintang biarlah Jun Bintang saja, yang lain tak perlu ngikut atau meniru, nanti sama semua dong. Jadilah penyanyi dengan corak sendiri, bukan meniru gaya mereka yang sudah ada. Dengan demikian musik Bali akan makin berwarna dan makin eksis,” tegas D’go.

Untuk lagu “Tresna Kanti Mati” sendiri, D’go mengaku mencoba mengikuti selera pasar yang masih menggandrungi lagu bertema cinta yang easy listening, mudah pula untuk dinyanyikan bersama. Walau mengikuti trend, D’go sekali lagi menegaskan tak menghilangkan idealismenya dalam berkarya.

“Yang saya kejar bukan popularitas. Saya hanya ingin berkarya sesuai hati nurani, karakter saya sendiri, dan mencoba menyuguhkan musik yang berkualitas. Kalau kemudian nanti banyak yang suka, ya bagus dong, karena berarti makin banyak yang paham bagaimana menikmati satu karya karena kualitas yang ditawarkan, bukan semata karena ikut-ikutan suka,” ujar pria kelahiran Kintamani ini.

Selain meluncurkan “Tresna Kanti Mati”, D’go juga sudah menyiapkan satu lagu lainnya “Tusing Gelah Adi” sebagai pendamping. Rilis dua lagu ini menjadi semacam ‘pemanasan’ baginya, sebelum mulai serius menggarap satu album yang direncanakan rampung dan bisa edar November tahun ini. (231)