Ketika “Leak” Serba Nanggung

Le2

Adegan film “Leak”

MENDUKUNG dan menghargai kreativitas potensi lokal, bagi saya perlu, sangat perlu malah. Maka ketika mendengar kabar ada pegiat seni di Bali menggarap satu film berjudul “Leak” dengan target penayangan di bioskop, bagi saya sangat menarik. Terlebih lagi kemudian sebagian pemainnya adalah musisi dan penyanyi Bali yang notabene kawan, tak ada alasan untuk menahan rasa ingin tahu akan seperti apa filmnya.

Ekspektasi saya cukup tinggi. Pertama, film yang disutradarai dan ceritanya dituls Mimi Jegon ini mengangkat tema yang sangat popular, tentang Leak yang sering disebut ilmu hitam. Saya jadi teringat ketika masih kanak-kanak ada film nasional berjudul “Musnahnya Ilmu Leak”, dan masih ingat betul seramnya film itu, meskipun kalau menonton sekarang teknologinya jadi sedikit terkesan kaku. Maka di era teknologi audio visual yang makin canggih saat ini, tentu ada keingintahuan akan seperti apa film “Leak” di era milenial ini.

Kedua, melihat jajaran pemainnya, mulai dari penyanyi Tika Pagraky, lalu ada Wira Krisna “Rocktober Band”, Lolot, Gek Diah, Galuh Bilen, Putra “PAF Band”, Ary Kakul, kiranya ini akan jadi film yang menarik karena multi bintang dengan penggemar masing-masing. Ketiga, promosi di medsos juga berita di media massa yang menyebut “Leak” sebagai film lokal Bali terseram yang pernah ada, atau ada pertanyaan “beranikah Anda menontonnya?” cukup ampuh mengundang rasa penasaran.

Well … ketika kesempatan mengikuti gala premiere bersama artis pendukung dan penggarap film terlewatkan, tak apalah, nonton pemutaran regular juga tak apa. Bahkan dengan harga tiket masuk yang terbilang cukup tinggi, setara dengan sekali menonton film di kelas premiere berikut sekotak popcorn dan minum, tak apalah. Hitung-hitung mendukung kreativitas anak muda Bali. Dengan semangat tinggi mulai atur waktu, siap-siap untuk “Leak”.

Dan, pertunjukan pun mulai. Ah, baru mulai kok tata suaranya jadi “mendem”, bahkan seperti menggema? Apakah mungkin ada salah set pada pengaturan tata suara di gedung? Atau ada mis antara tata suara asli pada film dengan perangkat tata suara yang ada di bioskop? Hmmm, oke., lupakan saja dulu suara yang tak nyaman. Mari simak ceritanya. Adalah Gede (diperankan Lolot) yang berniat membangkitkan, menghidupan kembali usaha keluarganya, satu kafe bernama Vaspa. Meskipun sang ayah (diperankan D’Go) yang tengah terbaring sakit bersikeras melarang, Gede didukung sang istri (diperakan Galuh Bilen) tetap nekad.

Mulailah muncul kejadian aneh. Sejumlah DJ yang dikontrak main di Vaspa hilang (tewas?) secara misterius di kolam renang vila tempat mereka menginap. Gede lalu mencari pengisi acara tetap (istilahnya brand ambassador?) untuk mengisi acara di Vaspa. Maka Tika bersama sang kekasih Wira dan temannya Putra “PAF”, Ary dan Kayun dikontrak. Kafe mulai ramai kembali. Namun teror masih berlanjut. Mulai dari mobil mogok, suara dan bayangan aneh, Tika mimpi buruk, hingga satu per satu dari mereka bertemu sosok perempuan berwajah seram yang disebut Leak. Misteri apa sebetulnya yang menyelimuti Vaspa? Ternyata semua tak lepas dari satu tragedi 20 tahun sebelumnya, yang berhubungan dengan pembantaian terhadap Trio Centil (Gek Diah dkk.) pengisi acara di Vaspa yang membuat istri bos Vaspa naik pitam karena berani menyelingkuhi uaminya. Trio Centil yang menggunakan ilmu hitam lalu mengeluarkan kutukan, dan kutukan itulah yang kini menghantui Tika dan kawan-kawan.

Ceritanya boleh juga, dan memang menarik. Namun sayang ketika diwujudkan ke dalam tayangan visual berdurasi sekitar 75 menit, cerita itu malah tak tersampaikan dengan baik. Alur cerita yang kurang mengalir dan terkesan terpatah-patah pada beberapa scene, pun plot yang tidak cukup kuat untuk menjadikannya sebagai tontonan yang mampu menahan penonton tetap betah di kursi hingga pertunjukan kelar. Hal ini juga diperparah akting dan dialog sebagian besar pemain yang masih kaku dan terkesan dipaksakan untuk jadi. Selain Tika, mungkin hanya Ary Kakul dan Astrid (sebagai dukun ilmu hitam) yang cukup pas membawakan perannya.

Pada beberapa bagian, gambar dibiarkan goyang (sepertinya kamera sedang pindah posisi saat adegan masih berlangsung). Begitu pula tata cahaya yang buruk, mengakibatkan sejumlah adegan yang sebetulnya menarik, jadi tidak dapat tersajikan dengan baik. Kesan buru-buru mengakibatkan sejumlah detil adegan terabaikan hingga kurang masuk akal. Sebut misalnya saat kilas balik 20 tahun lalu, ada adegan ketiga personel Trio Centil membawa android. Eh, memang masa yang dimaksud, berarti tahun 90-an, sudah muncul android ya? Begitu pula saat Trio Centil pamer uang hasil mereka menyanyi, menggunakan uang kertas nominal 50ribu dan 100 ribu yang berlaku saat ini.

Adegan ketika Trio Centil mencari guna-guna penglaris dan “dirajah” oleh dukun ilmu hitam yang punya ilmu Leak juga agak janggal, karena dilakukan di tepi kolam renang. Bahkan ketiga dara itu pun disuruh melukat dengan masuk ke kolam renang. Kenapa bukan di sungai, mata air, atau pancuran seperti lazimnya rangkaian kegiatan spiritual? Ending yang dibuat mengambang dengan “lenyapnya” Tika ditelan kekuatan gaib sebenarnya menarik. Sayang visualisasinya jadi ganjil, karena saat Tika berteriak karena merasa ada kekuatan tak tampak menariknya, tiga temannya yang berada tak lebih jauh dari dua meter, tetap asyik memegang lukisan yang dibakar. Setelahnya baru spontan mereka bertanya, “Tika mana?” Ah, lucu juga.

Akhirnya menunggu sampai film berakhir, bayangan saya akan “Leak” sebagai film horor yang seram sama sekali tak sampai. Alih-alih menjadi film terseram yang akan membuat penonton menjerit atau bergidik ngeri, unsur drama ataupun humor juga tak terangkat dengan baik. Semuanya serba nanggung. Dibilang film horor bukan, drama romantis bukan, komedi pun bukan. Jadilah “Leak” kali ini terkesan serba nanggung, jauh dari ekspektasi awal saya sebelum menonton.

Terlepas dari semua itu keberanian dari Sugank Production untuk berkarya dan menyuguhkannya ke publik – tentu dengan konsekwensi siap dikritik – patut diacungi jempol. Semoga saja setelah ini akan muncul karya lain yang dipersiapkan dengan lebih matang sehingga hasilnya akan lebih baik pula.

*adnyana231

Le1

Wira Krisna dan Tika dalam salah satu adegan film “Leak”