Yang Tercecer dari Ajang SoundrenAline 2017

S10PENTAS musik tahunan SoundrenAline 2017 yang digelar di GWK, bukit Ungasan, telah usai. Selama dua hari pertunjukan, 9-10 September, tercatat lebih dari 70 band dan solois tampil di empat panggung berbeda. Dua panggung besar A Stage dan United We Loud Stage, satu panggung khusus Burst Stage, dan satu lagi di amphiteatre, yang diberi nama Slim/Refined Stage. Ada empat band luar negeri yang ambil bagian, dan tentu saja keterlibatan sejumlah musisi dari Bali sendiri dalam ajang yang kali ini mengangkat tema “United We Loud”.

Antusias publik (kiranya bukan hanya penikmat musik saja) yang datang ke SoundrenAline, tentunya juga tak hanya dari lokal Bali. Meskipun sulit dihitung secara angka, banyak penikmat musik dari luar pulau yang secara khusus datang ke Bali untuk menyaksikan acara ini. Di samping itu juga kehadiran sejumlah penonton yang secara khusus diundang oleh penyelenggara, yang diambil dari pemenang sejumlah kompetisi di beberapa kota besar di Tanah Air.

Mencermati ajang tahunan yang sudah dimulai sejak 2002 ini, ada sejumlah fakta atau fenomena yang menarik untuk dicatat. Apa saja? Berikut beberapa “yang tercecer” dari ajang SoundrenAline 2017.

S6

JADI MOMENTUM. Awalnya, SoundrenAline dipegang atau ditangani oleh Deteksi Production. Kemudian sejak 2014 beralih ke tangan Kilau Indonesia. Nah, bercermin dari ajang musik tahunan di luar negeri yang terkenal seperti Woodstock, muncul pemikiran untuk tidak lagi menggelar SoundrenAline secara berpindah-pindah. SoundrenAline diarahkan untuk menjadi agenda tahunan tetap di satu tempat, dengan jadwal yang sudah tetap pula, sehingga menjadi satu trademark.

Dengan pengalaman tiga kali berturut-turut digelar hanya di satu tempat yang sama, GWK Bali, pada pekan-pekan awal bulan September, lambat laun sudah menciptakan kesan tersendiri. Bagi penggemar tontonan musik, tiap tahun sudah bisa mengagendakan jauh-jauh hari untuk datang ke acara ini. Niat Kilau Indonesia sebagai EO untuk menjadikan SoundrenAline sebagai satu momentum, acara yang akan menjadi ‘ikon’ musik tak hanya di Indonesia namun juga secara internasional, memang masih perlu proses panjang. Namun upaya itu secara perlahan sudah mulai menunjukkan hasil.

S2MULTIGENRE. Bila di awal-awal penyelenggaraannya SoundrenAline identik dengan musik kencang yang “memekakkan” telinga, belakangan sudah jauh lebih akomodatif. Seperti SoundrenAline 2017 yang boleh dikatakan makin jelas multigenre, dengan pilihan penampil yang sangat menyesuaikan dengan apa yang sedang trend saat ini. Mungkin karena alasan itu pula, gelaran tahun ini tak begitu banyak menampilkan band besar yang bermain pop rock, namun lebih memberi porsi untuk musik elektrik.

Porsi cukup banyak untuk musik elektrik sebetulnya sudah mulai ditunjukkan pada gelaran tahun lalu, dan kali ini lebih banyak lagi memunculkan nama-nama “baru”. Hal ini dapat membawa angin segar bagi penyelenggaraan SoundrenAline, sekaligus menghindarkan kesan acara ini suguhan menunya dari tahun ke tahun itu-itu saja. Walau tak bisa dimungkiri, beberapa nama memang menjadi “langganan” tampil di SoundrenAline, tapi sangat bisa dimaklumi karena mereka memang punya basis penggemar cukup kuat dan mampu menghidupkan suasana pentas. Sebut misalnya band seperti Naif, NTRL, Andra & the Backbone, Endank Soekamti, juga /rif.

S8TAMPIL BEDA. Bagi sederetan pengisi acara baik dalam maupun luar negeri, tampil di panggung SoundrenAline masih menjadi kesempatan yang pantas mendapat catatan tersendiri. Bukan semata dilihat dari gebyar, skala acara, namun juga dari jumlah penonton. Mungkin bagi sebagian musisi yang sudah beberapa kali main di acara ini tak ada sesuatu yang istimewa, yang menjadikan mereka tampil seperti pentas-pentas lain sebelumnya. Namun demikian ada pula beberapa musisi yang mencoba tampil khusus, beda di acara ini. Sebut misalnya Rocket Rocker yang kompak tampil di atas panggung dengan pakaian snorkeling lengkap.

S7

Nanoe Biroe

BAND BALI DI TANAH SENDIRI. Tanpa bermaksud membeda-bedakan, porsi band daerah atau band dari Bali untuk tampil atau mengisi acara di SoundrenAline bisa dibilang sudah makin terakomodir. Bahkan jika dalam beberapa kali penyelenggaraan terdahulu band dari Bali hanya bisa tampil di panggung kecil, sejak gelaran lima kali penyelenggaraaan terakhir di Bali, band Bali sudah bisa mengisi panggung utama. Walau memang “jatah” tampil di awal-awal, bisa dimaklumi, tapi setidaknya cukup untuk memperkenalkan keberadaan mereka kepada penikmat musik dari luar. Memang tidak semua demikian, karena beberapa nama seperti Navicula atau Lolot malah dapat kesempatan tampil di jam-jam bagus, selepas magrib. Alhasil tampilnya band-band Bali ini cukup memberi gambaran kepada penonton dari luar, kalau Pulau Dewata banyak memiliki musisi andal dengan ragam warna yang tak kalah dibandingkan musisi Ibukota.

S3

Joni Agung & Double T

NONTON MUSIK ATAU BERWISATA? Apakah semua pengunjung yang datang ke SoundrenAline mutlak karena ingin menyaksikan dan lebih menikmati penampilan pengisi acara? Kiranya tidak juga. Tak sedikit pengunjung yang terdorong datang ke acara ini karena SoundrenAline tak hanya urusan musik, namun juga urusan kreativitas. Tata panggung dengan tata suara dan lampu dan visual yang sedemikian rupa, juga penataan tempat yang dibagi ke dalam area-area tertentu dengan desain sedemikian rupa, cukup menarik bagi pengunjung “berwisata”. Area untuk nongkrong sambil santai ngobrol, minum dan makan, belanja merchandise, selalu ramai dipenuhi pengunjung. Pun beberapa sudut tempat acara yang didekorasi dengan pernak-pernik khusus, sayang untuk dilewatkan sebagai sasaran objek swafoto. Jadilah SoundrenAline bukan hanya urusan nonton musik, tapi juga jalan-jalan. (231)

S1

Elephant Kind

S9

/rif