Lagu Berbahasa Inggris untuk Pasar Lebih Luas

Mid1

Band pop punk Midday in Madness

MOMEN akhir tahun banyak dimanfaatkan oleh penyanyi atau grup band untuk merilis karya. Termasuk di antaranya band indie Midday in Madness. Band yang memastikan diri sebagai pengusung musik pop punk ini baru saja merilis single pertama sekaligus satu video klip mereka yang berjudul “Take the Change”.

Kepada wartawan di Denpasar, Rabu (28/12), Arga, gitaris grup ini menjelaskan keputusan untuk melepas single terlebih dahulu, sebagai salah satu strategi untuk mengetahui respons penikmat musik sekaligus menjaring masukan, sebelum merilis rekaman yang lebih banyak lagi. Midday in Madness sendiri punya rencana merilis EP atau mini album di pertengahan tahun 2018. Jika kemudian mereka lebih cenderung menyodorkan lagu berbahasa Inggris terlebih dahulu, menurut Arya tak lepas dari strategi mencapai pasar yang lebih luas.

“Seperti kebanyakan band lain, kami juga akan mengunggah video klip Take This Change melalui media online seperti Youtube. Kenapa memakai lagu berbahasa Inggris, karena untuk awal ini kami inginnya tak hanya penikmat musik di Bali dan Indonesia yang memahami isi lagu kami, tetapi juga dari luar. Kami ingin memperluas pasar, bahkan juga punya mimpi satu saat bisa tampil di luar,” tambah Arga.

Menarik, karena sesungguhnya grup ini terbentuk sudah cukup lama, pun untuk video klip yang baru diperkenalkan ke publik sudah mulai digarap medio awal 2017. Apa yang membuat mereka melewati cukup banyak waktu sebelum menunjukkan “Take The Change” — yang juga didukung Bayu Pramasuta, vokalis band Hurt Me One More Time — ke publik?

“Ada beberapa perbaikan konsep, juga penyesuaian di sana-sini, karena kami juga harus mengakomodir kepentingan sejumlah pihak yang turut mendukung pembuatan video klip ini,” ujar Arga, sang gitaris kepada wartawan di Denpasar, Rabu (28/12) lalu.

Di sisi lain, bergabung dan menyanyikan lagu beraliran pop punk menjadi pengalaman sekaligus tantangan baru bagi Arin, vokalis Midday in Madness. Sedari awal dibentuk, band ini memang sudah menggunakan vokalis perempuan. Selama tujuh tahun terbentuk, band ini sudah lima kali berganti vokalis. Masuknya Arin tentu memerlukan banyak penyesuaian karena sebelumnya ia lebih banyak menyanyi untuk lagu pop. Bahkan menurut Arya, di awal-awal bergabung, masih agak sulit bagi Arin untuk meninggalkan gaya dan kesan sebagai penyanyi pop. Untunglah makin lama Arin makin terbiasa dan merasa enjoy  menjadi vokalis band pop punk.

“Tantangannya di band pop punk beda, karena bukan hanya vokalis yang muncul dan dominan, tapi bagaimana semua personel bisa nge-blend dan menyatu sebagai satu grup,” ujarnya.

Midday inMadness didukung personel dengan beragam latar belakang profesi dari mahasiswa hingga pegawai bank. Selain Arga sebagai gitaris dan Arin sebagai vokalis, formasi lain band ini adalah Hendra (bass), Angga (drum), dan Nata (synthesizer). Awal terbentuk 2010, band ini sempat memainkan musik pop dan menggunakan nama Time to Dust. Barulah 2012 mereka memutuskan memakai nama Midday in Madness. Di kalangan komunitas band indie Bali khususnya Denpasar dan sekitarnya, band yang cenderung memposisikan diri sebagai band dewasa ini sudah cukup dikenal dengan kesempatan tampil cukup sering di berbagai acara. Saat ini mereka fokus untuk mempromosikan single “Take This Change”. (231)

Mid2

Midday in Madness