Kosong Satu: “Jak Makejang Menyama”

Kosong Satu

Kosong Satu band

MASIH bilang musik atau lagu berbahasa Bali lesu, atau bahkan mati suri? Nyatanya tiap saat selalu ada nama baru muncul, selalu ada karya baru tercipta. Yang ini salah satunya, Kosong Satu, yang memutuskan untuk membawakan lagu berbahasa Bali. Sebagai salam perkenalan, band yang mengusung musik bercorak pop rock ini baru saja meluncurkan single berjudul “Jak Makejang Menyama”.

Menurut sang vokalis, Andik, lagu “Jak Mekejang Menyama” menceritakan tentang pesan kekompakan sebagai mahluk sosial untuk menciptakan hidup yang harmonis. Tentunya selain pesan sosial, KosonG Satu juga berharap karya-karya yang mereka gagas dapat memberikan warna serta meramaikan blantika musik Bali.

Ketika ditanya apakah single “jak Makejang Menyama” menjadi pemanasan bagi Kosong Satu sebelum merilis album, Andik tidak mengelak. Menurutnya, lagu ini memang menjadi gebrakan awal untuk menuju proses penggarapan album yang diharapkan bisa kelar tahun ini juga.

Kosong Satu menambah panjang daftar nama band potensial dari daerah Bali Utara alias Buleleng. Grup ini didukung lima personel yang sudah bersahabat sejak kecil, Andik (vokal), Angga Pratangga (gitar), Agung Indrayana (gitar), Dedy Yastika (bass) dan Ojes (drum). Meskipun belum lama terbentuk, namun personelnya sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia musik. Sebut misalnya Angga yang merupakan gitaris blues yang pernah merasakan asam garam bermusik di Ibukota di bawah naungan label nasional. Begitu pula personel lain yang sempat membentuk band lain sebelumnya.

Soal nama Kosong Satu, konon awalnya grup ini membuat band iseng yang diberi nama Oi Band, yang dalam penampilannya kerap membawakan lagu-lagu Iwan Fals. Kebetulan pula mereka adalah bagian dari organisasi Oi Buleleng juga Oi Bali umumnya. “Setelah jalan beberapa lama, kami sepakat memutuskan untuk berkarya sendiri dan memilih nama Kosong Satu. Ini juga tidak jauh dari nama Oi band,” jelas Dedy, bassist Kosong Satu.

Soal pilihan lagu berbahasa Bali, Dedy secara sederhana menjelaskan, karena kita hidup di Bali, mengapa tidak membudayakan bahasa, memunyi Bali dan melestarikan bahasa Bali. (231)