Tampil di Festival: Beda Suasana, Beda “Mood”

Trio
Dewa Budjana, Gilang Ramadhan, Trie Utami

BALI Blues Festival digelar lagi. Selama dua hari, 26 dan 27 Mei, puluhan musisi akan mengisi panggung pertunjukan di Peninsula Island, Nusa Dua. Sebagian di antara pengisi acara adalah nama-nama yan sudah taka sing lagi di kancah musik Tanah Air. Begitu pula, mereka terbilang musisi “langganan” beragam festival music. Sebut misalnya Gilang Ramadhan yang akan tampil dua kali, hari pertama kolaborasi dengan Balawan, dan hari kedua tampil bersama Krakatau Reunion. Begitu juga Dewa Budjana yang kali ini main bersama Eros, Baim, Tohpati, dan Baron dengan nama Six Strings. Ada pula Trie Utami yang akan main bersama Krakatau Reunion.

Lalu bagaimana kesan masing-masing musisi tersebut ketika tampil di satu festival? Apakah ada perbedaan persiapan, materi yang disuguhkan, juga mood yang dirasakan, dibandingkan saat mereka tampil dalam acara pentas biasa? Berikut komentar Dewa  Budjana, Gilang Ramadhan, dan Trie Utami.

Dewa Budjana : Sesuatu yang Beda

Tampil di acara festival atau manggung biasa, secara keseluruhan nggak ada bedanya sih. Mau main di mana saja, untuk satu pertunjukan saya harus selalu siap. Nah, kalau tampil di Bali Blues Festival, ini kan brand-nya blues, tempatnya istimewa, selain itu jarang bisa ketemu dengan musisi lain seperti ini. Ya kalau biasanya main di gedung, ini jelas sesuatu yang berbeda. Jadi tampil untuk sebuah festival yang beda karena skalanya besar, digelar rutin tahunan, pastinya beda rasanya dibandingkan dengan tampil di acara seperti pensi misalnya.

Gilang Ramadhan : Beda suasana, mood, spirit

Bagi saya tampil di festival atau pentas biasa, sama saja, saya harus professional.  Bedanya kalau acara seperti Bali Blues Festival, ya ini namanya satu festival, bisa saling ketemu antarmusisi, tampil di festival seperti ini pastinya sangat berbeda mood, suasananya. Beda misalnya kalau dengan Krakatau Reunion tampil sendiri biasanya, spirit-nya beda. Acara festival bisa ketemu dengan musisi lain, ketemu sahabat, lalu jamz session, lihat suasana penonton juga lain.

Dibandingkan kalau pertunjukan biasa penonton datang lihat pertunjukan, lalu pulang, nah ini di festival, penonton lalu lalang, ada kesan kekeuargaan yang lebih besar ketimbang hanya sebuah pertunjukan umumnya. Apalagi ada banyak booth, lihat keluarga yang datang nonton musik lagi makan, melihat suasana itu kami pun ingin ikut serta di dalamnya. Suasana itu yang harus dilihat secara keseluruhan, bukan hanya di panggung saja. Kebetulan kalau kali ini trigger-nya musik blues, kalau secara keseluruhan manfaatnya banyak, efek dominonya juga banyak.

Trie Utami : Nyanyi itu Satu “Persembahan”.

Kalau menurut saya, main di festival itu bisa ketemu banyak musisi, yang mana kalau tampil tunggal kan ngga kejadian seperti ini. Yang biasanya susah ketemu bisa ketemu, bisa ngobrol, memperpanjang persaudaraan, yang dekat makin dekat, yang  jauh bisa dekat, yang belum kenal bisa lebih mengenal. Jadi dari sisi human interest ya seperti itu. Nah, kalau dari sisi pertunjukannya, bagi saya pribadi, di mana pun saya tampil, berapapun jumlah penonton, berapapun dibayar, ketika saya menyanyi, itu adalah satu “persembahan”. Jadi tampil di acara festival atau bukan, tingkat keseriusannya sama. (231)

About the author