“Tresna Arta”, Salam Perkenalan dari Nadatonik

Junk (2)

Grup musik Nadatonik

BAGI Junkmayun, menyanyi dan bermusik adalah hobi yang sangat menyenangkan. Bahkan sejak kecil ia sudah berani menunjukkan bakatnya dengan mengikuti sejumlah perlombaan menyanyi solo, khususnya membawakan lagu pop Bali. Hingga dewasa hobinya ini berlanjut, walau sempat terhenti karena kesibukan pekerjaan. Seakan sudah menjadi impian sejak lama pula, baru sekarang ini niat Junkmayun untuk rekaman kesampaian.

Ya, bersama rekan-rekannya di grup Nadatonik, Junkmayun baru saja memperkenalkan single pertamanya “Tresna Arta”. Lagu ini diciptakannya 2016 lalu, inspirasinya dari lingkungan sekitar dan pengalaman pribadi teman-teman.  “Saya baru kembali aktif bermusik sejak 2016, saya kembali menekuni musik karena saya rasa jiwa saya memang di musiklah jiwa saya. Lagu Tresna Arta saya garap bersama band, di bawah manajemen studio musik Bront ,” terang Junkmayun kepada mybalimusic.com.

Meskipun berharap karya perdananya diterima penggemar lagu Bali, Junkmayun mengaku tak ada target khusus. Baginya yang penting berkarya dan tetap berusaha menjadi yang terbaik serta terus bisa berkarya.  Sebagai salam perkenalan dari Nadatonik, single “Tresna Arta” sudah mulai diperdengarkan ke publik dalam satu acara di Canggu, 29 Januari lalu. Selanjutnya, Nadatonik juga akan menggelar acara peluncuran selanjutnya di Stel Peleng Café, 2 Februari dan Boshe VVIP 6  Maret mendatang.

Nadatonik mulai dirintis sejak sekitar 4 tahun lalu, hanya saja awalnya belum memakai nama Nadatonik, dan Junkmayun belum bergabung. Hingga 2017 lalu, teman satu sekolah yang menjadi drummer di band tersebut mengajak Junkmayun bergabung. Kebetulan ia sendiri masih bersolo karier, hingga kesempatan bergabung di band menjadi pengalaman pertama baginya. Sejak itulah tercetus nama Nadatonik, dengan formasi band Junkmayun (vokal), Giovani (gitar ritem), Koko (gitar melodi), Ajunk Aditya (bass), dan Wahyu (drum).

“Meskipun dari latar belakang berbeda, dalam bermusik kami tak mempersoalkan perbedaan. Begitu juga walau sebagai grup pendatang baru, kami tak merasa harus bersaing dengan yang lain. Kami sama-sama penikmat musik,  jadi tidak ada persaingan dalam bermusik,  karena musik itu bukan untuk ajang kompetisi. Musik untuk kita dengar dinikmati. Selebihnya kami serahkan ke masyarakat yang akan menilai bagaimana permainan dan karakter grup kami,” jelas Junkmayun sembari berharap ke depannya dapat terus berkarya dan merilis lagu lainnya. (231)