Rekaman untuk “Statemen”, bukan Jadi Bintang

Ayu WedaLAMA meninggalkan dunia tarik suara, tiba-tiba saja Ayu Weda muncul kembali, bahkan langsung mengeluarkan satu album rekaman baru yang diberi judul “Sudah Merenungkah Kau, Tuan?” Padahal sudah cukup lama kakak kandung penyanyi Ayu Laksmi tak bersentuhan dengan dunia rekaman, malah setahun silam ia menulis buku berjudul “Badriyah”. Apa yang mendorong, membuat wanita asal Singaraja ini semangat untuk menyanyi lagi?

“Begini, kalau saya menyanyi dan rekaman lagi, sebetulnya saya nggak pingin berkecimpung sebagai bintang. Pasca 1990, saya lebih banyak mengamati berbagai fenomena sosial. Tahun lalu saya menulis buku, karena banyak yang saya amati. Nah, jika sekarang saya menyanyi, bukan semata menyanyi, tapi ini statemen saya,” jelas Ayu Weda dalam perbincangan melalui telepon dengan mybalimusic.com, Selasa (1/8).

Untuk menyampaikan “statemen” itu, Ayu Weda memilih lagu-lagu karya Sawung Jabo, dengan rema yang beragam dari lagu sosial politik sampai tema anak-anak. Soal pilihan akan karya Jabo dan kecocokan untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan musisi dari Sirkus Barock, menurutnya bukan satu kebetulan. Ayu sudah kenal dan lama berteman dengan Jabo, sejak musisi itu sibuk dengan Kantata Takwa di Jakarta awal 90-an. Belakangan, mereka lebih sering bertemu di Jogjakarta. Ketika meluncurkan buku “Badriyah” tahun lalu, Sawung Jabo menawarkan Ayu Weda untuk rekaman lagi dan menyodorkan sejumlah lagu yang ada. Jadilah 10 lagu dipilih untuk mewakili pandangannya, sebagai statemen, bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap kondisi social politik negeri dan refleksi perjalanan batin sebagai daya ucap cinta tak terperi terhadap martabat kemanusiaan. Sebut misalnya keprihatinan akan sempitnya lahan bermain untuk anak-anak, masih adanya anak-anak yang mengemis di jalanan serta dunia imajinasi yang tergantikan oleh teknologi, yang diwakili lewat lagu “Hella Hella Hella” dan “Bocah Pelangi”. Sedangkan pada lagu“Sudah Merenungkah Kau, Tuan?” dan “Kesaksian Jalanan”, Ayu mencoba mengungkapkan kegelisahannya akan keputusan-keputusan yang tidak adil demi kepentingan politik serta penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh elite politik untuk memperkaya diri sendiri maupun kelompok. Enam lagu lainnya yakni “Duniaku”, “Melangkah Adalah ke Depan”, “Mencari dan Bertanya”, “Ada Suara Tanpa Bentuk”,”Perjalanan Masih Jauh” dan “Di Hatimu Aku Berlindung” Ayu Weda merefleksikan perjalanan batin manusia dari keadaan terpuruk hingga mampu bangkit menemukan jati dirinya serta bermuara pada kedamaian hati.

Selain Sirkus Barock, untuk rekamannya ini, Ayu Weda juga melibatkan sederetan seniman besar Tanah Air seperti Cok Sawitri, Sandrayati Fay, Trio Flowers, Eny Art Dance, Eka Putri, Eny Darmayani, dan tak terkecuali sang adik, Ayu Laksmi. Ketika masih remaja, Ayu Weda bersama dua diknya, Ayu Partiwi dan Ayu Laksmi sempat mencuat lewat Trio Ayu Sisters. Ketika ditanya apakah sekarang-sekarang ini terbersit keinginan untuk bekerjasama lagi, berkolaborasi dengan Ayu Laksmi yang belakangan sibuk bersama Svara Semesta, Ayu Weda hanya tertawa kecil.

“Soal kolaborasi lagi dengan Ayu Laksmi, bagi saya, apa saja bisa terjadi. Dalam berkarya, saya tidak mau mematok, tidak membatasi akan begini atau begitu,” tegasnya.

Ayu Weda yang memiliki nama lengkap I Gusti Ayu Made Wedayanti dilahirkan di Singaraja, 1 September 1963. Usai menamatkan pendidikannya di bangku SMA 1 Singaraja, ia melanjutkan studinya ke Universitas Airlangga dengan mengambil fokus Ilmu Sosial dan Politik. Pada era 1980’an dia tenar sebagai lady rocker, dan telah menghasilkan beberapa album. Salah satu hits-nya “Rindu Teman Sehati” diciptakan penulis lagu kenamaan Tanah Air, Adriadi. Selain menjadi seorang seniman, Ayu Weda juga dikenal sebagi pemerhati seni, sosial budaya, dan sastra. (231/*)

Ayu Weda2

Ayu Weda bersama Sawung Jabo