Broken Radio Ada karena “Jengah”

Broken

Broken Radio

SETAHUN setelah rilis album “Jengah”, grup band Broken Radio kini tengah merencanakan penggarapan single baru. Jika jalan terbuka lapang, ini akan menjadi langkah bagi grup yang digawangi Shandi (vokal, gitar), Gung Ning (bass, vokal) dan Wah Alit (drum) menuju album ke-3. “Siapa tahu ada yang tertarik memproduseri kami,” ucap Shandi kepada mybalimusic.com di Denpasar, Senin (7/3).

Bukan tanpa alasan Shandi berharap banyak dari langkah yang telah ia lakukan bersama teman-teman. Di tengah banyaknya grup band yang bermunculan, Broken Radio bisa ada dan masih bertahan memang karena “jengah”. Itu pula yang membuat grup ini semangat secara swadaya merilis album ke-2 mereka yang bertajuk “Jengah” setahun silam. Secara bergerilya pula, album ini diperkenalkan kepada penikmat musik hingga beberapa lagu mendapat sambutan bagus seperti “Sederhana” dan “Ampurayang”.

 “Melalui musik kami ingin turut pengen memajukan dan melestarikan bahasa Bali hingga dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Shandi.

Meskipun saat ini ada begitu banyak band yang memainkan lagu berbahasa Bali, Broken Radio mencoba tampil berbeda dengan garapan musik yang lebih memainkan harmonisasi dan membungkusnya dengan nada-nada musik yang sederhana dan lebih dewasa.

Broken Radio yang dibentuk 25 April 2011 bermula saat Shandi mencoba menggarap lagu yang diberi judul “Beli Nu Dini’ “. Secara kebetulan ia bertemu Wah Alit yang bermain drum dan merasa cocok, hingga timbul ide membentuk grup band. Tinggal mengisi formasi bassist, dan bertemulah dengan Gung Ning yang juga sepaham. Nama Broken Radio sendiri berawal dari kata ejekan ke sang vokalis, Shandi, yang karena suaranya serak, oleh teman-teman di kampungnya dikatakan seperi suara radio rusak. Agar lebih menarik, istilah itupun dialihbahasakan menjadi Broken Radio. Hingga saat ini mereka sudah merilis dua album rekaman, “Tusing Menyerah” yang menghasilkan hits “Beli Nu Dini”, “Sing Ade Cinta”, sertas“Coba Bertahan”, dan album kedua “Jengah” (2016) yang mengedepankan lagu seperti “Kutakanafeesinyaka”, “Sederhana”, “Ampurayang”. (231)